Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 24. Emosi


__ADS_3

Elina merasa baru saja terlelap, tetapi matanya tiba-tiba terjaga ketika mendengar suara pintu di banting. Tak berapa lama, terdengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi dan beberapa dentuman.


"Kenapa dia? Kayak marah banget," gumam Elina, "biarin aja. Gak penting."


Dia meraih ponsel di atas nakas lalu membuka aplikasi pesan yang terlihat sepi. Benar adanya, sampai tengah malam pria itu tak juga membalas. Bahkan, dibuka pun tidak pesan dari Elina.


"Kemana, sih, dia? Kenapa dari tadi gak balas pesanku?" Elina menghembuskan nafas panjang. "Sebegitu sibukkah dia?"


Tak lama kemudian, terdengar sebuah nada pemberitahuan pesak masuk. Elina bergegas membuka pesan itu.


'Maaf, Sayang.'


'Apakah masih sendiri?'


'Call sekarang, ya?'


Belum sempat Elina membalas pesan itu, Evan telah keluar dari kamar mandi. Pria itu menatap sang istri tajam. Kemarahan sungguh terpancar dari wajahnya.


Elina segera menelungkupkan ponsel ke atas bantal, takut ketahuan Evan. Dia pura-pura kembali tidur, tetapi matanya terbuka sedikit untuk melirik ke arah pria itu.


Kenapa dia? Kenapa tubuhnya penuh luka? Apa yang dilakukannya? Apakah dia berkelahi? Tapi, untuk apa?

__ADS_1


Berbagai pertanyaan melintas di benak Elina. Namun, dia enggan untuk mengutarakannya. Dirinya memilih tidak peduli, tak ingin membuat pria itu besar kepala.


Eh! Kenapa dia tidak memelukku? batin Elina. Dia pun semakin penasara lalu menoleh perlahan untuk melihat pria di belakangnya. Benar saja, kini Evan tidur dengan posisi membelakanginya juga.


Aneh banget, sih. Gak seperti biasanya, batin Elina. Dering ponsel memecah keheningan, Elina segera mengintip pada layar ponsel.


David! Aku harus bagaimana? Gak mungkin aku matiin, gak mungkin juga aku angkat.


Elina dalam kegalauan, tak tahu apa yang harus dilakukan. Sudah lumayan lama dia mengabaikan panggilan itu.


"Matikan teleponnya, berisik! Aku mau tidur!"


...****************...


Dinginnya malam, masih Elina rasakan hingga di meja makan. Evan yang diam sejak pagi, membuat dirinya jengah. Dia merasa tidak melakukan kesalahan kepada pria itu, kenapa sang pria bersikap seperti itu kepadanya. Sungguh tak bisa dimengerti.


Pulang-pulang penuh luka, terus marah-marah. Masalah dengan orang luar, marahnya sama aku. Huh, menyebalkan! batin Elina saat menuruni tangga. Bibirnya sudah maju beberapa senti. Dia pun menjadi enggan melihat wajah sang suami.


"Mau ke mana?" tanya Evan. Dia melihat Elina yang berjalan menuju pintu keluar.


Elina menghentikan langkah. "Mau ke rumah ibu," ucapnya ketus. Dia bahkan tidak menoleh ke arah Evan.

__ADS_1


"Gak makan dulu?"


Evan terdengar masih dingin, hal itu membuat Elina semakin ingin segera meninggalkan rumah itu. Dia melangkahkan kakinya lagi.


"Gak! Aku gak selera makan di sini. Makanannya dingin, buat perut sakit."


Evan semakin marah karena ucapan Elina. Dia sudah susah payah memasak, tetapi sang istri malah mengatakan hal demikian. Sungguh tidak menghargai jerih payahnya.


Dengan dada yang sudah naik turun, Evan menaiki tangga. Pria itu mengabaikan semua makanan yang ada di atas meja, bahkan yang masih di dalam panci yang baru setengah matang. Dia tidak meneruskannya dengan langsung mematikan api kompor.


"Kamu kenapa?" tanya Angga ketika bertemu sang anak di ujung tangga atas. Dia melihat wajah anak itu yang begitu suram, tidak seperti biasanya.


Evan menghentikan langkah. "Gak apa-apa, Pa," jawabnya, "oh ya, Pa. Itu yang di panci belum mateng. Kalau Papa mau, Papa bisa terusin masaknya."


"Kamu mau ke mana? Gak makan?"


Evan hanya menggelengkan kepala, kemudian berlalu meninggalkan sang ayah. Dia memasuki kamar untuk mengambil tas kerja. Tanpa menunggu lama, pria itu segera menunggangi sang kuda besi.


Beberapa kali dia sengaja mengegas motornya dengan kencang. Dia meluapkan semua emosi yang ada di dalam hati. Mungkin suara gas yang dipacu terdengar hingga rumah Elina. Dia tidak mempedulikan itu. Dalam hatinya hanya ada rasa panas yang semakin menguap.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2