Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Duka di istana siluman ular


__ADS_3

Kemudian prajurit atau penjaga istana berlarian mengepung Darjo dan kelima pekerjanya.


"Siapa kalian! Dan kenapa kalian berada disini!" seru salah satu prajurit itu yang sudah bersiap dengan senjata mereka.


"Kami para manusia, hendak menuntut balas dendam dengan kalian!" seru Darjo dengan lantang.


"Kurang ajar! seenaknya saja kamu di wilayah kami! tangkap mereka dan jangan diberi ampun!" seru salah satu prajurit itu, dan semua prajurit yang mengepung Darjo dan yang lainnya semakin merapatkan penjagaan mereka.


"Tuan Darjo, apakah kita sanggup melawan mereka? mereka membawa senjata!" seru salah satu pekerja yang sedikit menciut keberaniannya.


"Tenang saja, tetap arahkan cincin bermata merah delima Titi ke arah lawan kalian! Mereka pasti akan melemah!" seru Darjo yang kemudian memberi contoh pada para pekerjanya.


Darjo kembali bersiap dengan kepalan tangannya yang memakai cincin bermata merah delima itu diarahkan pada para prajurit istana siluman ular itu.


Seketika itu juga cincin itu memancarkan cahaya merah yang menyilaukan bagi para prajurit istana siluman ular itu, dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Darjo untuk menyerang para prajurit itu dengan pukulan-pukulan yang mengarah pada rahang hingga ulu hati para prajurit istana siluman ular itu.


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Aaagh...!"


Salah satu prajurit itu terpukul dibagian rahang dan kemudian mengenai ulu hati dan dia mengerang kesakitan.


Dan tak berapa lama para pekerja yang melihat cara Darjo melawan para prajurit itu pun, mengikuti setiap gerakan Darjo.


"Kurang ajar!" seru salah satu prajurit yang satunya dan dia bersiap menghajar Darjo.


"Hop hiaaat!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....


Para prajurit itu menyerang Darjo dengan bertubi-tubi dan Darjo mampu mengelak serangan tersebut.


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


Darjo berbalik memberi serangan pada para prajurit yang satu persatu jatuh tak berdaya.


"Aaaargh..!"


Kembali beberapa prajurit itu terkena pukulan dari Darjo dan juga para pekerja, di ulu hati penjaga itu berkali-kali dan pada akhirnya Darjo memberikan tendangan di rahang sebelah kanan penjaga itu dengan keras, membuat penjaga itu terpelanting dan akhirnya jatuh ke tanah.


"Bagh ..!"


"Brugh....!"


"Aaaghh...!"


Para prajurit siluman ular itu mengerang kesakitan dan tak berapa lama mereka tak bergerak lagi.


Darjo dan juga para pekerjanya berhasil mengalahkan para prajurit itu, kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke aula kerajaan.


Sesampainya di depan pintu aula, kembali Darjo dan yang lainnya berhadapan dengan para prajurit kerajaan siluman ular.

__ADS_1


Mereka kembali melawan dua orang prajurit penjaga pintu aula kerajaan siluman ular itu.


"Kurang ajar! siapa kalian " seru salah satu prajurit yang satunya dan dia bersiap menghajar Darjo.


"Hop hiaaat!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....


Prajurit itu menyerang Darjo dengan bertubi-tubi dan Darjo mampu membalikkan serangan para Prajurit


Dan para prajurit itu mengelak setiap serangan dari Darjo.


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


Kemudian Darjo berbalik memberi serangan pada para prajurit yang satu persatu jatuh tak berdaya.


"Aaaargh..!"


Kembali beberapa prajurit itu terkena pukulan dari Darjo dan juga para pekerja, di ulu hati penjaga itu berkali-kali dan pada akhirnya Darjo memberikan tendangan di rahang sebelah kanan penjaga itu dengan keras, membuat itu terpelanting dan akhirnya jatuh ke tanah.


"Bagh ..!"


"Brugh....!"


