
Dengan kecepatan sedang, pak Misnah mengendarai mobilnya menyusuri jalanan perkampungan untuk menuju ke rumahnya.
Selama dalam perjalanan itu, Ara yang belum pernah merasakan naik mobil itu menjadi penasaran.
"Bukan seperti kereta kuda, tapi bisa berjalan dan mengangkut manusia. Dan tempat duduknya pun empuk!" gumam dalam hati Ara seraya memegang kursi yang dia duduki.
Jelas saja Ara merasakan sensasi yang lain saat naik mobil dan dia mencoba membandingkannya jika naik kereta kuda. Karena selama di hutan larangan, memang tidak ada mobil. Jangankan mobil, sepeda kayuh saja tidak ada.
Jadi dengan naik mobil untuk yang pertama kalinya buat Ara, adalah suatu hal yang baru dan tetap membuatnya penasaran.
Gadis siluman ular itu menebarkan pandangannya ke luar mobil, dan dia melihat banyak rumah yang telah dia lewati.
Beberapa menit kemudian mobil itu telah sampai di halaman depan rumah yang luas dan megah diantara yang lainnya.
Mobil mewah itu kemudian berhenti dan ketiganya keluar dari mobil secara bergantian. Setelah itu mereka bersama-sama masuk ke rumah megah itu.
Ara menebarkan pandangannya ke sekitar halaman dan teras rumah besar dan megah itu.
Tak berapa lama ada pelayan rumah besar itu membukaan pintu.
"Selamat datang!" ucap para pelayang itu dan mereka melangkahkan kaki masuk ke ruang tamu.
"Kalian! bawa nona Anin ke kamar tamu. Dan sediakan pakaian yang bersih dan bagus buat dia!" perintah ibu Misnah pada pelayannya.
"Baik nyonya!" jawab dua orang pelayan keluarga Misnah seraya menundukkan kepalanya.
"Anin, kamu ikuti dua pelayan itu ya! nanti kamu bersihkan badan dan ganti pakaian kamu yang baru dari kami!" seru ibu Misnah pada Ara.
"I...iya Bu!" jawab Ara seraya menganggukkan kepalanya.
"Mari nona!" ajak kedua pelayan itu yang melangkahkan kaki mereka seraya menggandeng tangan Ara dan mengapitnya. Kemudian melangkahkan kaki mereka menuju ke kamar tamu keluarga Misnah.
Sementara Pak Misnah dan juga ibu Misnah melangkahkan kaki ke kamar mereka.
Ara yang sudah sampai di dalam kamar, merasakan dilayani seperti pada saat di dalam istana siluman ular.
Gadis siluman itu kemudian mandi dengan air hangat dan dia merasakan tubuhnya yang kembali dalam keadaan segar.
Ara kemudian mengganti pakaiannya, yang sebelumya menempel terus di badannya.
"Nona, silahkan merias wajah anda di cermin itu. Setelah itu anda ditunggu nyonya di ruang makan. Nyonya mengajak anda untuk makan bersama." ucap pelayan itu sembari menunjuk pada meja rias yang memang berada di dalam kamar itu.
__ADS_1
"Oh, baiklah, terima kasih." ucap Ara sembari mengulas senyumnya.
Setelah itu kedua pelayan itu melangkahkan kakinya meninggalkan Ara dan kamar dimana Ara berada.
Ara kemudian melangkah kan kakinya menuju ke meja rias yang ditunjukkan oleh kedua pelayang tadi.
"Oh, tidak!"
Betapa terkejutnya Ara mana kala melihat wujud aslinya yang berwujud seekor ular emas, pada saat dirinya berdiri di depan cermin meja rias itu.
"Rupanya aku tak boleh berada di tempat yang ada cerminnya, karena cermin bisa melihat siapa diriku yang sebenarnya." gumam dalam hati Ara yang terus menatap wajah dan tubuhnya yang berwujud ular emas itu.
Ara menggunakan kesaktiannya untuk merias wajahnya dan kemudian dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar tamu dimana dirinya tadi membersihkan badannya.
