
Tak ada rasa takut dari dalam diri Darjo, bahkan Darjo semakin tak terkendali lagi.
Ayah Langit itu merapalkan mantra dan membuat cincin bermata merahnya menjadi sebuah pedang yang menyala merah.
"Weeet ..! weeet...! weeet ..!"
Pedang itu berkali-kali diputar-putar oleh Darjo. Dan kemudian dia mengarahkannya pada si Raja ular.
"Weeet ..! weeet...! weeet ..!"
Dengan gesit raja ular mampu menghindarinya, dan jika ada kesempatan si raja ular menyerang balik Darjo. Ayah Langit itupun terpukul mundur.
"Hah, kurang ajar!" seru Darjo yang kemudian melompat dan dengan gerakan cepat menyerang balik raja ular dan beberapa kali berusaha menghunuskan pedangnya ke tubuh raja siluman ular itu dan akhirnya pedang merah itu mampu menancap tepat di jantung hati si raja ular.
"Jlebb!"
"Aaaghh...!"
Raja siluman ular itu mengerang kesakitan dan tubuhnya yang semula ular berkepala tujuh itu, berangsur-angsur berubah wujud menjadi manusia. Dengan tangan kanannya memegang dada yang tertancap pedang merah milik Darjo.
"Kau!" seru raja ular dengan menahan rasa sakitnya.
"Raja!" panggil weling, hitam putih dan juga hijau secara bersamaan.
"Apakah kalian mau bernasib sama dengan raja kalian!" seru Darjo dengan tatapan sinisnya menatap ke-empat siluman ular sahabat Ara itu.
Bukannya takut, ke-empat siluman ular itu mengepung Darjo dan mereka bersiap siaga menyerang laki-laki yang membunuh raja mereka.
Para sahabat Ara itu mengeluarkan pedang masing-masing dan Darjo mencabut pedang yang menancap di tubuh si raja ular.
"Aaarghh...!"
Suara erangan dari si raja ular yang kesakitan karena pedang yang menancap di dadanya dicabut oleh si pemilik pedang.
"Empat siluman melawan satu manusia! ha...ha..!" seru Darjo yang tertawa lepas,
"Cih! kau harus mampus hari ini juga!" seru si Hitam yang mulai menyerang Darjo dengan pedang hitamnya.
"Weeet...! weeet ..!"
"Trang...! Trang...! Trang..!"
"Weeet...! weeet ..!"
"Trang...! Trang...! Trang..!"
"Aagrhh..!"
__ADS_1
"Hitaaam...!" seru siluman ular Weling, hijau dan putih secara bersamaan.
Siluman ular hitam itupun tersudut, dan kemudian siluman ular Weling, hijau dan juga putih maju dan bersiap menyerang Darjo.
"Weeet...! weeet ..!"
"Trang...! Trang...! Trang..!"
Kembali senjata tajam panjang itu saling beradu yang menghasilkan bunyi yang sangat nyaring.
"Weeet...! weeet ..!"
"Trang...! Trang...! Trang..!"
"Aagrhh..!"
Ketiga siluman ular itu terpukul mundur, karena mereka tak mampu menandingi Darjo yang seorang diri.
"Ha...ha...ha..!"
Suara tawa Darjo yang penuh kemenangan pun pecah.
"Apa kalian masih mau menyerangku lagi?" tanya Darjo dengan senyum sinisnya.
Ke-empat sahabat Ara saling pandang dan mereka kembali menyerang Darjo dengan tenaga dalam mereka.
Sementara itu Darjo juga menggunakan tenaga dalamnya yang dimana telapak tangannya terpancar cahaya merah dan kemudian beradu dengan empat sinar dari sahabat putri raja siluman ular itu.
Gelombang dan getaran dahsyat pun terjadi, hal itu mengakibatkan bangunan megah istana siluman itu bergetar hebat.
Pada akhirnya ke-empat siluman itu terpental sejauh dua meter ke belakang dan Darjo tetap berada diposisinya.
"Aaargh..!" suara erangan para siluman yang tak berdaya itu.
