
Kedua mata mereka saling menatap secara intens.
"Kak Langit ingin selalu bersama kamu!" bisik Langit seraya mengulas senyumnya.
Ara menganggukkan kepalanya dan mereka kemudian memposisikan berbaring berdampingan di atas tempat tidur itu.
Kemudian Ara memposisikan dirinya menghadap ke arah Langit, dan Langit yang melihat hal itu ikut memposisikan dirinya menghadap ke arah gadis cantik di hadapannya.
Langit membelai lembut wajah Ara, dan Ara menikmatinya.
"Ara sayang." panggil langit dengan lirih.
"Iya kak." jawab Ara yang menatap ke arah Langit dengan intens.
Kemudian Langit mengecup kening dan dilanjut pada bibir mungil Ara, dan Ara pun menikmatinya. Kedua bibir anak manusia dan siluman itu saling bertaut, dan cukup lama mereka melakukannya dan perlahan-lahan ciuman Langit menuruni leher jenjang Ara.
Gadis siluman ular itu menggeliat dan menikmati buaian lembut ciuman Langit.
Perlahan-lahan Langit membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuh pujaan hatinya.
Langit melepas pakaiannya satu persatu dan saat ini menempel padanya, keduanya dalam kondisi tanpa busana sama sekali.
Mereka kemudian saling berpelukan dan Langit mulai menggerayangi tubuh mulus gadis yang ada dibawahnya saat ini.
"Bersiaplah sayang, kak Langit akan membuat kita bersatu selamanya." bisik Langit yang kemudian memasukkan miliknya pada milik Ara, dengan perlahan-lahan naik dan turun dengan irama yang lembut dan berlanjut dengan cepat.
"Aaaghh...!"
Ara menggeliat merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Kak Langit, aahhh...!"
"Sayang nikmatilah, kak Langit juga menikmati proses kita ini!" bisik Langit yang terus diatas Ara dan mereka menumpahkan asmara mereka, dan pada akhirnya benih cinta Langit tertanam di milik Ara.
"Bersiaplah sayang, bersiaplah Ara sayangku!" bisik Langit yang telah mengalirkan ratusan benihnya kedalam milik Ara.
"Kak Langit, ahh..!" seru Ara sembari memejamkan kedua matanya menikmati ratusan benih yang masuk ke rongga miliknya.
Dengan napas tersengal-sengal, Langit merebahkan dirinya di samping Ara. Demikian pula dengan Ara yang berusaha mengatur napasnya.
Kedua sejoli itu mengeluarkan keringat yang bercucuran membasahi tubuh dan perlahan-lahan mereka saling memejamkan kedua mata mereka.
Waktu tak terasa terus bergulir, sinar matahari menerobos masuk ke dalam sela-sela tirai jendela kamar Ara dan menerpa wajah kedua sejoli yang sedang terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Perlahan-lahan Ara membuka kedua matanya dan menebarkan pandangannya ke sekitar tempat tidur, Ara melihat sesosok laki-laki di sampingnya yang juga membuka kedua matanya itu menatap ke arahnya.
"Selamat sore." sapa Langit seraya mengulas senyumnya.
"Sore juga!" jawab Ara yang membalas dengan senyuman juga.
Langit kemudian mencium kening pujaan hatinya yang masih bermalas-malasan di tempatnya.
"Sayang, kak Langit mau lagi!" bisik Langit di telinga Ara.
"Hah! mau apa kak?" tanya Ara dengan polosnya.
"Hm, tanam benih sayang!" bisik Langit yang memposisikan tubuhnya menghadap ke tubuh Ara.
"Tanam benih lagi?" tanya Ara yang masih bingung.
Tanpa menunggu persetujuan dari Ara, Langit mencium kedua pipi mulus Ara dan perlahan-lahan ke leher jenjang gadis siluman ular itu.
Kekasih Ara itu kemudian membuat stempel kepemilikan di leher kiri bagian bawah kekasihnya. Dan banyak tanda merah yang dibuat oleh Langit.
Perlahan tangan Langit menyusuri dada dan mendapati gunung kembar gadis pujaannya itu. Kemudian Langit memainkan kedua gunung kembar itu dengan perlahan-lahan.
