
Elina tersadar akan lamunannya di masa lalu. Benda pipih di dalam tas, menjadi tujuan selanjutnya. Wanita itu membuka aplikasi pesan untuk mengirim kabar kepada sang kekasih tentang apa yang telah dia alami.
Lingkaran hijau dengan simbol putih di tengahnya dia tekan, lalu pesan terkirim. Akan tetapi, yang membuat hati Elina sedikit sedih, pesan itu hanya centang satu setelah dikirim.
Kenapa centang satu? Biasanya gak pernah matiin hp.
Elina menjadi gelisah, sampai malam pun pesannya masih abu-abu centang satu. Kepanikan melandanya, apalagi setelah kejadian tadi pagi. Dia merasa ingin pergi dari kediaman Baskoro, tetapi tak tahu ke mana. Tidak mungkin juga jika pulang ke rumah orang tuanya.
"Belum ada kabar juga?" tanya Bunga.
Ya, hingga seminggu berlalu, belum ada kabar juga dari sang kekasih. Pikirannya semakin kacau memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada David. Mau bertanya pada siapapun tak tahu.
"Belum." Elina menggelengkan kepala pelan. Semangatnya benar-benar hilang.
"Udahlah, El. Kalau memang dia menghilang gak ada kabar, berarti bukan jodohmu. Kalau memang jodoh, pasti dia akan datang lagi."
Setelah Bunga berkata demikian, tiba-tiba ponsel Elina bergetar. Dengan rasa malas dia meraih benda pipih di atas meja itu. Matanya segera terbuka lebar ketika melihat nama yang tertera di sana.
"Maaf, Sayang. Bukannya aku menghilang, tapi kemarin hpku jatuh dan rusak. Ini baru jadi."
"Jangan berpikiran macam-macam tentang aku. Aku sayang, kok, sama kamu."
"Maaf juga kalau kadang aku gak aktif. Nih, hp jadi eror gara-gara itu."
Beberapa pesan yang baca dalam hati oleh Elina semua adalah penjelasan dari banyak pesan yang dikirimnya. Dia sebenarnya tidak terlalu mementingkan penjelasan itu, sudah ada kabar saja merupakan hal yang bahagiakan baginya. Ya, pesan itu dari David—sang pujaan hati.
"Bunga," panggil Elina bahagia, "dia benar jodohku. Baru aja diomongin, sekarang udah aktif lagi."
__ADS_1
"Baguslah," ucap Bunga singkat.
Tak membuang waktu lama, Elina segera membalas pesan itu. Dengan secepat kilat, dia mengetik beberapa kalimat.
"Tak apa, Sayang. Aku cuma khawatir kamu gak ada kabar."
"Sekarang aku lega kalau kamu gak apa-apa."
"Lah, padahal hp beli tiga bulan yang lalu. Udah rusak aja, ya, Sayang."
Senyum cerah kini menghiasi wajah Elina. Mendung lenyap tak tersisa.
"Terima kasih, Sayang atas pengertiannya." Emotikon orang mencium dan ada simbol hati di depannya menyertai pesan itu.
"Mau gimana lagi, kalau gak jatuh juga gak akan rusak."
Benar juga apa yang dikatakan David. Bukan salah ponselnya yang rusak. Itu semua juga karena nasib, memang sudah saatnya jatuh. Begitulah kira-kira yang ada di dalam pikiran Elina.
"Berarti harus ganti, ya, Sayang. Kalau gak ganti nanti eror terus, aku gak bisa hubungi kamu lagi, dong."
Elina sedikit sedih kala membayangkan itu. Dia tidak ingin kehilangan kabar dari sang kekasih.
"Harusnya, sih. Tapi, mau gimana lagi. Lagi gak ada duit. Aku baru aja bayar uang kuliah."
Pesan david semakin membuat sedih Elina. Kalau sudah begitu, tak tahu lagi kapan sang kekasih akan membeli ponsel baru. Jadi, selama itu pula komikasi mereka akan terganggu.
Elina pun mengambil sebuah inisiatif karena tak ingin berlama-lama dalam keadaan itu. "Aku kirimi uang biar kamu beli sendiri, ya, Sayang."
__ADS_1
"Gak usah. Aku gak mau ngerepotin kamu lagi, Sayang."
Kata "Lagi" menandakan bahwa sebelum ini David sudah pernah membuat repot Elina.
Ya, memang ponsel yang rusak itu adalah pemberian Elina karena ponsel David yang sebelumnya juga rusak. Dia membelikan dengan tangannya sendiri karena pria itu mengatakan juga tidak ada uang saat itu. Oleh karena itu, dirinya menawarkan diri untuk membelikan ponsel.
"Gak apa-apa. Kayak sama siapa aja. Aku ini pacarmu, Sayang."
"Kirimi nomor rekeningmu."
"Baiklah kalau kamu maksa."
Tak berapa lama sebuah nomor rekening telah terkirim dari David. Namun, dia tak langsung mengirim uang ke nomor itu. Dirinya malah membalas pesan dari sang kekasih.
"Tapi, tunggu dua hari, ya, Sayang. Tunggu aku gajian."
"Loh, bukannya kamu dapat uang dari suamimu. Kenapa masih menunggu?"
Elina tidak suka ketika David menyatakan kata "Suamimu". Dia merasa bahwa David tidak ingin menjadi suaminya dengan menyebut Evan seperti itu.
"Bukannya kamu yang suamiku." Emotikon melirik disematkan pada pesan itu yang menandakan ketidak sukaannya.
"Maaf, Sayang. Maksudku orang itu." Emotikon dua telapak tangan mengakhiri pesan tersebut.
"Jangan ulang lagi! Aku gak suka itu."
"Aku transfer-nya dua hari lagi karena memang dua hari lagi aku gajian. Aku gak mau transfer ke kamu dengan nomor rekeningnya. Pas dicek dan dia tahu, aku is dead."
__ADS_1
Penjelasan Elina disetujui David. Sejumlah uang telah disepakati akan dikirim ke nomor rekening David atas permintaan pria itu. Elina juga tak mempermasalahkan dengan jumlah yang di sebutkan sang kekasih.
Bersambung.