
Elina menatap kepergia Evan. Dia akhirnya bisa bernafas lega setelah pria tersebut menghilang di balik tembok. Diraihnya tanga David, lalu mencoba melepaskan pelukan perlahan.
David enggan untuk melepaskan pelukan itu. Dia masih ingin mencium harum dan segar tubuh Elina setelah mandi. Hidungnya mulai mengendus leher, lalu turun ke bahu.
Hal tersebut membuat Elina merinding. Dia segera menjauhkan tubuhnya seraya berkata lirih, "Pintunya terbuka."
Di luar pintu masih tampak beberapa orang yang berdiri. David pun segera melepaskan pelukannya, membiarkan Elina pergi mendekati pintu.
"Kamu ke luar dulu, ya. Aku mau ganti baju," ucap Elina. Dia masih memegang daun pintu tanpa ingin menutupnya sebelum David ke luar.
Pada saat itu pula, orang yang sejak tadi mengamati mereka segera membubarkan diri. Mereka bergegas pergi karena merasa tontonan itu telah usai. Banyak yang kecewa karena menurut mereka kejadian itu tidak seru.
"Tapi, El. A ...." David tak melanjutkan ucapannya setelah melihat Elina menggeleng.
__ADS_1
"Jangan sekarang! Mood-ku udah hancur gara-gara dia!" ucap Elina dengan penuh kekesalan.
Sesungguhnya, perasaan ingin memadu kasih David sudah di ubun-ubun. Namun, karena Elina tak menginginkannya, jadi dia juga tidak ingin memaksa. Pria itu merasa jika hal tersebut dilakukan dengan terpaksa, pastinya di satu pihak tidak menikmati. Untuk itu, dia tidak ingin hal tersebut terjadi. Dirinya hanya ingin semua merasakan nikmat yang sama.
David pun melangkah pergi dengan penuh kekecewaan. Hasrat yang sudah melambung harus terhempas, tak terlampiaskan. Dia mencoba mengendalikan semua yang dirasakan agar kembali normal.
Elina segera merapatkan pintu setelah kaki David sepenuhnya tak berada di kamar tersebut. Dia mulai berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di tepian. Hembusan nafas panjang ke luar dari bibir ranum walau tanpa pemulas.
Dia sungguh merasa lelah dengan hidupnya. Selalu saja ada bayang-bayang Evan di mana pun dirinya berada. Apalagi, sekarang anggota keluarganya yang seperti tidak mau tahu dengan kehidupannya.
...****************...
Malam berlalu, sebuah kemeriahan yang diadakan pengembang Bukit Asri pun telah usai. Para pembawa acara dan beberapa artis terkenal telah turun dari panggung. Beberapa orang juga sudah meninggalkan tempat tersebut, tetapi ada beberapa yang masih di sana.
__ADS_1
Termasuk Elina dan David, walaupun mereka tidak benar-benar di area konser, tetapi masih di sekitaran tempat itu. Mereka duduk berdua di sebuah batu besar dekat dengan kolam. Jadi, selama acara berlangsung, mereka sama sekali tidak menikmati konser tersebut. Niat awal ingin menyaksikan konser hanya sebagai pemanis agar mereka dapat berlama-lama berduaan. Sungguh, dunia bagai milik berdua.
"Udah selesai, ya, konsernya?" tanya Elina. Dia baru tersadar bahwa keriuhan tadi sudah tidak terdengar lagi.
"Iya," jawab David seraya menganggukkan kepala, "kamu mau pulang?"
Satu jam lagi tepat tengah malam, tetapi Elina masih saja enggan meninggalkan tempat itu. Dia masih ingin bersama sang kekasih. Ingin terus merasakan hal yang baru pertama kali hari ini dirasakannya.
"Terserah kamu." Elina menatap mata David seraya tersenyum dengan bibir bawah digigit sedikit.
Hal tersebut membuat David terpancing. Dia segera melahap bibir tipis nan ranum tersebut, menyesapnya hingga membuat Elina gelagapan.
Ya, kini Elina tak menolak lagi untuk saling manautkan bibir mereka. Kali ini sudah kesekian kali mereka melakukan hal tersebut. Namun, bagi wanita itu masih sangat mendebarkan ketika bibir mereka bersentuhan.
__ADS_1
Apalagi ketika David memberi gigitan lembut, sungguh seluruh organ ditubuh Elina seperti bereaksi. Bulu lembut di sekujur tubuhnya pun berdiri dan menari. Perlakauan David sungguh dapat membuat Elina melayang.
Bersambung.