
"Benar Bu. Ibu jangan khawatir!" jawab Ara yang menoleh ke arah Bu Misnah.
Tiba-tiba saja Bu Misnah menepikan mobil yang dikendarainya.
"Eh, kenapa kita menepi dan berhenti disini Bu? pasarnya kan masih jauh?" tanya Ara yang menatap bu
"Ibu lihat kalau kamu sering memperhatikan Langit, apa kamu ada rasa ya sama laki-laki itu?" tanya Bu misnah penuh selidik.
"Eh, ibu kenapa bisa bilang begitu?" tanya Ara yang penasaran.
"Insting seorang ibu saja." jawab Bu Misnah yang terus menatap Ara dengan selidik.
"Kak Langit, kak Langit sangat mirip sama kekasih Anin Bu!" jawab Ara dengan lirih.
"Apa mirip kekasihmu?" tanya Bu Misnah yang ingin memastikan pendengarannya.
"I...iya Bu." ucap Ara lirih.
"Kalau begitu, kenapa tak kamu sapa dia? kamu kan bisa tanyakan secara langsung?" tanya Bu Misnah pada putri siluman ular itu.
"Ta...tapi Anin malu Bu." ucap Ara yang masih dengan nada lirihnya.
"Tidak apa-apa, dia anak baik kok! malah Ibu setuju kalau kamu bersama dia, tidak bersama Baron putra ibu. Nak Langit itu punya masa depan yang cerah, selain tampan dan pendidikannya tinggi dia selalu optimis dan pekerja keras." jelas Bu Misnah yang memberi lampu hijau.
"Apa betul begitu Bu?" tanya Ara yang penasaran.
"Iya, betul dan ibu yakin kalau dia sangat cocok sama kamu!" seru Bu Misnah yang mengulas senyumnya.
"Kalau begitu, Anin besok mau berkenalan dengan kak Langit Bu!" seru Ara yang membalas senyuman Bu Misnah.
"Nah, tersenyum begitu donk!" goda Bu misnah yang kemudian kembali melajukan kendaraannya.
Hati Ara sedikit tenang, dan dia terus memandang ke arah depan. Dan mobil yang mereka tumpangi menyusuri jalan raya di pagi hari yang cerah itu.
Tak berapa lama mereka telah sampai di pasar tradisional, setelah itu mereka turun dari mobil yang telah terparkir sebelumnya.
Kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju ke pintu untuk masuk ke pasar tradisional yang ada dihadapan mereka.
__ADS_1
"Kamu tahu Nin, kalau dibandingkan penghasilan kita saat di supermarket kemarin dengan penghasilan pada saat di pasar tradisional ini ternyata lebih banyak di pasar tradisional!" ucap Bu Misnah seraya bersiap-siap membuka kiosnya.
"Syukurlah kalau begitu Bu, terus apa uang asuransi di kios toko supermarket apa sudah turun Bu?" tanya Ara sembari mengeluarkan pakaian-pakaian dan menatanya biar kelihatan oleh pembeli.
"Belum, lebih baik kita semangat lagi jualannya ya!" pinta bu Misnah seraya mengecek barang dagangannya.
Aktifitas mereka berlangsung dari pagi sampai sore hari, pembeli datang dan pergi silih berganti.
Dan keduanya istirahat saat jam makan siang tiba. Keduanya memesan makanan yang dijual di sekitar pasar tersebut.
Tibalah waktu untuk mereka pulang ke rumah.
"Hari ini penghasilan kita lumayan juga, kita bisa menggaji para pelayan dan tukang kebun di rumah!" seru Bu. Misnah seraya menutup dan mengunci pintu kiosnya.
"Iya Bu, syukurlah!" balas Ara yang sedang berdiri menunggu bi Misnah menutup dan mengunci pintu kiosnya.
"Sudah selesai! Ayo kita pulang!" seru Bu misnah yang menarik Ara dan mereka melangkah kaki meninggalkan ruko dan keluar dari pasar tradisional tersebut dan menuju ke tempat dimana mobil terparkir.
