
Kebakaran hebat itu disaksikan para ular-ular itu dengan senyum kemenangan mereka.
Ular emas itu kemudian berbalik dan melangkah dengan melata bergabung dengan para ular lainnya.
"Hidup tuan putri Ara!"
"Hidup tuan putri Ara!"
"Hidup tuan putri Ara!"
Begitu teriak para ular dengan cara mendesis, menyerukan semangat mereka mendukung putri raja siluman ular itu.
"Sudah-sudah dan terima kasih atas semuanya! kalian juga membantu dalam usaha pembebasan ini!" seru Ular emas itu dengan menebarkan pandangannya pada semua rakyatnya.
Semuanya terdiam dan menyimak apa yang akan dikatakan oleh Ular emas itu.
"Apakah masih ada saudara-saudara kita yang di tahan oleh mereka?" tanya Ular emas itu dengan tatapan yang serius.
"Masih ada tuan putri, dan rata-rata semua penduduk disini punya kotak kaca yang berisikan saudara-saudara kita!" seru salah satu dari para ular itu dengan mendesis.
"Baiklah, untuk yang lainnya biar aku dan kembalilah ke habitat kita. Dan jika ada manusia pemburu ular, sebaiknya kalian jangan keluar dari sarang kalian. Apa kalian mengerti!" seru Ular emas itu dengan lantang.
"Mengerti tuan putri!" seru semua ukar-ular itu, yang kemudian mereka pergi meninggalkan ular emas dan ular gadung itu sendiri di kebun belakang rumah yang sebelumnya menahan mereka.
Sementara itu Ular emas dan ular putih dan hijau itu melihat semuanya yang telah meninggalkannya, kemudian mereka melangkahkan kakinya dengan melata menuju ke tenda-tenda yang lainnya.
Sesampainya di tenda-tenda yang lainnya, Ular emas itu melangkahkan dengan melata menyelinap masuk ke tenda yang menjadi sasaran mereka.
Ular emas itu melakukan hal yang sama dengan yang tadi dia lakukan pada tenda sebelumnya. Mengalihkan perhatian para penduduk penghuni rumah tersebut dengan membuat kebakaran, dan kemudian membebaskan semua ular-ular yang di tahan oleh para para manusia penghuni tenda itu.
Hal itu mereka lakukan di setiap tenda yang menahan ular-ular dari Hutan larangan.
Suasana perkampungan yang tadinya sunyi, kini riuh dan kacau. Api membakar tenda-tenga dan para penduduk berbondong-bondong memadamkannya,
Sementara itu ular-ular yang telah lepas itu, melarikan diri menuju ke bagian lain dari hutan larangan.
Saat ini hanya tertinggal ular emas, ular putih, dan ular hijau yang berada di tengah-tengah tenda yang terbakar itu.
"Sepertinya tinggal tenda itu yang belum kita masuki!" seru si ular hijau yang menatap ke darah tenda warna coklat yang lain dari yang lainnya.
"Ayo kita lihat ada apa di tenda itu!" seru Ular emas yang penasaran.
__ADS_1
"Aku juga penasaran!" seru si ular putih dan akhirnya mereka menuju ke tenda yang dimaksudkan oleh si ular hijau.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di depan tenda tersebut, kemudian mereka menyelinap di bawah kain tenda untuk bisa masuk ke dalam tenda warna coklat tersebut.
Ketiga ular itu tercengang mana kala melihat apa yang ada dihadapannya.
"Itu bukannya Weling dan si hitam?" tanya Ular emas dengan wajah yang sangat terkejut.
''Iya itu memang mereka!" jawab si ular putih yang membenarkan apa yang ditanyakan oleh si ular emas itu.
"Kita harus bebaskan mereka sebelum para manusia mengetahui keberadaan kita!" seru si ular hijau itu yang mengingatkan.
Karena saat ini dihadapan mereka kedua ular laki-laki yang berwarna hitam dan Bercorak hitam dan putih itu berada di dalam kotak kaca yang terletak di atas meja di tengah ruangan dalam tenda tersebut.
"Benar, ayo kita bebaskan mereka!" seru si Ular emas dan kedua ular lainnya itu menyetujuinya.
