
"Lagi pula Baron terkena kutukan dari ular penyihir Vipera, yang kemungkinan bisa membuat Baron menjadi siluman ular seperti aku!" lanjut gumam dalam hati Ara.
"Lebih baik aku kembali ke hutan larangan, aku akan menemui kak Langit!" ucap dalam hati Ara yang kemudian mengubah diri ya menjadi seekor ular emas yang kemudian bergerak menuju ke balkon,
Beberapa saat kemudian dia menyusuri dinding yang menonjol untuk dia jadikan pijakan agar dia bisa menuruni dinding rumah pak Misnah.
Dengan perlahan akhirnya ular emas itu melata sampai di halaman rumah pak Misnah.
Setelah mengawasi situasi disekitarnya, ular emas itu terus melata dan menyusuri jalanan yang mengarah ke hutan larangan.
Sesekali ular emas itu bersembunyi untuk mengindari orang-orang yang sedang lalu lalang.
Dan pada akhirnya si Ular emas itu sampai di tepi hutan larangan, yang terdapat banyak pohon yang lebih besar disekitar tempat itu.
Ular emas itu terus berjalan dan pada akhirnya dia menemukan peohonan yang kemarin di puja oleh kedua orang tua dari Baron.
Setelah melihatnya sementara pohon besar tersebut, Ara terus melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak hutan terlarang tersebut.
Ara terus berjalan menusuri jalan setapak di hutan belantara itu, yang terdapat pepehonan yang tinggi dengan daunnya yang lebat dan semak-semaknya yang meninggi juga sangat rimbun.
Putri siluman itu sesekali menoleh ke kanan dan juga ke kiri serta menebarkan pandangannya ke pepohonan dan juga langit diatas hutan larangan itu.
"Rasanya begini ya rasanya pernah berada dalam hutan larangan dan rasa campur aduk.
Hari sudah beranjak siang, Ara merasakan gerah di tubuhnya.
"Aku mandi, badanku lengket semuanya karena keringat. Sebaiknya aku mencari sungai atau air terjun untuk mandi." gumam Ara yang terus melangkahkan kakinya untuk mencari aliran sungai atau air terjun yang bisa buatnya merendam tubuhnya.
"Bless... blesss....!"
Terdengar suara air yang jatuh ke bumi.
"Itu bukan hujan, air terjun! wah pasti sejuk sekali airnya!" seru Ara yang bersemangat untuk mencari sumber suara itu.
Dan benar saja, tak berapa lama Ara menemukan aiir terjun yang tadi sempat membuatnya penasaran.
Gadis siluman itu bersemangat dan dia mencari tempat yang aman untuknya melepaskan pakaiannya.
Setelah menemukan batu yang besar untuknya bersembunyi, kemudian Ara melangkah menuju ke batu besar itu.
Ara meletakkan benda-benda miliknya ke batu besar yang ada dihadapannya.
Kemudian Ara melepaskan pakaiannya dan dengan segera dia menceburkan diri ke dalam kolam yang berada di bawah air terjun.
__ADS_1
Gadis itu asyik berenang dan juga bermain air dengan riangnya. Ara yang sedang melupakan sejenak kisah keluarga Misnah yang menjodohkannya anak mereka dengan Ara.
.
Dan melupakan bahwa kedua orang tua kandungnya juga sedang menjodohkannya dengan laki-laki pilihan kedua orang tuanya, walaupun laki-laki tersebut adalah sahabatnya sejak kecil.
Ara yang sudah puas dengan mandi dan bermain airnya, gadis siluman itu menuju ke batu besar dimana dia meletakkan pakaian dan juga benda-bendanya yang dia bawa dari istana.
Setelah memakai pakaiannya, Ara melangkahkan kakinya meninggalkan kolam air terjun.
Tiba-tiba gerimis datang, sehingga Ara bergegas mencari tempat untuk berlindung. Tanpa dia sadari langit membuntutinya.
Ara merubah dirinya menjadi ular emas, dan dengan indranya, Ara menemukan sebuah goa yang lumayan besar.
