Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 46. Dua Preman


__ADS_3

Evan duduk termenung di dalam kamar. Dia menatap lurus ke depan, menembus kaca jendela hingga rumah mertuanya. Pria itu menunggu Elina pulang ke rumahnya.


Secercah senyum mengembang di wajah Evan ketika melihat Elina keluar dari rumah itu. Namun, senyum itu seketika lenyap ketika sang istri berjalan melewati gerbang rumahnya.


"Mau ke mana dia?"


Elina terus saja berjalan tanpa tahu arah dan tujuan. Dia hanya ingin menenangkan diri dan pikirannya dengan pergi dari ke dua rumah tersebut.


Setelah beberapa menit berjalan, Elina mengistirahatkan kakinya di sebuah taman. Begitu sepi, tanpa ada seorang pun yang lewat di sana. Lampu taman pun hanya remang-remang, membuat keadaan sekitar sedikit gelap. Apalagi daun-daun pohon, semuanya tampak hitam.


Walaupun ada persaan sedikit takut, Elina tetap memberanikan diri untuk duduk di salah satu bangku taman. Letaknya tak jauh, hanya di sisi trotoar. Dia menatap layar ponsel yang masih hitam tanpa menghidupkannya.


"David, kapan kamu matiin teleponnya? Apa kamu dengar semuanya tadi?"


Elina bergumam sendiri. Memang, setelah keluar kamar, dia sempat mengintip layar ponselnya. Ternyata, panggilan kepada David telah berakhir. Dirinya sendiri pun tak tahu kapan tepatnya sang kekasih menutup panggilan itu.


Rencana membicarakan tentang masalah dengan Evan pun gagal. Sungguh Elina tak menyangka jika sang ibu begitu membela Evan. Sekarang, dirinya merasa seorang diri di dunia ini. Hanya satu harapannya, yaitu David.


Elina segera membuat panggilan ke nomor pria tersebut. Tak menunggu waktu yang lama, panggilan itu terhubung.


"Ada apa tadi, Sayang?" tanya David. Suaranya terdengar sangat khawatir.


"Ibu," ucap Elina masih terisak.


"Tenangkan dulu hatimu, baru lanjut bicara."


Elina menarik nafas dalam, lalu membuangnya. Beberapa kali dia melakukan itu hingga akhirnya sedikit tenang. Pembicaraan pun dilanjutkan.


"Apa kamu tadi dengar pembicaraanku sama ibu?"


"Ya, aku dengar sedikit karena aku langsung tutup telepon. Aku takut ketahuan sama ibumu," jawab David.


"Terus, gimana, Sayang? Apa rencanamu sekarang?"

__ADS_1


"Entahlah."


Elina begitu bingung memikirkan keadaannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang saja dia tidak tahu harus ke mana.


Elina begitu malas untuk pulang. Apalagi, jika harus bertemu dengan Evan—orang yang paling dibenci.


"Kamu masih mau lanjut sama aku?" tanya David. Dia mencoba untuk memastikan.


"Tentu saja," jawab Elina tanpa ragu, "aku gak peduli sama mereka. Pokoknya, aku mau sama kamu, bagaimanapun keadaannya."


Elina sungguh yakin dengan pilihannya. Jika setelah ini diusir dari rumah, dia tidak peduli. Wanita itu berpikir masih ada sang kekasih sebagai tempat pelarian.


"Baguslah."


Tiba-tiba dua bayangan hitam terlihat mendekat ke arah Elina. Wanita itu segera mendongakkan kepala, melihat siapa yang datang.


Mata Elina pun terbelalak ketika mendapati dua orang pria tak jauh dari tempatnya. Dia begitu takut karena mereka terus menatap lekat ke arahnya dengan senyum yang mengerikan.


Cara jalan kedua pria itu sempoyongan. Mereka juga membawa sebuah botol di tangan masing-masing. Hal itu semakin memperburuk keadaan.


"Kenapa, Sayang?" David bingung, kenapa tiba-tiba Elina seperti orang ketakutan.


"Ada pria mabuk mendekatiku," jelas Elina. Matanya tak lepas dari ke dua pria tersebut.


Kini mereka sudah berada kira-kira sepuluh meter di depan Elina. Mungkin, beberapa menit lagi, kedua pria itu sampai di hadapannya. Senyum seringai keduanya semakin tampak jelas.


"Emangnya kamu di mana?"


"Aku di taman depan komplek."


"Ngapain juga kamu di situ? Ini udah malam."


Elina sedikit kesal dengan ucapan David. Bukannya segera datang, malah bertanya pertanyaan yang tidak penting.

__ADS_1


"Bukan waktunya bertanya seperti itu. Sekarang, cepetan ke sini!"


Elina semakin ketakutan karena kedua pria itu sudah berada di hadapannya. Kini wajah mereka terlihat jelas.


Seorang pria menggunakan jaket hitam dengan kaos putih di dalamnya. Terdapat bekas luka sayatan di pipi kiri pria itu. Semakin membuat penampilannya tampak menakutkan.


Sedang yang seorang lagi mengenakan kaos tanpa lengan, menampilkan tato singa di tangan kanannya. Wajahnya pun tak kalah menyeramkan. Bopeng bekas jerawat menyebar rata di seluruh wajah.


"Lari, Sayang. Minta tolong sama orang sekitar. Kalau nunggu aku ke sana, gak sempet. Jaraknya terlalu jauh."


Kalimat terakhir yang diucapkan David, membuat Elina menarik ponsel dari telinganya. Dia segera menatap ke dua pria itu dengan tajam.


"Mau apa kalian?" tanya Elina dengan berteriak.


Walaupun Elina sudah pasti tahu apa tujuan kedua pria tersebut, tetapi tetap saja bertanya seperti itu. Memang kata-kata legend yang keluar di saat situasi demikian.


"Cantik, jangan teriak-teriak. Nanti cantiknya hilang, loh." Pria dengan bekas luka membelai pipi Elina.


Seketika pula wanita itu menepis tangan sang preman. Dia merasa jijik dengan tangan itu.


Namun, hal itu membuat pria tersebut marah. Dia langsung menarik rambut Elina.


"Au, sakit!" pekik Elina.


"Berani memukulku, hem?"


Sang preman memaksa Elina untuk berdiri dengan menarik keras rambutnya. Dia menggiring wanita itu menuju belakang taman.


Elina tak bisa melawan. Postur tubuh dan tenaga yang berbeda jauh membuat dia mengikuti kemana pria itu membawanya. Apalagi, sejak siang perutnya belum terisi apa-apa.


"Sekarang kamu harus membayarnya!" Sebuah seringai tampak pada preman dengan bekas luka.


Dengan sekali hentakan, tubuh Elina kini telah terlempar, membentur jalan taman. Kepalanya terantuk pembatas antara jalan dan taman.

__ADS_1


Akibat benturan itu, perlahan kesadaran Elina menghilang. Sosok wajah pria yang semakin mendekati dirinya, perlahan memudar, berganti dengan kegelapan yang pekat.


Bersambung.


__ADS_2