
Suara nyaring teriakan membuyarkan lamunan Evan. Pria itu jatuh terduduk kebelakang. Kedua tangan menyentuh lantai, menopang tubuh agar kepalanya tidak membentur lantai.
Elina semakin histeris, kedua tangan menutup mata. Namun, wajahnya masih menghadap ke arah Evan. Tampak mata wanita itu mengintip dari sela-sela jari, penasaran juga dengan apa yang ada di hadapannya.
Benda di antara kaki Evan, membuat Elina menelan saliva. Baru pertama kali wanita tersebut melihat penampakkan seperti itu. Bentuknya sangat aneh, kecil dan mengkerut.
Handuk Evan tersingkap, lalu lepas ketika dia kaget tadi. Tentu saja benda kesayangannya itu terekspos bebas tanpa ada penghalang. Bukan salah Elina yang melihatnya, tetapi salah dia sendiri kenapa masih menggunakan handuk sejak tadi.
"Ah, mataku ternoda!" teriak Elina.
Evan segera berdiri, membenarkan handuk yang sempat terlepas tadi. Mukanya merah padam, mengetahui bahwa Elina mengintip dari sela-sela jari. Walaupun sudah menjadi suami-istri, tetapi baru kali ini tubuh polosnya dilihat oleh sang istri.
"Siapa suruh ngintip. Lagian, kita, 'kan, suami-istri, gak masalah kalau kamu lihat punyaku."
Namun, tiba-tiba senyum seringai tampak di wajah pria itu.
"Kamu mau lihat lagi?" Evan mendekat ke arah Elina. "Nih," godanya. Tangan pria itu meraih ujung handuk, seperti hendak membukanya.
Beberapa detik yang lalu, dia merasa malu. Namun, setelah dipikir-pikir, buat apa malu. Lagi pula, mereka sudah muhrim. Tak masalah jika melihat bagian tubuh satu sama lain.
Elina segera melepas tangan dari wajahnya. Dia mendorong tubuh Evan supaya menjauh. Bayangan tentang benda itu terus saja melintas dalam pikirannya.
__ADS_1
Namun, pria itu tak menghiraukan sang istri. Dia terus saja berusaha untuk mendekat. Evan semakin bahagia ketika melihat Elina yang terus saja memberontak.
"Apaan sih, Mas Evan? Cepat sana pergi!" teriak Elina seraya menggelengkan kepala. Dia merasa geli sendiri saat Evan terus saja mendorong bagian bawahnya ke arah Elina. Posisinya yang masih berbaring, membuat pandangan tepat pada benda itu.
Evan pun semakin tersenyum lebar. Inilah hal paling dia sukai, melihat Elina manyun dan mengomel. Suara wanita itu membawa kebahagiaan tersendiri di hatinya.
"'Kan, aku suamimu. Gak apalah kamu lihat," ucap Evan, "mau sentuh juga boleh."
Evan meraih tangan Elina. Dengan senyum yang mengembang, dia berusaha menggiring tangan itu ke arah benda pusakanya.
"Aa! Jangan!"
"Ah."
...****************...
Harum masakan menyebar ke seluruh dapur kediaman Baskoro. Suara alat masak yang beradu pun terdengar jelas. Evan sedang membuat sarapan pagi ini. Menu spesial dia sajikan karena hatinya kini sedang bahagia.
"Mana Elina? Kenapa belum turun?" tanya Angga. Dia duduk di kursi utama tempat makan.
"Gak tahu, Yah." Evan menaruh masakan terakhirnya ke atas meja. "Coba aku lihat dulu."
__ADS_1
Evan segera meniti anak tangga untuk menuju kamar. Senyumnya terus berkembang saat mulai membuka pintu. Dia melihat Elina tengah duduk di tepi ranjang dengan tangan kanan memegang kepala.
"Kenapa belum turun?" tanya Evan seraya mendekati Elina. "Ayo, kita sarapan," ajaknya lembut.
"Ih." Elina melepaskan kepala, lalu segera memukul pahanya. "Aku gak mau! Aku males banget sama Mas Evan!"
"Jangan males gitu. Membahagiakan suami itu dapat pahala, loh," ucap Evan seperti tanpa dosa.
Elina memasang wajah galaknya. Dia sangat marah kepada Evan. Andai saja semalam pria itu tidak mengelak, pasti semuanya tidak akan terjadi.
Elina memegang tangan kirinya, lalu ditatap dengan penuh penyesalan. Hembusan nafas panjang keluar dari kedua lubang hidung wanita itu.
"Oh, tangan kiri. Kamu udah ternoda, menyentuh benda itu semalam." Elina menampilkan wajah seperti orang yang sedang menangis.
Ya, memang gara-gara elakan Evan, tangan Elina tidak sengaja menyentuh benda itu. Walaupun hanya sesaat, dia benar-benar bisa merasakan bagaimana tekstur benda dibalik selembar handuk itu. Sampai bangun tidurpun tasa dan bentuk benda itu masih melekat di benaknya.
"Udahlah. Kalau mau lagi, nanti malam aja. Sekarang waktunya kita berangkat kerja."
"Oh, iya." Elina segera melihat jam di dinding. Dia bergegas mengambil tas, lalu mengikuti Evan untuk pergi ke bawah.
Bersambung.
__ADS_1