"Aku berteduh di sana saja." seru Ara yang mempercepat langkahnya merayap menuju ke goa yang dia maksud.
Setelah itu dia masuk ke dalam goa itu dan mencari posisi yang nyaman untuknya beristirahat di bongkahan batu yang ada di atas dinding.
Mendung menghitam, suara Guntur bergemuruh dan angin mulai berhembus secara tak beraturan.
"Wuss..... wuss.... !"
"Blessh....!"
Ara yang masih berwujud ular emas itu terus melingkar dan tetap di posisinya di dinding atas goa.
Kemudian dia teringat kalau kemarin dia mendapati sebuah goa kecil yang dibuatnya sebagai kamar.
Ular emas itu kemudian turun dan merayap ke bawah terus menuruni celah-celah dinding goa menuju kegia kecil dimana kemarin dia menemukannya.
Tak berapa lama ular emas itu menemukan goa yang dia maksud.
Ular emas itu kemudian merubah wujudnya menjadi gadis yang cantik. Yaitu Ara si putri siluman ular.
Ara membersihkan goa kecil itu dan kemudian dia merebahkan diri diatas batu yang terdapat dalam goa tersebut.
Beberapa menit kemudian Ara terlelap dalam tidurnya dan hujan pun perlahan reda.
Sang waktu bergulir dengan cepatnya, malam pun berganti pagi. Dan burung-burung bernyanyi sementara kupu-kupu sibuk menghapiri bunga yang bermekaran.
Ara bangun dari tidurnya, dan kemudian dia bangkit keluar dari goa kecil tersebut.
Rasa lapar yang kini dirasakan oleh gadis siluman itu, lalu dia melangkah keluar dari goa dan hendak mencari buruan serta kayu bakar.
__ADS_1
Gadis siluman ular itu terus mencari ranting kayu yang sudah kering dan berjatuhan ditanah.
Namun dia tak dapat menemukan kayu yang kering, karena semalaman diguyur hujan. Kayu yang semula kering telah basah dan tentunya tak bisa dipakai untuk membuat perapian.
Kemudian Ara menjemur kayu-kayu itu ke tempat yang terpapar matahari. Cukup banyak dia mencarinya dan banyak pula kayu yang dia jemur.
Hal itu karena banyaknya dahan-dahan yang tumbang karena angin dan hujan deras semalaman.
"Kayunya sudah banyak, tapi perutku lapar sekali!" seru dalam hati Ara yang memegang perutnya.
Tiba-tiba Indra penciumannya mencium bau harum binatang yang dibakar.
"Wah, baunya enak sekali. Pas dengan kondisi perutku yang kosong ini!" gumam dalam hati Ara yang kemudian melangkahkan kaki mencari sumber asap yang membuat perutnya semakin meronta-ronta itu.
Tak berapa lama, Ara sampai di sebuah perkemahan yang terdiri dari beberapa laki-laki yang sepertinya sangat dikenal oleh Ara.
"Bukankah itu para pekerja di rumah pak Misnah?" tanya dalam hati Ara yang terus memperhatikan situasi di perkemahan itu.
"Apa kepentingan mereka ke hutan larangan ini?" kembali tanya dalam hati Ara yang tetap masih memperhatikan situasi yang ada di sekitar perkemahan.
"Aku harus tahu tujuan mereka! nampaknya aku harus mencari informasi dari salah satu dari mereka. Tapi kalau dalam wujuku sebagai Ara, pasti mereka akan mengenalku. Aku harus cari cara untuk mengetahuinya." gumam dalam hati Ara.
Tak berapa lama Ara melihat ada salah satu pekerja yang keluar dari perkemahan.
"Hei mau kemana dia?" tanya dalam hati Ara yang mengikuti laki-laki tersebut.
Laki-laki itu berhenti dan dia sedang buang air kecil.
"Eh, rupanya sedang buang air kecil!he...he...!" gumam dalam hati Ara sambil tersenyum.
Ara menunggu laki-laki itu sampai selesai buang air kecilnya di balik pohon yang cukup rindang.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1