Setelah menemukan dan menghampiri mobil, Bu Misnah dan Ara segera masuk sesuai posisi mereka sebelumnya. Ara di depan dan disamping Bu Misnah yang sedang mengemudi.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah Bu Misnah.
"Eh, nak Langit! masih ada disini ya?" tanya Bu Misnah pada saat menghampiri Baron dan juga Langit.
"Eh bibi Misnah! iya kami masih bahas masalah bengkel. Tidak apa-apakan kalau Langit masih disini?" jawab sekaligus tanya Langit sembari menatap Bu Misnah.
"Tentu saja tidak apa-apa, malah ibu senang sekali. Oiya kebetulan kalau kamu masih disini, bisa berkenalan dengan adik angkat Baron!" seru Bu Misnah seraya menunjuk dan memberi jalan pada Ara.
"Oiya dari kemarin kan kita belum sempat bertemu, siapa.... Ara!" ucap Langit yang langsung bangkit dari duduknya dan saat melihat gadis yang ditunjukkan Bu Misnah yang wajahnya sama dengan kekasihnya Ara.
"Kak Langit!" panggil Ara sedikit ragu, tapi apa boleh buat karena dia memang tak bisa berbohong jika berhadapan dengan kekasihnya itu.
Baron dan Bu Misnah saling pandang pada saat mengetahui Ara dan Langit yang ternyata saling mengenal.
Langit terus menatap Ara dan demikian pula dengan Ara, dan keduanya kini saling berpelukan untuk melepas rindu yang menyiksa mereka.
"Hiks, kak Langit!" Ara menangis di pelukan Langit.
__ADS_1
"Kak langit tak menyangka bisa bertemu dengan kamu disini!" seru Langit yang mengusap lembut kepala Ara dan mencium wangi khas mahkota kepala gadis siluman yang saat ini dalam pelukannya.
"Lho, jadi kalian saling kenal?" tanya Baron yang penasaran dan telah berdiri disamping ibunya dan melihat ke arah Langit dan Ara yang saling berpelukan itu.
"Iya, dia kekasihku yang pernah aku ceritakan pada kalian!" jawab Langit yang kemudian melepas pelukannya dan tetap merangkul tubuh Ara sembari mengulas senyum pada Baron dan ibu Misnah.
"Yang benar Nin, kamu kekasih nak Langit?" tanya Bu Misnah yang penasaran.
"Iya, kak Langit kekasih Anin Bu!' jawab Ara sembari tersenyum dan memandang Langit. demikian pula dengan langit yang memandang ke arah Ara.
"Tapi Langit bilang kalau kekasihnya Ara namanya?" tanya Baron yang penuh selidik.
"Memangnya kamu mengganti nama kamu Ra?" tanya Langit yang penasaran dan Ara menganggukkan kepalanya.
"Iya, Ara mengaku bernama Anin. Ara-kan sedang kabur dari rumah, tujuan Ara biar keluarga Ara tak menemukan Ara!"bjawab Ara dengan lirih.
"Kamu kabur dari rumah? memangnya ada masalah apa kamu dengan kedua orang tua kamu nak?" tanya Bu Misnah yang menatap wajah Ara dengan rasa penasaran.
"Itu karena Ara mau dijodohkan. Dan Ara tak mau kalau dijodohkan!" jawab Ara seraya menatap Bu Misnah dan juga Baron secara bergantian.
"Oh, jadi karena itulah kenapa kemarin kamu tak mau ndijodohkan dengan putraku Baron?" tanya Bu Misnah yang menebak dan menggabungkan cerita Ara.
"Iya Bu, mohon pengertiannya!" ucap Ara sembari mengulas senyumnya,
"Kalau begitu tunggu apa lagi, lanjutkan hubungan kalian, dan kalau bisa sampai ke jenjang pernikahan!" seru Baron seraya menepuk pundak Langit, dan dalam harinya berusaha menerima kenyataan jika Ara dan Langit akan berjodoh.
"Jenjang pernikahan?" tanya Ara yang menatap Langit dengan penuh tanda tanya.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...