"Aaaghh...!"


Para prajurit siluman ular itu mengerang kesakitan dan tak berapa lama mereka tak bergerak lagi.


Pada saat Darjo dan yang lainnya melangkahkan kaki dan mereka telah sampai di depan singgasana kerajaan siluman ular.


Darjo melihat empat ular beda warna yang semua ular menatap ke arahnya. Mereka tak lain adalah Weling, hitam, putih dan juga siluman ular hijau.


Kemudian ular beda warna itu, mulai memposisikan diri mereka untuk menyerang Darjo dan para pekerjanya.


"Kalian! Lawan ke-empat ular beda warna itu, sementara aku akan melawan raja siluman ular!" seru Darjo pada para pekerjanya.


"Baik tuan Darjo!" seru para pekerja Darjo itu berbarengan.


Ular beda warna itu kemudian merubah tubuhnya menjadi manusia yang cantik-cantik dan juga tampan-tampan.


"Hop hiaaat!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


Perkelahian dua dunia itu pun kembali tak terelakkan lagi.


"Kalian para manusia, sungguh keterlaluan kalian!" seru ular Weling dengan geramnya dengan memberi hadiah kepalan tangan pada para manusia yang menyerang mereka.


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"

__ADS_1


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


Beberapa pekerja itu terkena pukulan dari Weling dan juga Siluman ular hitam, putih serta Siluman ular hijau secara bertubi-tubi dan pada akhirnya weling di memberikan tendangan di rahang sebelah kanan penjaga itu dengan keras, membuat itu terpelanting dan akhirnya jatuh ke tanah.


"Bagh ..!"


"Brugh....!"


"Aaaghh...!"


Para pekerja Darjo itu kini mengerang kesakitan dan tak berapa lama mereka tak bergerak lagi.


Weling dan yang lainnya berhasil mengalahkan para pekerja itu, kemudian mereka melangkahkan kaki memperhatikan pertarungan Darjo dengan siluman raja ular.


"Oh, jadi kamu manusia yang memipin kaum kamu untuk membantai rakyatku!" seru raja ular dengan geram.


"Iya, karena tubuh dan kulit kalian sangat berharga Agi kami. Dan saya tidak terima kalau kalian membebaskan semua tahanan kami dan juga membunuh sebagian pekerja saya!" seru Darjo yang merasa dirinya yang benar dan teraniaya.


"Apa membebaskan tahanan kalian dan juga membunuh pekerja kalian?" tanya raja ular, namun dalam hatinya bertanya-tanya siapakah yang melakukan perbuatan itu.


"Iya, dan aku semakin yakin kalau itu kamu!" seru Darjo dengan wajah memerah karena tak bisa mengendalikan amarahnya.


"Apa yang membuat kamu yakin kalau itu aku yang melakukannya?" tanya Raja ular yang penasaran.


"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu yang bisa membuat dirimu menjadi berkepala tujuh!" seru Darjo yang merasa benar.


"Hah, ular yang berkepala tujuh?" tanya raja ular yang penasaran.


"Ular yang berkepala tujuh? apakah yang dia maksud adalah Ara? jadi Ara tetap berada di dalam hutan larangan ini?" pertanyaan dalam hati Raja ular yang merasakan ada titik terang keberadaan putrinya.


"Sekarang terimalah ini!" seru Darjo yang menyerang Raja ular secara berkali-laki dengan menggunakan cincin bermata merah yang dipakai oleh mereka itu.


Sementara si raja ular mampu menghindarinya dan sesekali memberikan serangan balik pada Darjo,


Pukulan demi pukulan telah terjadi, dan keduanya sama-sama merasakan memukul dan dipukul.


Karena hasil yang selalu seri itulah, raja ular merubah ukuran tubuhnya membesar dan kemudian mengembang, keluarlah kepala ular sebanyak tujuh dan membentuk seperti kipas.


Tak ada rasa takut dari dalam diri Darjo, bahkan Darjo semakin tak terkendali lagi.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2