Ketiga ular beda warna itu mendekati kotak kaca yang dimana kedua teman laki-laki mereka berada didalamnya.
Tiba-tiba ada beberapa orang yang masuk ke tenda, dan mereka tahu keberadaan Ular emas, ular putih dan juga ular hijau.
"Hei ada ular, apa mereka ular yang pernah kita tanggap sebelumny?" tanya salah satu orang yang penasaran dengan keberadaan ular emas dan ular yang lainnya itu.
"Tidak, aku belum pernah melihat ular itu!" jawab laki-laki yang ada di sebelah laki-laki itu dengan diikuti anggukkan beberapa laki-laki yang lainnya.
"Entahlah, kita tangkap saja!" seru laki-laki yang ada di sebelah laki-laki yang bertanya tadi dengan rambut sebahunya.
"Baik!" seru mereka bersamaan dan mereka mengambil alat penangkap ular, sedangkan ular emas itu mengetahui gelagat para manusia itu. Dia pun membagi tugas dengan kedua sahabatnya itu.
"Kalian berdua, bebaskan weling dan hitam. Aku akan menghadapi para manusia itu!" perintah ular emas itu yang sudah bersiap menghadapi para manusia itu.
"Iya, hati-hati tuan putri!" pesan si ular putih yang mengingatkan.
Ular emas itu menganggukkan kepalanya dan mengubah ukuran tubuhnya menjadi besar dan hal itu membuat para manusia yang ada dihadapan ular emas itu sangat terkejut.
"Apakah itu? ular raksasa?" bisik beberapa orang diantara orang-orang itu.
"Ah, apa boleh buat kita serang dia!" seru salah satu dari orang-orang itu.
"Ambil tombak dan senjata seadaanya!" seru laki-laki yang lainnya dan mereka mengambil tombak dan senjata lainnya yang ada disamping pintu tenda itu.
Setelah mendapatkan senjata-senjata itu, mereka menyerang ular emas raksasa itu dengan bergantian.
__ADS_1
"Weeet...! weeet ..weeet...!"
Suara senjata yang berayun tak mengenai sasarannya.
"Weeet...! weeet ..weeet...!"
Kembali serangan secara bergantian, dan ternyata para manusia itu yang malah terpojok.
Mereka bergantian keluar dari tenda, dan ular emas itu mengikuti mereka. Tanpa di duga oleh si ular emas itu, para manusia yang melawannya itu mengepung ular emas itu dan bersiap menyerangnya.
"Weeet...! weeet ..weeet...!"
Kembali para manusia itu menyerang ular emas itu, dan kali ini mereka tak bergantian. Tapi secara bersamaan menyerang Ular emas itu.
Kali ini ular emas itu terpojok, dan dia mengembangkan kepalanya menjadi tujuh kemudian mengeluarkan suaranya.
"Ketahuilah kalau aku adalah putri raja dari kerajaan siluman ular yang menghuni di hutan terlarang ini. Dan aku mengetahui niat buruk kalian! karena itulah, kalian sepantasnyalah dihukum!" seru ular emas itu dengan geramnya.
"Apa putri raja siluman ular? Kurang ajar kau, serang dia!" seru salah satu orang yang terus memerintahkan orang-orang yang bersamanya untuk menyerang Ular berkepala lima itu.
Dan dengan sedikit ketakutan, para manusia itu menyerang Ara dengan senjata seadanya yang ada di tangan mereka masing-masing.
"Ciaaat!"
"Weeet...! weeeet...!" seru para pekerja yang menyerang Ular yang berkepala tujuh itu.
Dengan melenggak-lenggok Ular berkepala lima itu menghindari setiap sabetan dan tebasan dari senjata tajam para pekerja Misnah.
Ketika ada kesempatan untuk menyerang balik, siluman ular emas yang sudah mengembangkan kepalanya itu, membuat serangan balik.
Ular emas itu mematuk kepala orang-orang yang ada dihadapannya.
Satu-persatu para manusia itu akhirnya jatuh tak berdaya. Dan pada saat ini hanya tinggal satu orang yang kemudian dia melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya..
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...