Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Masa Lalu Baron


__ADS_3

"Baik Bu Misnah." balasan dari Ara dan kemudian Ara mendorong Baron keluar dari ruang makan dan menuju ke ruang tamu secara perlahan-lahan.


Setelah sampai di ruang tamu, mereka kemudian keluar rumah melewati pintu utama. Keduanya berjalan di teras rumah dan melangkahkan kaki menuju ke halaman dan lanjut ke taman keluarga yang terletak di samping rumah dan nampak banyak bunga di sana.


"Anin!" panggil Baron pada gadis yang mendorongnya, setelah beberapa menit mereka tak saling bicara.


"Eh, iya ada apa Baron?" tanya Ara yang terus mendorong kursi roda yang terdapat Baron diatasnya.


"Nama kamu bagus, bisa berarti buah jeruk. Semoga kamu manis seperti manisnya jeruk ya?" ucap Baron yang mencoba merayu Anin.


"Ah, bisa saja kamu!" seru Ara seraya mengulas senyumnya.


"Beneran ini! he...he...!" ucap Baron yang terkekeh.


"Eh, kita sudah sampai di taman. Kita mulai dari arah mana dulu ya?" tanya Ara yang mengalihkan pembicaraannya.


"Hmm...! sebaiknya kita lewat sebelah sana dulu!" ucap Baron seraya menunjuk ke arah timur, dan banyak bunga yang sedang bermekaran pagi ini.


"Boleh, ayo kita kesana." ucap Ara dan mereka melangkahkan kaki menyusuri jalan-jalan buatan di taman.


Mereka saling bersendau gurau dan tanpa mereka sadari, mereka selalu diawasi oleh Bu Misnah dan para pelayannya.


Sementara pak Misnah sibuk dengan pekerjaannya.


Ara duduk di kursi taman dan Baron berada disampingnya. mereka melihat kupu-kupu yang beterbangan dan juga lebah yang mencari madu.


"Kalau pemandangan seperti ini, di hutan larangan aku sering melihatnya." gumam dalam hati Ara, namun diantetap berusaha menikmatinya, untuk mendapat simpati dari Baron.


"Baron indah sekali ya di sini!" seru Ara yang mengulas senyumnya.


"Iya, ibu yang memelihara taman ini. Sejak kecil beliau membawaku merawat taman buatannya ini." ucap Baron yang mengulas senyumnya dan menebarkan pandangannya ke seluruh sudut taman yang ada di depannya.


"Kalau boleh Anin tahu, sejak kapan kamu tidak bisa berjalan seperti ini? karena saya yakin kalau kamu sebelumnya bisa berjalan dan beraktifitas seperti orang-orang yang lainnya?" tanya Ara yang penasaran.


"Memang sebelumnya aku bisa berjalan, bersepeda bahkan berlari bersama teman-temanku." jawab Baron dengan wajah sendunya.


"Bisa kami ceritakan, sejak kapan kamu seperti ini?" tanya Ara yang penasaran.

__ADS_1


"Sejak aku lulus sekolah, waktu itu aku sedang mengantarkan ibuku membawa makanan ke ladang. Dimana kami memberikan makanan pada para pekerja kami. Ibu yang sedang hamil muda, tiba-tiba melihat telur ular diantara bebatuan. Dia ingin sekali memakannya, ibu memintaku mengambilkan satu telur ular untuknya. Tapi aku tidak mau waktu itu." cerita Baron yang kemudian dia berhenti dan terlihat kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Setelah itu apa yang terjadi?" tanya Ara yang penasaran.


"Waktu aku tinggal membereskan tempat makan para pekerja, tiba-tiba aku melihat ibu yang menggenggam telur ular tergeletak tak sadarkan diri. Di bebatuan itu banyak ular kobra yang seolah-olah menari-nari. Aku panik dan aku membakar sarang ular kobra itu. Dan sejak kejadian itu, ibuku keguguran dan tiba-tiba kakiku tak bisa digerak lagi." jelas Baron.


"Kau membunuh semua ular itu?" tanya Ara yang sebenarnya geram, namun tetap menyembunyikannya.


"Apa boleh buat, para ular itu telah membuat ibuku tak sadarkan diri! Dan aku kehilangan calon adikku!" jawab Baron dengan nada tinggi.


