Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 34. Ceramah


__ADS_3

Hari minggu, Elina sudah terlihat cantik dengan celana jeans dan juga blouse berwarna cream. Dia menuruni tangga dengan wajah ceria. Pergi berjalan-jalan menjadi tujuannya untuk menyegarkan pikiran.


Saat melintasi ruang tamu, seorang pria menatap ke arahnya. Akan tetapi, Elian tidak mepedulikan pria itu hingga sebuah pertanyaan terlontar.


"Mau ke mana?" tanya Evan. Dia menghentikan aktivitasnya di dunia maya.


Elina berhenti, lalu menoleh ke arah pria tersebut. "Mau jalan-jalan," jawabnya singkat. Dia pun berjalan kembali.


Sebelum mencapai pintu, lagi-lagi dia dihentikan oleh pertanyaan Evan.


"Sama siapa?" tanya Evan singkat.


"Bunga," jawab Elina dengan nada malasnya.


"Beneran, pergi sama Bunga? Mau ke mana?"


"Apaan, sih. Tanya-tanya mulu. Kenapa sekarang Mas Evan kepo sama apa yang kulakukan?" Elina menatap Evan, curiga.


Dia takut jika rahasianya telah diketahui pria itu. Akan tetapi, dirinya tidak menemukan tanda-tanda tentang hal tersebut. Andaikan Evan tahu, tentunya Eko juga akan tahu pula karena mereka sangat dekat.


Namun, jika dirinya bertemu dengan Eko, tak ada pembicaraan yang mengarah ke sana. Jadi, dia merasa bahwa hubungannya dengan David belum terendus oleh mereka.


"Kamu, 'kan, istriku? Wajar jika aku bertanya kamu mau ke mana. Seharusnya, kamu juga harus tanya boleh tidak jika mau pergi."


Seketika wajah Elina berubah warna. Dia tidak suka dengan ucapan Evan.


"Oh, jadi sekarang kamu mau mengekangku, ya? Kamu mau mengambil kebebasanku."

__ADS_1


"Bukan begitu," sela Evan, "aku hanya ingin agar kamu mendapat pahala sebagai istri. Itu kewajibanku. Jika aku membiarkanmu, maka dosamu adalah milikku."


Evan perlahan mulai mengingatkan sang istri. Dengan berkata begitu, dia harap Elina akan memikirkan kembali tindakannya. Dirinya tidak mau melakukan tindakan yang gegabah. Dia takut jika nanti malah Elina nekat.


Elina memutar mata jengah. Saat hendak menyegarkan pikiran malah mendapat siraman rohani. "Malah ceramah," gumamnya.


"Siapa suruh nikah sama aku. Udah tahu aku gak suka sama kamu, malah masih nekat nikahin juga." Elina menatap Evan tajam, ada sorot kebencian di sana. Dia segera melenggang pergi.


Evan hanya bisa menghembuskan nafas panjang akan sikap Elina. Dia pun beranjak dari duduknya, lalu segera pergi.


...****************...


"Kenapa sih, dari tadi kelihatan bete banget? Harusnya kita, 'kan, senang-senang? Kamu, malah pasang muka seperti itu."


"Aku sebel tahu." Elina menancapkan garpu pada potongan daging ayam, menyalurkan kekesalannya. "Mau jalan-jalan sama kamu aja udah diceramahi dulu."


"Ceramah gimana?"


"Udahlah, gak penting."


Kini Elina sudah berada di sebuah tempat makan yang berada dalam pusat perbelanjaan bersama Bunga. Dia berkata jujur pada Evan, memang sahabantnya itulah yang menemani jalan-jalan. Setelah beberapa jam berkeliling, perutnya terasa lapar. Untuk itu sekarang dia makan.


"Kayaknya ada yang gak beres, deh, sama kamu. Katakan aja. Sama sahabat sendiri juga." Bunga mencoba membujuk Elina agar mengatakan permasalananya.


Akhirnya, Elina mau juga mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Kejadian sebelum dia pergi sungguh sangat menganggu. Namun, hanya sebatas pertanyaan Evan saja, tidak sampai ceramah panjang lebar pria itu.


"Tandanya, dia itu sayang sama kamu. Dia perhatian sama kamu, mau pergi aja ditanyain."

__ADS_1


"Aku, 'kan, gak butuh perhatiannya. Udah ada yang merhatiin aku juga."


Walau jarang bertemu, David memang rutin menanyakan keadaan Elina. Di waktu senggangnya, pria itu akan senang berbalas pesan dengan sang kekasih walaupun kadang sedikit lama ketika membalas. Namun, itu cukup membuat hati wanita itu bahagia.


"Mungkin juga dia ingin membayar kelakuannya terhadapmu dulu." Bunga mengangkat kedua bahunya.


"Gak mungkin, dia aja tambah nyebelin. Beberapa hari terakhir, dia selalu saja menceramahiku. Sudah kayak kiai aja."


"Ceramah tentang apa?" tanya bunga penasaran.


"Tentang istri harus ginilah, gitulah. Kayak nyindir aku, gitu, loh."


"Jangan-jangan dia udah tahu hubunganmu dengan David." Bunga memasang wajah cemas. Dia takut apa yang dikatakannya akan benar-benar terjadi.


"Sepertinya belum. Nyatanya, Mas Eko aja masih tenang. Kalau dia udah tahu, pasti mas Eko juga akan tahu."


"Benar juga." Bunga menganggukan kepala. Membenarkan perkataan Elina.


Beberapa saat mereka masih saja membahas tentang hal itu. Memang tak ada habisnya jika sudah memasuki pembahasan tentang hubungan terlarang Elina. Bisa-bisa mereka tidur di sana hanya karena pembahasan itu.


Elina dan Bunga pun meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan jalan-jalan mereka. Kedua kembali mengelilingi pusat perbelanjaan. Bukan barang-barang yang dicari, hanya kesenangan untuk menenangkan pikiran.


Belum lama dia melangkan kaki dari tempat makan itu, mata Elina menangkap sesosok yang sangat dia kenal. Dia memicingkan mata untuk memperjelas penglihatan.


"Dia," gumam Elina. Satu ujung bibirnya terangkat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2