Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Pulang Bersama Baron


__ADS_3

Setelah itu Ara melangkahkan kakinya menuju ke halaman supermarket, dimana sudah banyak orang disana. Entah sekedar melihat situasi kebakaran itu, atau ada keluarga mereka yang berada di dalam supermarket.


Tiba-tiba saja ada suara laki-laki yang memanggil nama samarannya.


"Anin!"


Ara yang merasa namanya dipanggil itu menoleh dan mencari sumber suara panggilan itu.


"Kak Baron!" panggil Ara pada saat melihat sesosok laki-laki yang dia kenal itu.


"Anin!" panggil laki-laki itu sekali lagi, yang tak lain adalah Baron.


"Kak Baron sangat mengkhawatirkan kamu!" seru Baron yang kemudian memeluk tubuh Ara dengan eratnya,


"Kak Baron, kenapa kak Baron bisa berada disini?" tanya Ara yang penasaran dan kemudian melepaskan pelukan Baron.


"Iya, setelah ada yang memberitahu kalau ada kebakaran di Supermarket ini, karena itulah aku bergegas kemari dengan menggunakan sepeda motorku." jawab Baron yang menjelaskan.


"Oh, begitu ya! sekarang dimanakah sepeda motor yang kak Baron ?" ucap Ara yang berbalik untuk bertanya.


"Itu!" jawab Baron seraya menunjuk ke arah sepeda motornya.


"Ayo kita kesana kak! dan kita segera pulang!" ajak Ara dengan semangat.


"Iya, ayo...!" jawab Baron dan keduanya mempercepat langkah kakinya menuju ke arah sepeda motor tersebut.


Tak berapa lama langkah mereka telah sampai dimana sepeda motor itu berada. Dan setelah memakai helm Ara segera membonceng di belakang Baron.


Kemudian Baron menyalakan sepedanya dan mereka melaju keluar dari halaman Supermarket itu.


Keduanya saling berbincang-bincang diatas sepeda motor yang terus melaju itu.


"Apakah kamu tahu penyebab dari kebakaran tadi?" tanya Baron di sepanjang jalan melaju menuju ke rumahnya.


"Katanya sih titik apinya dari dapur di salah satu restoran!" jawab Ara yang tak menceritakan hal sebenarnya pada Baron.


"Oh, apakah ada tabung gas yang meledak?" tanya Baron lagi yah masih penasaran


"Mungkin saja, karena tadi juga terdengar ledakan-ledakan." jawab Ara yang menatap ke depan dan menikmati angin yang menerpa wajahnya.


"Wah! saya yakin itu pasti ada tabung gas yang meledak!" seru Baron yang terus berkonsentrasi melajukan kendaraan bermotornya.


"Iya, mungkin saja!" sahut Ara dan mereka terus melaju melewati kendaraan lainnya di jalan raya yang mereka tempuh


Tiba-tiba saja ada gangguan di perjalanan mereka, sepeda yang mereka tumpangi mengalami pecah ban dan akibatnya sepeda itu oleng.

__ADS_1


"Dorr...!"


"Wah, gawat!" seru Baron yang kemudian menghentikan laju sepedanya.


"Ada apa kak?" tanya Ara yang penasaran.


"Nggak tahu nih! sepertinya ban pada roda sepeda motor sedang meletus. Kita cari tambal ban dulu disekitar tempat ini." jawab Baron sembari menebarkan pandangannya ke sekitar tempat mereka berdiri.


"Kak Baron, sebaiknya kak Baron tanya saja sama orang lewat disekitar sini!" seru Ara yang ikut menebarkan pandangannya ke sekitarnya.


"Iya, benar. Ternyata kamu pintar juga!"Seru Baron seraya mencubit kedua pipi Ara, yang tentu saja mengakibatkan kedua pipi Ara memerah.


"Aduh, kak Baron sakit nih!" seru Ara dengan manja, dan hal itu membuat Baron sangat gemas melihatnya.


"Tunggu sebentar ya!" bisik Baron di telinga Ara.