Kemudian Ara memeriksa lutut sampai telapak kaki Baron.


"Pemuda ini mendapat kutukan dari para ular penghuni batu itu. Banyak sisik yang tak terlihat mata awam, aku yakin kalau dia akan menjadi ular setiap bulan purnama!" gumam dalam hati Ara yang mencoba menerawang apa yang telah terjadi.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Baron yang penasaran.


"Ah, tidak apa-apa! Apakah kamu bisa antarkan aku ke batu itu?" tanya Ara dengan senyum tipisnya.


"Kesana! tidak-tidak aku tidak mau!" seru Baron yang ketakutan.


"Ladang itu sangat mudah dicari. Dari sini ke arah kiri dan kamu jalan lurus sampai kamu menemukan sebuah ladang disebelah kiri, nanti di ladang tersebut terdapat banyak tumpukan batunya. Dan disitulah sarang ular yang aku maksudkan!" jelas Baron yang memberitahukannya.


"Baiklah, nanti akan aku cari tempat itu. Sekarang kita balik yuk! matahari sudah berada diatas kita!" ajak Ara sembari melihat ke atas.


"Iya, lagi pula hawanya sudah panas sekali!" seru Baron yang merasakan silaunya pandangan matanya.


Ara kemudian mendorong kursi roda yang membawa tubuh Baron melaju meninggalkan taman dan menuju ke rumah besar dan mewah itu.


Tiba-tiba pandangan Ara tertuju ke arah gudang, dan dia melihat pak Misnah sedang memarahi bawahannya.


"Bapak kamu sedang memarahi siapa?" tanya Ara yang penasaran.


"Ohw, itu biasalah bapak marahin bawahan yang suka teledor!" jawab Baron yang menoleh sebentar ke arah bapaknya dan kemudian kembali menatap ke depannya.


"Oh, memangnya di sana tempat apa?" tanya Ara yang penasaran.


"Namanya juga gudang, tentunya tempat penyimpanan. Sebaiknya kamu jangan singgung-singgung pekerjaan Bapak, karena aku tak suka akan hal itu!" jawab Baron dengan sedikit menggerutu.

__ADS_1


"Oh, baiklah!" jawab Ara yang kemudian kembali mendorong kursi roda dimana Baron duduk, mereka sudah berada di teras rumah mewah keluarga pak Misnah saat ini.


"Eh, Baron dan nak Anin! sudah selesai ya jalan-jalannya?" tanya wanita tua yang tak lain adalah ibu Misnah.


"Iya Bu, matahari sudah berada diatas. Jadi sinarnya sudah menyengat di kulit." jawab Ara sembari mengulas senyumnya.


"Kalau begitu nak Anin, tolong bawa Baron ke ruang keluarga. Biar dia lihat acara televisi kesayangannya, dan kita bisa bicara sebentar di teras belakang!" ucap Bu Misnah seraya memohon.


"Baik Bu, saya akan antarkan Baron ke ruang keluarga." ucap Ara yang kemudian mendorong Baron ke tempat dimana biasa keluarga mereka berkumpul.


Sementara itu Bu Misnah sudah melangkahkan kaki ya menuju ke teras belakang.


Demikian dengan Ara yang menyusul ke Bu Misnah ke teras belakang.


"Silahkan duduk nak Anin!" perintah Bu Misnah sembari menyeruput secangkir kopi yang dibuatkan oleh pelayangnya.


"Terima kasih Bu!" jawab Ara yang kemudian menarik kursi dan kemudian mendudukinya.


Kemudian mereka terlibat dalam perbincangan ringan, dan sedikit ada candaan diantara mereka.


"Nak Anin, kami menginginkan jika kamu bisa menjadi istri Baron sebelum purnama nanti. Apakah kamu bersedia?" tanya Bu Misnah yang terbilang mendadak bagi Ara.


"Kenapa terburu-buru Bu? Ara belum begitu mengenal kalian!" ucap Ara yang mau mengulur waktunya.


"Masalah kenal dan mengenal, itu kan bisa seiring waktu kita bisa saling mengenal." ucap ibu Misnah sembari menatap wajah Ara,


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2