"Bersiaplah sayang, kak Langit akan membuat kita bersatu selamanya." bisik Langit yang kemudian memasukkan miliknya pada milik Ara, dengan perlahan-lahan naik dan turun dengan irama yang lembut dan berlanjut dan lanjut dengan cepat.
"Aaaghh...!"
"Kak Langit, aahhh...!"
"Sayang nikmatilah, kak Langit juga menikmati proses kita ini!" bisik Langit yang saat ini ada diatas Ara dan mereka menumpahkan asmara mereka, pada akhirnya benih cinta Langit tertanam di milik Ara.
"Bersiaplah sayang, bersiaplah Ara sayangku!" bisik Langit yang telah mengalirkan ratusan benihnya ke dalam milik Ara.
"Kak Langit, ahh..!" seru Ara sembari memejamkan kedua matanya menikmati ratusan benih yang masuk ke rongga miliknya.
Dengan napas tersengal-sengal, Langit kembali merebahkan dirinya di samping Ara. Demikian pula dengan Ara yang berusaha mengatur napasnya.
"Kamu hebat sayang, kak Langit bangga padamu!" bisik Langit sembari mengusap lembut kepala Ara yang mengulas senyum pada Langit.
"Kak Langit, Ara sangat cinta sama kak Langit. Apapun Ara berikan untuk kak Langit, kak Langit janji akan selalu bersama Ara." pinta Ara sembari membalas mengusap kepala Langit dengan lembut.
"Iya sayang, pasti kak Langit akan selalu bersama istriku yang paling cantik ini." bisik Langit sembari mengecup kening Ara. Putri siluman ular itu pun mengulas senyumnya dengan lembut.
...***...
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, hari sudah mendekati hari yang mereka nantikan untuk menyatukan ayah langit dengan ibu kandung Baron. Yang ternyata sewaktu muda mereka adalah sahabat karib dan terpisahkan karena kepentingan masing-masing.
Kemudian Langit berpamitan pada Darjo dengan alasan mengantarkan peralatan bengkel pesanan Baron sekaligus membantu Baron dalam usaha bengkelnya.
"Ayah, Langit pamit ya!" ucap Langit saat berpamitan dengan ayahnya.
"Kamu sendirian?" tanya Darjo yang penasaran.
"Iya, Ara tidak bisa ikut karena pekerjaan rumahnya masih menumpuk yah. Langit titp jaga istri Langit ya yah!" pesan Langit.
"Iya, kamu juga harus berhati-hati di jalan!" balas pesan Darjo.
"Iya Yah!" jawab Langit seraya melambaikan tangannya dan Darjo pun ikut melambaikan tangannya juga.
Langit yang membawa beberapa barang itu, kemudian menyalakan mobinya dan kemudian melaju menyusuri jalan raya melajukan kendaraannya ke jalan raya yang menuju ke rumah Ranti.
Namun sebelumnya Langit menuju ke rumah-rumah kerabat dan berapa teman Darjo yang Langit kenal dan ketahui rumahnya. Suami Ara itu memberikan undangan makan malam bersama, untuk memperingati hari ulang tahun aya
Setelah selesai, Langit melajukan mobilnya menuju ke rumah mertuanya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Langit telah sampai di tempat yang dia tuju. Setelah menepi dan memarkirkan mobilnya, Langit keluar dari mobil dan melangkahkan kaki masuk ke halaman rumah Ranti.
Langit disambut dengan senyum mengembang di bibir Baron.
Baron kemudian mempersilahkan sahabat yang sekaligus adik ipar angkat itu. Dan Langit.
Setelah mengutarakan maksudnya, kemudian Langit berpamitan pada Baron, Langit kali ini tak menemui Ranti, dikarenakan Ranti masih sibuk di ruko-ruko milik Ranti.
Setelah berpamitan dengan Baron, Langit melangkahkan menuju ke teras rumah Ranti, dan Baron mengikuti Langit dengan mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki yang menuju ke teras rumah.
Saat ini mereka sudah sampai di teras rumah dan setelah berpamitan dengan Baron, Langit pun masuk ke mobilnya dan kemudian melaju menyusuri jalan raya yang menuju ke rumahnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1