Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Makan malam di Taman


__ADS_3

Baron saat ini menggunakan kemeja warna putih yang tidak dia kancingkan di bagian atas dan sengaja tidak dimasukkan di celana, yang dipadukan dengan celana jins warna biru.


Beberapa saat kemudian Bu Misnah keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu, menghampiri putranya Baron yang sudah duduk santai di sofa ruang tamu.


Saat ini Bu Misnah memakai dress selutut yang berwarna motif bunga-bunga berwarna dominan biru tua.


Dan selang lima menit kemudian Ara juga keluar dari kamarnya, gadis siluman ular yang menyamar dengan nama Anindita dengan panggilan Anin.


Pada saat ini Ara memakai dress pendek diatas lutut, yang berwarna biru muda dengan sedikit aksen motif bunga yang berwarna putih muda dan memakai sepatu high heels warna putih dan rambut yang terurai dengan menyematkan jepit motif bunga yang berwarna biru muda dan putih senada dengan dress yang dipakai Ara.


Baron dan Bu Misnah memandangi Ara yang menuruni tangga dengan anggunnya. Baron pun terpukau dengan kecantikan Ara yang saat ini menjadi adiknya itu.


"Wah Anin, andai saja kamu mau denganku!" gumam dalam hati Baron yang masih terkesima melihat Ara yang sudah menghampirinya dan juga Bu Misnah.


"Saya sudah siap Bu, kak Baron!" seru Ara yang sudah berada dihadapan Bu Misnah dan juga Baron.


"Cantik sekali!" puji Baron yang tak henti-hentinya menatap wajah Ara.


"Benar kamu memang cantik sekali!" sahut Bu Misnah yang mengulas senyumnya.


"Terima kasih, ayo kita jadi pesta kebun tidak?" tanya Ara sembari mengulas senyumnya.


"Eh, iya jadi donk!" seru Baron yang bangkit dari duduknya, dan melangkahkan kaki menuju ke keluar rumah kemudian melangkahkan kaki menuju ke taman bunga yang dibuat oleh Bu Misnah dan para pelayannya.


Demikian pula dengan Bu Misnah dan juga Ara yang melangkahkan kaki bersejajar dengan Baron menuju ke taman juga.


Sesampainya di taman, kondisi taman sudah dihias sedemikian rupa oleh para pelayan keluarga Misnah. Di gazebo taman sudah ada satu meja dan tiga kursi yang dimana diatas meja sudah ada berbagai macam makanan dan minuman kesukaan mereka.


"Ayo kita makan sambil bercerita, apa rencana kita selanjutnya!" ajak Bu Misnah saat sudah sampai di samping menja yang penuh dengan makanan itu dan dia segera duduk di salah satu kursinya.


"Iya Bu!" jawab Ara dan Baron secara bersamaan.


Mereka kemudian duduk dan mengambil makanan dan minuman yang sesuai dengan selera mereka.


"Ibu akan tetap merintis kios pakaian ibu, tapi kali ini ibu cuma fokus satu kios saja dan kios yang lainnya ibu sewakan saja. Ibu sudah tua, dan tak sanggup lagi mondar-mandir untuk bisnis pakaian lagi. Dan rencananya aku akan mengajarimu berjualan pakaian Anin." kata Bu Misnah seraya menatap wajah Ara yang tersentak kaget, saat Bu Misnah menyebut namanya.

__ADS_1


"Sa...saya Bu?" tanya Ara untuk menyakinkan dirinya tentang ucapan ibu Misnah.


"Iya, karena siapa lagi yang mau menjalankan usaha jualan pakaian Ibu? Sedangkan Baron maunya usaha sendiri, dia mau buka bengkel serta pencucian mobil dan motor yang nantinya dia fokuskan di gudang." jelas Bu Misnah sembari menatap putranya yang sedang menikmati makanannya yang terkadang memperhatikan dirinya dan juga adik angkat Baron yaitu Ara.


