Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 20. Sarapan Dengan Tenang


__ADS_3

Elina beberapa kali mengerjap, menyesuaikan mata dengan keadaan sekitar. Dia merasa heran, tidak seperti kemarin saat bangun tidur, kini tangan yang melingkar di atas perutnya sudah tidak ada. Dia pun segera melihat ke samping. Benar saja, Evan sudah tidak ada di tempat.


"Ke mana dia pagi-pagi gini?" tanyanya bermonolog, "ah, biarin aja."


Elina segera meninggalkan tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Dirinya terbiasa membersihkan tubuh sebelum melakukan aktivitas. Dia akan merasa segar untuk melakukan aktivitas setelah mandi. Pikirannya pun akan terasa segar.


Setelah ritual paginya selesai, Elina segera menyambar ponsel di atas nakas. Dia tak menyadari bahwa ponsel itu telah berubah posisi. Wanita itu berlalu saja pergi keluar kamar.


Saat menuruni tangga, Elina memandangi sekitar. Tak ada seorang pun yang dia temukan di sana. Begitu sepi dan hening di rumah sebesar itu. Walapun tidak seperti rumah konglomerat, tetapi menurut wanita itu besar karena melebihi rumahnya.


Ketika di ujung tangga, Elina mendengar peralatan dapur yang beradu. Kakinya tergerak berjalan menuju dapur. Di sana, terlihat Evan yang tengah sibuk membolak-balikkan sesuatu di wajan.


Elina begitu saja duduk di kursi yang mengelilingi meja makan. Dia memperhatikan bagaimana lincahnya tangan Evan dalam menggukan peralatan masak. Sungguh pemandangan langka seorang pria memasak dalam sejarah hidupnya.


Dulu, ketika masih kecil, Evan selalu memperhatikan sang nenek memasak. Karena kecerewatannya juga, dia paham betul dengan nama berbagai macam bumbu dapur. Dari situlah akhirnya pria itu suka memasak sendiri.


"Kamu udah bangun?" tanya Evan. Dalam hatinya senang ketika menyadari bahwa sang istri diam-diam telah memandangi dirinya.


Elina segera mengalihkan pandangan ke arah ponsel di tangan. Dia merasa sebal karena kepergok oleh Evan. Hatinya menggumal entah apa, tidak ada yang tahu.


Evan mendekati sang istri lalu berdiri di samping wanita itu. Tangan pria itu menyibakkan rambut yang menutupi kening wanita di hadapannya lalu dikecup dengan lembut.

__ADS_1


Elina segera mendorong tubuh Evan supaya kecupan itu terlepas. Dia sangat tidak suka dengan perlakuan itu. Menurutnya, perjanjian di antara mereka hanya sebatas memeluk, bukan mencium.


Evan hanya tersenyum diperlakukan seperti itu oleh Elina. Setidaknya, dia tadi sudah dapat mengecup kening sang pujaan hati. Jadi, menurutnya, dia telah mendapat keberuntungan yang besar.


"Udah wangi. Jadi gemes deh." Evan mencubit pipi Elina.


"Gak ada hubungannya! Sana masak lagi. Tuh, gosong masakannya!"


"Ayo, bantu aku masak!" Evan meraih tangan Elina. Namun, dengan segera wanita itu menepis tangan Evan.


"Gak, ah! Aku gak bisa masak."


"Ya udah, deh, gak apa-apa. Kamu jangan masak! Nanti tanganmu bisa terluka."


"Ayo, kita makan!" Evan menaruh masakan terakhir ke atas meja. Dirinya lalu duduk di sebelah Elina.


Bukannya Elina yang mengambilkan makan, tetapi Evanlah yang melayani wanita itu. Sesungguhnya, wanita itu ingin mengambil sarapan itu sendiri. Namun, tanpa disuruh malah sang pria berinisiatif menaruh nasi ke atas piringnya.


"Sudah cukup?" tanya Evan. Elina hanya berdehem saja karena masih fokus pada layar ponselnya.


Mereka menikmati sarapan pagi tanpa ada yang berbicara. Angga dan Evan fokus pada makanannya. Sedangkan, Elina terus saja memainkan ponsel.

__ADS_1


Angga merasa terganggu melihat tingkah Elina. Pria itu menyonggol lengan sang anak yang duduk di sebelahnya. Dagunya menunjuk kepada sang menantu setelah Evan menengok.


"Elin, kalau makan jangan main hp. Gak enak sama papa," bisik Evan.


Elina menoleh ke arah mertuanya. Benar saja, sang ayah mertua begitu tenang saat makan. Dia pun merasa tidak enak lalu meletakkan ponsel di sisi gelas.


Akhirnya, acara sarapan pagi pun selesai. Elina segera memegang ponsel tanpa meninggalkan meja makan. Namun, dia merasa ada sesuatu yang tengah memperhatikan. Ternyata Evan telah berdiri di belakangnya.


Untung aku belum ngapa-ngapain. Gimana tadi kalau udah, bisa perang dunia, batin Elina. Dia segera beranjak dari tempat itu lalu melangkah ke arah pintu keluar.


"Mau ke mana?" tanya Evan sedikit berteriak.


"Mau pulang, lah," jawab Elina santai. Dia berhenti sejenak lalu menatap Evan.


"Ini, 'kan, rumahmu?"


"Gak!"


Di sini ada mata-mata. Nanti aku gak bisa bebas chat-an sama ayangku, batin Elina. Dia kembali melangkahkan kakinya.


Namun, saat melewati ruang tamu, Elina berhenti sejenak. Dia menatap akuarium yang lumayan besar. Entah apa isinya, tak begitu jelas karena air yang sudah agak keruh. Wanita itu mencebik, setelah itu kembali berjalan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2