
"Iya, baiklah aku setuju." jawab Ara yang membiarkan siluman ular putih mendekati semak-semak yang bergerak itu.
Dengan Indra penglihatan dan perasanynya, siluman ular putih itu mengetahui binatang yang 08 dibalik semak-semak itu.
"Oh sepasang kelinci rupanya!" seru siluman ular putih itu dengan yakinnya.
Dengan jurusnya dia kemudian menangkap sepasang kelinci itu, dan seketika itu juga dua kelinci itu dapat ditangkap oleh siluman ular putih.
"Nah, akhirnya ketangkap juga. Kamu akan menjadi santapan kita nantinya!" seru siluman ular itu dengan mengulas senyumnya.
Setelah mendapatkan buruannya, siluman ular putih itu menghampiri Ara.
"Tuan putri, aku sudah mendapatkannya!" seru siluman ular putih seraya menunjukka dua ekos kelinci buruannya itu.
"Bagus kita makan daging kelinci bakar!" balas Ara yang mengulas senyumnya.
"Ayo kita kembali ke goa!" lanjut seru siluman ular emas pada siluman ular putih.
"Ayo!" jawab siluman ular putih dan kemudian keduanya kembali berubah wujud menjadi seberkas cahaya dan melesat lalu menghilang ke arah goa yang menjadi tempat tinggal mereka.
Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di depan goa, kemudian mereka bersama-sama masuk ke dalam goa tersebut.
Sesampainya di dalam goa, mereka tak mendapati Langit, kemudian siluman ular putih membersihkan hasil buruannya. Sedangkan Ara melangkahkan kakinya menuju ke goa kecil yang dijadikannya kamar.
Di dalam goa itu, Ara melihat Langit yang begitu telaten merawat ayahnya. Mengusap keringat yang terus keluar dari pori-pori tubuh ayahnya itu.
"Kak Langit, apakah ada kemajuan dari ayah kak Langit?" tanya Ara yang masuk ke goa kecil itu dan menghampiri Langit.
"Keringatnya keluar banyak sekali, apakah ini reaksi dari penyembuhan ayahku?'' tanya Langit yang menatap Ara.
"Iya, dan memang seharusnya dibantu dengan minum ramuan. Ara akan buat ramuan terlebih dahulu. Kak Langit bisa bantu cari wadah buat memasak ramuannya?" tanya Ara.
"Disini mana ada wadah untuk membuat ramuan itu?" tanya Langit sembari berpikir.
"Oh, kalau begitu kita kembali ke rumah ibu Misnah saja!" usul Ara dan Langit mulai memikirkannya.
__ADS_1
"Iya begitu juga boleh!" ucap Langit yang kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, ayo kita makan dulu kak!" ajak Ara.
"Ok, aku juga sudah sangat lapar." ucap Langit yang kemudian bangkit dari duduknya dan mereka melangkahkan kaki keluar dari goa kecil, meninggalkan Darjo yang masih terbaring lemah diatas batu tersebut.
"Putih, apakah daging kelincinya sudah matang?" tanya Ara yang menghampiri Siluman ular putih, dimana siluman ular putih itu sedang membolak-balikkan daging kelinci yang sedang dia bakar.
"Hampir, tunggu sebentar lagi." ucap siluman ular putih seraya menambah kayu untuk perapian yang ada dihadapannya.
"Oh, kita tunggu saja sampai matang." ucap Langit yang bersama Ara duduk di depan perapian bersama siluman ular putih.
Kemudian mereka saling bercerita tentang pengobatan selanjutnya untuk Darjo.
"Jadi begini putih, kami berencana akan membawa ayah kak Langit untuk kembali ke perkampungan. Semua itu demi pengobatan ayah kak Langit yang selanjutnya." ucap Ara pada sahabatnya.
"Kalian mau ke perkampungan?" tanya siluman ular putih yang penasaran.
"Iya, apakah kamu mau ikut?" tanya Ara yang menatap sahabatnya itu yang sudah mengangkat kelinci bakarnya yang telah matang itu.
"Ma'af tuan putri, Putih tak bisa ikut karena ada yang harus putih kerjakan di istana. Apa lagi istana sedang dalam keadaan berduka cita saat ini." jawab siluman ular putih yang memberikan kelinci bakar itu satu untuk langit dan satu lagi untuk berdua Ara dan juga siluman ular putih.
Dan mereka kemudian makan bersama, menikmati kelinci bakar tersebut.
Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai makan dan siluman ular putih bersiap untuk kembali ke istana dan meninggalkan Ara dan juga Langit setela mereka mencuci tangan mereka masing-masing.
"Tuan putri dan tuan muda, saya aku hendak ijin kembali ke istana Siluman ular." ucap Siluman ular putih yang pelan namun bisa di dengar oleh Ara dan juga Langit.
"Iya, sampaikan ma'afku pada bunda karena tak bisa mendampingi beliau." pesan Ara.
"Baiklah nanti akan saya sampaikan." ucap siluman ular putih seraya bangkit dari duduknya.
"Sampaikan salam dan juga permintaan ma'af saya untuk ayah saya yang telah khilaf pada ayahanda Ara." pesan Langit yang saat ini bersama Ara bangkit dari duduknya.
"Iya, nanti akan saya sampaikan." balas siluman ular putih.
__ADS_1
"Saya pergi ya!" lanjut seru siluman ular putih yang menatap kedua sahabatnya itu.
"Iya, daa... putih!" balas Ara seraya melambaikan tangannya. Demikian pula dengan siluman ular putih yang melambaikan tangan dan berubah wujud menjadi cahaya putih yang kemudian melayang dan melesat meninggalkan goa dimana ada Ara, Langit dan Darjo yang sedang sekarat.
Setelah siluman ular putih pergi, Ara mengambil semua tanaman liar yang tadi dia petik bersama sahabatnya.Sementara itu Langi kembali masuk ke goa kecil dimana ayahnya masih terbaring tak berdaya.
Tak berapa lama Ara menyusul keberadaan Langit dan juga Darjo.
"Ayah, semoga ayah cepat sembuh. Dan beri kami restu untuk menikah." ucap lirih Langit yang didengarkan oleh Ara yang baru saja masuk menghampiri Langit.
"Kak Langit, secepatnya kita ke rumah Bu Misnah. Kita rawat ayah disana!" bisik Ara dan Langit menoleh kearah Ara dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baik, itu yang kak Langit harapkan!" balas Langit dan Ara menangkupkan kedua telapak tangannya, dia merapalkan mantranya dan kemudian tangan kanannya berada di atas tubuh Darjo dan tangan sebelah kirinya memegang lengan sebelah kanan Langit.
Dalam sekejap mereka berubah menjadi cahaya putih yang melayang keluar dari goa dan kemudian melesat di antara rindangnya pepohonan di hutan larangan.
Terus melesat dan akhirnya sampailah di perbatasan hutan larangan dan juga perkampungan.
Cahaya putih itu terus melesat dan menuju ke sebuah rumah mewah diantara rumah-rumah lainnya.
Kemudian cahaya itu berhenti di dalam gazebo yang berada di taman samping rumah besar dan mewah itu.
"Kenapa kita berhenti disini?" tanya Langit yang penasaran.
"Kak Langit, kalau kita tiba-tiba muncul dihadapan mereka bisa-bisa mereka akan terkejut dan pingsan." jelas Ara.
"Oiya, kamu kan siluman ular." ucap Langit yang mulai paham dengan maksud Ara.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...