Dengan perlahan-lahan Ara melangkahkan kaki menuruni tangga, dan dia melihat Pak Misnah dan juga istrinya menanti dirinya di lantai bawah beserta seorang pemuda yang berada di kursi roda.
"Siapa pemuda itu? apakah dia putra kedua suami istri itu, seperti yang mereka sebutkan tadi waktu di bawah pohon besar tadi?" gumam Ara dalam hati.
Gadis yang putri siluman ular itu terus melangkahkan kakinya menuruni tangga, dan kemudian dia menghampiri suami istri beserta anak laki-lakinya itu.
Sejak dari menuruni tangga sampai di hadapan mereka, pemuda yang merupakan putra dari Misnah itu menatap Ara tanpa berkedip.
"Iya Bu, dia cantik sekali!" seru pemuda yang bernama Baron itu yang masih menatap Ara.
"Anin, kenalkan ini Baron. Dia adalah putra kami!" ucap pak Misnah yang memperkenalkan putranya.
Ara mengulurkan tangannya dan juga menatap Baron.
Sementara itu Baron membalas uluran tangan Ara dan menyebut nama sembari mengulas senyumnya.
"Baron!"
"Anin!"
Mereka saling melempar senyum dan kemudian melepaskan jabat tangan mereka.
"Ayo kita makan sama-sama! para pelayan sudah menyiapkan makanan untuk kita semuanya!" ajak ibu Misnah.
"Baik Bu!" jawab semuanya yang kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke meja makan.
Acara makan mereka diselingi cerita serta tanya jawab diantara mereka.
__ADS_1
"Bagaimana putraku, apa kamu menyukai gadis ini?" tanya Ibu Misnah secara berbisik.
"Ibu, Baron sangat tertarik dan menyukai gadis ini!" balas Baron yang juga bicara dengan cara berbisik.
"Kalian sebaiknya saling berkenalan lebih dulu, setelah itu kalian bisa bertunangan dan lanjut dengan pernikahan." ucap Pak Misnah.
"Bagaimana menurut kamu Anin?" tanya Ibu Misnah yang penasaran dengan jawaban dari Ara.
"Iya, saya menurut saja. Karena saya juga tidak ada saudara di sini." ucap Ara sembari menatap mereka satu persatu.
Mereka kemudian membicarakan rencana hubungan Baron dan Ara selanjutnya.
Setelah itu malam semakin larut dan mereka kemudian mereka beranjak menuju ke kamar masing-masing, demikian pula dengan Ara yang kembali naik ke kamarnya dengan menaiki tangga yang terletak di tengah ruangan tamu dan ruang makan.
Sesampainya di depan pintu, Ara segera membuka pintu kemudian dia masuk dan mengunci kamarnya.
Gadis siluman itu menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya dengan pelan-pelan.
"Apakah keputusan aku tinggal di keluarga ini benar? paling tidak akan aku buat untuk tidak menikah dengan pemuda itu. Sepertinya pemuda itu tak baik bila menjadi suamiku, beda jauh dengan Kak Langit!" gumam dalam hati Ara yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke meja rias dan menatap tubuhnya yang menjadi ular di cermin itu.
"Bagaimana sikap mereka ya? bila mereka tahu kalau aku adalah siluman ular yang bukan sebangsa mereka." gumam dalam hati Ara yang terus menatap ke arah cermin itu.
Setelah menggela nafas, Ara melangkahkan kakinya menuju ke jendela kamar yang ternyata mengarah lurus ke bukit yang terdapat dalam hutan terlarang.
"Ayahanda dan ibunda, bagaimana dengan kabar kalian?" tanya dalam hati Ara yang terus menerawang ke arah hutan terlarang yang membentang dihadapannya.
"Huahahemm...!"
Rasa kantuk telah menghinggapi Ara, dan gadis siluman itu menutup jendela kemudian melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidurnya.
...~¥~...
...Mohon untuk readers bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1