
"Bu, beli!"
Suara teriakan terdengar dari arah warung. Sontak hal itu membuat adegan yang hampir terjadi berhenti seketika. Elina berdiri lalu berjalan ke arah warung.
"Siapa sih? Ganggu acara romantisku aja. Padahal, tinggal sedikit lagi aku bisa ngerasain," gerutu Elina. Langkahnya terlihat kesal.
Dia melongok ke dalam warung, melihat siapa yang telah mengacaukan acaranya. Wanita itu tidak mendengar jelas suara teriakan itu karena terlalu fokus pada adegannya. Jadi, dia tidak tahu siapa pemilik suara itu. Elina bertambah kesal ketika mendapati tetangga depan rumahnya di sana.
"Apa?" tanya Elina dengan wajah masam.
"Aku mau beli," jawab Evan.
"Iya, tahu. Mau beli apa? Cepetan!"
Evan berpikir dengan tangan kiri terlipat di depan dada. Sedangkan, tangan kanan menyentuh dagu.
"Eh, malah mikir. Bukannya udah tahu apa yang mau dibeli!"
"Aku lupa, tadi papa suruh beli apa. Sebentar aku ingat-ingat dulu. Kamu jangan berisik biar aku cepet ingat."
Elina diam, menunggu Evan mengatakan apa yang diinginkan. Lumayan lama juga sehingga membuat dia semakin jengkel. Berkali-kali dirinya menengok ke arah sang kekasih, memastikan bahwa pria itu tidak hilang.
"Oh, ya. Obat nyamuk," ucap Evan seketika.
"Ih, cuma obat nyamuk kok lupa," gerutu Elina. Dia segera mencarikan apa yang diminta orang tersebut.
"Ini." Elina meletakkan benda itu di atas etalase. "Rumah besar, tapi banyak nyamuknya," ledeknya. Bibirnya terangkat sebelah seraya menghembus nafas kesal.
"Iya, nih. Banyak pengganggu." Tawa renyah keluar dari mulut pria itu.
__ADS_1
"Ya udah, cepat bayar!" Tangan Elina terjulur, meminta uang kepada Evan.
Selembar uang berwarna merah pun keluar dari saku celana pria itu. Dia segera memberikannya kepada Elina.
"Cuman beli itu, uangnya segini," keluh Elina.
"Maaf, gak ada uang kecil."
"Mentang-mentang orang kaya, uang kecil aja gak punya," gerutu Elina. Dia segera mencari kembalian untuk evan. "Ini!" Ditaruhnya kembalian itu di atas etalase lalu dia segera pergi untuk menemui sang kekasih.
"Maaf, Sayang, lama. Biasa, orang itu selalu gangguin kita."
"Tetanggamu?" tanya David. Dia tahu siapa yang disebut 'orang itu' oleh Elina.
Memang, Evan sering datang dan mengganggu kencan mereka. Tak hanya kali ini, ketika di luar pun pria itu selalu muncul. Entah mondar-mandir lewat di depan mereka atau bahkan tiba-tiba duduk tak jauh dari tempat Elina dan David, seolah mengawasi pergerakan Mereka.
Elina menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan David.
"Entah. Yang penting, sekarang dia udah pergi." Elina tersipu, seolah mengisyaratkan agar David melanjutkan apa yang tertunda tadi.
Pria itu tahu apa yang kekasihnya mau. Dia meraih kembali dagu Elina lalu mendekatkan wajahnya.
"Bu, beli!"
"Uh!" Elina memukulkan tangan ke atas pahanya. "Apaan sih, dia? Kenapa ganggu lagi." Sekarang dia paham betul siapa yang teriak tadi.
"Tetanggamu lagi?"
Elina mengangguk dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Fix, dia memata-matai kita. Lebih baik aku pulang aja."
"Tapi, ...." Elina mencoba menahan kepergian David. Namun, pria itu segera menggelengkan kepala.
"Gak, Elin. Dia pasti akan gangguin kita mulu. Lagian, ini juga udah malam." David tersenyum manis. "Kamu bener-bener mau?"
Elina tersenyum tersipu mengartikan kata 'mau' yang diuacapkan David lalu mengangguk pelan.
"Oke, kalau kamu memang mau, next time gak bakal gagal." David mengusap lembut rambut Elina lalu mengecup kening wanita itu singkat.
"Bye." Dia berjalan meninggalkan halaman rumah sang kekasih.
Elina hanya melambaikan tangan merelakan kepulangan David.
"Heh!"
Goyangan tubuh menyadarkan Elina akan lamunannya. Wajah wanita itu terlihat kesal kembali.
"Kamu kenapa tadi senyum sendiri, tapi sekarang malah kelihatan kesal?" tanya bunga.
"Gak apa-apa, kok. Aku cuman kangen David."
"Kamu lupain aja dia. Mungkin dia juga udah lupain kamu. Lagian, sebentar lagi kamu nikah. Buat apa inget-inget dia terus?"
"Gak bisa gitu, Bunga. David cinta pertamaku. Gak mungkin aku ngelupain dia gitu aja."
"Terserah! Yang penting, sekarang kita kerja dulu. Udah mau mulai jam kerjanya."
Mereka pun menyudahi percapan itu. Bunga segera fokus pada perjaannya. Namun, bagaimana pun juga Elina tidak dapat fokus. Dia masih memikirkan tentang masa depannya.
__ADS_1
Bersambung.