"Yapp benar sekali, memang sedari dulu kan Baron ingin mendirikan bengkel serta pencucian mobil dan motor. Terus karena Baron yang tiba-tiba lumpuh, jadi niat Baron itu berhenti seketika." ucap Baron seraya menatap kedua perempuan beda usia dihadapannya itu.


"Oh, jadi begitu. Yang penting kalian jangan lagi berbisnis yang ada sangkut pautnya dengan ular, kalau tidak kalian bisa menjadi siluman ular untuk selamanya!" seru Ara yang sedikit mengingatkan dan mengancam,


"Iya, kami mengerti!" balas Baron dan Bu Misnah yang hampir bersamaan.


"Terus kita mulai usahanya kapan?" tanya Ara seraya menatap Bu Misnah dan Baron bergantian.


"Bagaimana kalau kita mulai besok?" ajak Bu Misnah yang menatap Ara dan Baron satu-persatu.


"Hm...! boleh juga, lagi pula Anin kan juga bosan di rumah terus!" jawab Ara sambil menganggukkan kepalanya.


"Tapi kalau Baron kan butuh modal dulu!" seru Baron yang menatap ibu Misnah dengan sorot mata yang bisa ditebak oleh Bu Misnah.


"Tenang saja ibu masih ada sedikit simpan uang, jadi kamu jangan khawatir!" ucap Bu Misnah sembari mengulas senyumnya.


"Iya tentu saja, besok kak Baron mau membersihkan gudang dan


01 mengecatnya!" balas orang wanita beda usia yaBaron yang kemudian menyuapkan makanan yang adake mulutnya.


"Oke, sekarang kita bahas yang ringan-ringan saja ya!" seru Bu Misnah yang juga seraya memakan makanan yang ada dihadapannya.


"Iya Bu!" jawab Ara dan Baron yang serempak.


Mereka kemudian sibuk menghabiskan makanan dan minuman yang ada dihadapan mereka.


Kemudian mereka membicarakan sesuatu tentang hal makanan, minuman, dan masa-masa sekolah Baron.


Ketiganya pun saling canda dan tertawa bersama-sama. Dan kejadian itu berlangsung cukup l


Hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat, dan malam semakin larut.

__ADS_1


"Sudah larut malam, bagaimana kalau kita sudahi acara kita malam ini. Kita harus istirahat buat persiapan stamina kita esok hari!" seru Bu Misnah yang mengingatkan.


"Benar juga, ayo sebaiknya kita kembali ke kamar kita masing-masing!" seru Baron dan mereka bangkit dari duduk mereka di taman.


"Iya, ayo kita istirahat, biar ini semuanya para pelayan yang membereskannya." ucap Bu Misnah.


"Iya, baiklah." jawab Ara dan mereka bertiga melangkahkan kaki keluar dari taman dan masuk ke rumah.


"Selamat malam semuanya!" salam Ara pada saat mereka sudah berada di ruang tamu.


"Malam juga Anin!" balas Baron yang bersamaan dengan ibunya.


Kemudian mereka berpisah melangkahkan kaki ke kamar masing-masing. Demikian pula dengan Ara yang sudah sampai di depan pintu kamarnya dan dia membuka pintu, lalu menutup serta menguncinya.


Setelah di mengunci pintu kamarnya dari dalam, Ara melangkahkan kaki menuju ke tempat tidur dan dia duduk di tepi tempat tidur tersebut.


"Kenapa aku malah membantu keluarga yang membantai rakyatku?" keluh Ara yang menarik nafasnya panjang.


"Baiklah, aku coba mereka bisa meninggalkan kebiasaan mereka yang dulu atau tidak!" gumam Ara yang kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Ara kemudian menarik selimut dan pandangan kedua matanya masih menerawang ke langit-langit kamarnya.


"Besok aku mulai membantu berjualan di kios Bu Misnah, yang itu berarti aku akan berinteraksi dengan banyak orang. Semoga saja tak ada yang bisa melihat waujudku yang sebenarnya!" masih gumam dalam hati Ara yang saat ini membayangkan jika dirinya bertemu banyak orang di kios nantinya.


Perlahan-lahan kedua mata Ara menutup dan Ara pun masuk ke dalam mimpinya.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2