
Minggu pagi, Elina sudah disibukkan dengan kegiatannya. Dia menyiapkan pakaian ganti untuk nanti setelah mandi air hangat. Tak banyak yang dibawa, hanya satu pasang kaos dan celana panjang. Tak lupa, ********** pun jangan sampai ketinggalan.
Elina menurunkan motor dari dalam rumahnya, lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk berpamitan. Walau bagaimanapun juga, berpamitan adalah hal wajib bagi wanita tersebut.
"Elin, semoga kamu gak salah pilih," ucap Diyah setelah Elina mencium tangannya.
"Tentu aja, Bu," timpal Elina dengan wajah berseri, "Ibu, 'kan, udah tahu David kayak apa? Jadi, gak usah khawatir, aku pasti bahagia sama dia."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Elina menganggukkan kepala, lalu mendekati sang ayah. Dia berpamitan kepada pria tersebut.
Tak ada kata apa pun dari Verry. Wajahnya terlihat acuh. Dia tak ingin berkomentar lagi tentang sang anak. Pria tersebut berharap Elina akan menyadari dengan sendirinya langkah yang telah dipilih.
Elina segera mengendarai sepeda motornya, meninggalkan rumah. Dia memilih menaiki kendaraan sendiri karena tak ingin mencuri perhatian pria depan rumahnya. Jika hal itu terjadi, maka acara kencan bersama sang kekasih sudah dapat dipastikan akan berantakan.
__ADS_1
Hati Elina sangat gembira. Setelah sekian lama, akhirnya kini dia dapat jalan-jalan lagi bersama sang pujaan hati. Berbagai lagu tentang cinta pun didendangkan selama perjalanan menuju tempat yang telah disepakati.
"Itu dia," gumam Elina.
Wanita itu segera menepikan motor di depan sebuah rumah yang sudah dijadikan tempat penitipan kendaraan. Di sana sudah menunggu David yang nangkring di atas
motornya. Elina segera menitipkan kendaraanya, lalu berjalan menghampiri pria itu.
"Hai, Sayang. Maaf lama. Tadi ibu ngasih wejangan dulu."
David melajukan motornya, meliuk-liuk di padatnya kendaraan. Sesekali, dia menggeber dengan kecepatan yang tinggi.
Aksinya itu membuat Elina ketakutan. Wanita tersebut memeluk erak tubuh sang kekasih, takut jika terjatuh. Dia memejamkan mata, tak berani melihat kendaraan yang telah disalip.
Memasuki area pegunungan, jalan mulai berkelok dan naik turun. Di sisi kana dan kiri hanyalah jurang dan tebing. Terkadang ada beberapa perkampungan saat di dataran yang sedikit rata. Hal itu membuat David sedikit mengurangi laju motornya. Dia ingin menikmati susana pegunungan yang sejuk dan asri.
__ADS_1
Setelah hampir dua jam perjalanan, kini mereka telah sampai di tempat yang dituju. Sebuah pemandian alam dengan beberapa kolam air panasnya. Di lereng bukit, membuat para penikmat dapat menikmati pemandangan sawah di bawahnya.
"Indah banget pemandangannya." Elina tak henti mengedarkan pandangan ke segala arah, mengagumi keindahan alam.
Mereka berjalan di atas batu alam yang tertata rapi di sepanjang jalan menuju kolam. Di samping kanan dan kiri terdapat tamanan Acalypha siamensis atau sering disebut teh-tehan, tanaman yang sering digunakan sebagai pagar hidup.
Tanpa terasa mereka telah sampai di tujuan utama. Tiga buah kolam dengan tiga tingkatan terpampang di hadapan mereka. Bentuk kolam yang tak beraturan dengan dinding batu alam, membuat sangat apik dan sangat menyatu dengan alam.
Tingkat paling atas sedalam satu setengah meter, dengan ukuran lima kali enam meter. Sangat cocok bagi mereka yang suka berenang. Di sana pula merupakan sumber mata air panas yang utama.
Air yang luber akan masuk ke dalam kolam kedua di bawahnya yang lebih kecil ukurannya. Dengan kedalaman satu meter, sangat cocok untuk anak-anak. Sedangkan kolam ke tiga hanya setengah meter, untuk para balita.
David segera memesan gazebo yang berada tak jauh dari kolam untuk meletakkan peralatan mereka. Setelah itu, mereka menikmati hangatnya air pegunungan di kolam pertama.
Elina hanya diam di tempat seraya memejamkan mata, merasakan hangatnya air merasuk ke dalam tubuh. Sungguh relaksasi yang sangat sempurnya. Penat di tubuh, seketika lenyap.
__ADS_1
Bersambung.