"Apa kelemahan dia, kenapa dia sangat sakti sekali!" gumam siluman ular putih yang merasakan tubuhnya yang sangat sakit.
"Entahlah!" ucap siluman ular hitam yang tak mampu lagi berpikir untuk memecahkan masalah ini.
"Yang mulia terluka parah!" seru siluman ular putih yang melihat ke arah si raja siluman ular itu.
"Apakah kita masih sanggup melawan laki-laki itu!" seru siluman ular hijau yang menahan rasa sakitnya.
"Ah, apakah ada pertolongan untuk kita?" gumam siluman ular Weling yang juga menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Hai, sudah yang ngrumpinya? sudah saatnya kalian menyusul raja kalian!" seru Darjo yang mulai berkomat-kamit dan mengeluarkan tenaga dalamnya untuk diarahkan pada keempat siluman ular yang masih muda itu.
"Sreet...! sreeet ..!"
__ADS_1
Namun tiba-tiba ada dua buah jarum kecil yang menancap di leher Darjo dan seketika itu juga Darjo ambruk tak berdaya lagi.
"Yang mulia Ratu!" panggil ke-empat siluman ular muda itu seketika tahu siapa yang membuat Darjo yang semula beringas menjadi tak berdaya itu.
"Kalian tak apa-apa kan?" tanya Ratu siluman ular yang menatap siluman ular Weling, hitam, hijau dan juga siluman ular putih itu.
"Kami tak apa-apa ratu, tapi yang mulia raja!" jawab ke-empat siluman ular itu yang hampir serempak dan mereka menghampiri tubuh raja siluman ular yang tergolek tak berdaya itu.
Dan ratu siluman ular itu juga bergegas menghampiri tubuh suaminya. Sampai di tubuh suaminya, ratu ular itu memeriksa keadaan suaminya dengan penuh rasa kekhawatiran.
"Suamiku!" panggil Ratu siluman ular itu yang mulai terdengar racau.
"Yang mulia Ratu, apa yang terjadi dengan yang mulia raja?" tanya siluman ular putih yang juga sangat khawatir itu.
"Tak dapat tertolong lagi!" jawab yang mulia Ratu, ibunda dari Ara itu memeluk tubuh suaminya dan terdengarlah suara tangisan pilu dari ratu siluman ular yang terus memeluk tubuh raja siluman ular yang sudah tak berdaya itu
Siluman ular putih dan juga siluman ular hijau saling pandang dan kemudian menghampiri tubuh raja siluman ular yang saat ini menghembuskan nafas terakhirnya.
"Suamiku!" panggil Ratu ular yang mulai menangis dengan tersedu-sedu.
...***...
Sementara itu siluman ular emas yang setelah berpisah dengan para sahabatnya, melangkahkan secara melata menyusuri jalanan yang yang mengarah ke arah goa dimana tempat pertemuannya dengan Langit.
"Sebaiknya aku bersemedi di goa itu." gumam Siluman ular emas itu yang terus melata.
Tak berapa lama, siluman ular emas itu telah sampai di depan goa dan ular emas itu terus melata dan menuju ke kamar kecil yang berada di dalam goa.
"Akhirnya aku sampai juga disini, sebaiknya aku bersemedi diatas batu yang biasa buat aku tidur itu." gumam si ular emas itu yang kemudian terus melangkah seperti ular pada umumnya, naik ke atas batu yang dia maksudkan dan mulailah ular emas itu melingkarkan tubuhnya.
Ular emas itu diam dan menutup matanya dan terus mengatur pernafasannya.
Tiba-tiba saja kedua mata siluman ular emas itu terbuka, tersirat kesedihan di kedua mata siluman ular emas itu.
"Ayahanda! kenapa bayangan ayahanda selalu ada di pelupuk mata ini?" gumam dalam hati ular emas itu yang tak terasa meneteskan air matanya.
"Rasanya ayahanda dan ibunda menyuruhku untuk pulang ke istana, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mereka?" masih gumam dalam hati siluman ular emas itu yang nampak sekali kegelisahannya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...