Sementara itu Ara menganggukan kepalanya, dan Baron kemudian berjalan menghampiri setiap orang yang berlalu lalang.


Laki-laki yang menjadi kakak angkat Ara itu, sedang bertanya ke setiap orang, sementara Ara menebarkan pandangannya kesekitarnya.


"Hm, kenapa aku merasa ada sesuatu di kampung sebelah itu ya?" gumam dalam hati Ara yang terus memandang sebuah perkampungan yang menarik perhatiannya.


"Anin.... Anin...!" panggil Baron sembari berlari menghampiri Ara.


"Apa sudah tahu tempat tambal ban-nya?" tanya Ara yang penasaran.


"Tunggu apa lagi, ayo kita ke sana!" ajak Baron, dan Ara pun mengikutinya. Keduanya kemudian melangkahkan kaki menuju ke perkampungan yang dimaksudkan.


Tak berapa lama mereka telah sampai di perkampungan yang di maksud itu, dan mereka mulai mencari orang yang bisa menambah ban mereka.


"Itu ada tanda tambal ban-nya!" seru Ara seraya menunjuk ke tanda ban dengan tulisan Tambal Ban.


"Benar juga! ayo percepat langkah kita!" seru Baron dengan nafas yang terengah-engah menuju ke sebuah bengkel kecil yang terdapat di tepi jalan itu.


"Pak, apa bisa menambah ban sepeda motor saya?" tanya Baron dengan sopan pada bapak penambal ban yang ada dihadapannya.


"Iya, bawa ke sini sepedanya!" seru si bapak penambal ban itu.


Baron mendekatkan sepeda motornya pada si bapak penambal ban, dan si bapak itu memeriksa ban sepeda motor Baron.


Ara dan Baron kemudian duduk di kursi yang ada di tempat itu.


Ketika Ara menebarkan pandangannya ke sekitarnya, putri siluman itu melihat seekor ular yang nampak terdapat luka-luka di punggungnya.


"Ada apa dengan ular itu? apa yang terjadi padanya?" gumam Ara yang penasaran.

__ADS_1


Kemudian Ara berdiri dan meminta ijin pada Baron.


"Kak Baron, Anin mau lihat-lihat sekitar tempat ini. Biar nggak bosan saja!" ucap Ara seraya menatap Baron.


"Iya, tapi jangan jauh-jauh ya!" pesan Baron yang membalas tatapan Ara,senyu


"Iya, jangan khawatir kak!" ucap Ara sembari mengulas senyumnya.


Dan Baron membalas senyuman adik angkatnya itu.


Setelah itu Ara melangkahkan kaki ke arah ular yang tadi terluka.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Ara telah menemukan ular tersebut.


"Hai ular! apa yang terjadi dengan kamu?" tanya Ara dengan bahasa ular.


"Kau bisa bahasa ular?" tanya ular yang terluka itu menatap Ara dengan penasaran.


"Aku putri Ara! tentu saja tahu bahasa ular!" jawab Ara.


"Pu...putri Ara? apa benar kamu putri Ara?" tanya ular itu yang bertambah penasaran.


Ara kemudian menebarkan pandangannya. Setelah dirasa aman, Ara merubah dirinya menjadi ular emas. Dan kini kedua ular ini saling berhadapan.


"U...ular emas! Kau memang putri Ara!" seru ular itu seraya menundukkan kepalanya.


"Sekarang ceritakan, ada apa dengan mu?" tanya Ara yang menatap ular penuh luka itu.


"Kampung ini semuanya mempunyai mata pencaharian pemburu ular tuan putri. Saat ini saya telah lolos dari jebakan para manusia." jawab ular yang terluka itu dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Pemburu ular?" tanya Ara yang penasaran.


"Iya, mereka memburu ular. Kemudian mereka menjualnya pada pengepul dan pawang ular." jawab ular itu dengan mendesis.


"Apakah kamu bisa tunjukkan padaku tempat mereka?" tanya Ara yang bersemangat.


"Bisa, tentu saja bisa Tuan putri!" jawab ular itu seraya menganggukkan kepalanya.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2