
Tak berapa lama mereka sudah menghabiskan enam buah apel itu berdua, dan keduanya kemudian mencari sungai untuk mencuci tangan dan sekaligus mencari sumber mata air yang jernih untuk minum mereka.
Setelah puas minum dan mengisi botol minum, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke istana siluman ular.
Di sepanjang jalan, Ara melihat kabut duka di sekitaran arah istana siluman ular.
"Ada kabut duka, apa yang telah terjadi?" tanya Ara dalam hati.
Ara menebarkan pandangannya ke sekitar tempatnya berdiri, dia mencari siluman ular yang bisa mintai informasi tentang apa yang terjadi di dalam istana.
"Kamu sedang apa Ra?" tanya Langit yang sedari tadi memperhatikan kekasihnya yang nampak gelisah itu.
"Kak, sepertinya memang ada sesuatu di istana saat ini!" jawab Ara yang terus melihat kabut duka itu.
"Ya sudah, kalau begitu percepat langkah kita menuju ke istana!" seru Langit.
"Ayo kak!" balas Ara dan keduanya mempercepat langkah mereka menuju ke istana siluman Ular.
Tak berapa lama mereka mereka telah sampai di depan pintu gerbang istana siluman ular, yang jika dalam mata awan hanya seperti mulut goa. Tapi jika dalam mata batin, ada sebuah pintu besar yang berwarna kuning keemasan dan nampaklah sebuah istana yang sangat megah dan mewah.
Penjaga pintu gerbang istana siluman ular itu menatap dua orang yang menghampiri mereka dengan tajam. Mereka penasaran dengan sesosok laki-laki yang bersama dengan putri raja mereka.
"Yang mulia putri Ara! ketiwasan yang mulia!" seru salah satu penjaga pintu gerbang istana itu yang menunduk hormat pada Ara.
"Ketiwasan yang bagaimana maksud kalian?" tanya Ara yang begitu cemas.
"Yang mulia raja, yang mulia raja telah wafat tuan putri!" jawab penjaga itu dengan nada bersedih.
"A...apa? ayahanda wafat!" seru Ara yang tak percaya dan dia menerobos kedua penjaga itu tanpa menghiraukan Langit di belakangnya.
"Ara, tunggu!" seru Langit yang hendak mengejar Ara, namun keburu dihadang oleh kedua penjaga pintu gerbang istana siluman ular itu.
"Berhenti! kau manusia, dilarang masuk!" seru salah satu penjaga pintu gerbang istana itu seraya mengayunkan tombaknya untuk menghadang Langit.
__ADS_1
"Aku kekasih tuan putri kalian, biarkan aku mengejar dia. Dia sedang berduka!" seru Langit, namun hal itu tak digubris oleh kedua penjaga pintu gerbang itu.
"Kami tak percaya dengan apa yang kamu katakan!" seru penjaga pintu gerbang yang lainnya itu yang juga menghadang dengan tombaknya.
"Ara.... Ara.....! tolong kak Langit!" seru Langit yang memanggil putri siluman ular yang juga kekasihnya.
Pada awalnya Ara tak mendengar panggilan Langit, tapi lama-kelamaan Ara mendengar panggilan Langit dan kemudian menoleh ke belakang. Ara melihat kekasihnya yang dihadang oleh dia penjaga pintu gerbang istana siluman ular tersebut.
"Lepaskan dia!" seru Ara yang sangat terkejut pada saat melihat kekasihnya yang dihadang oleh kedua penjaga tersebut.
"Ta...tapi tuan putri, dia manusia!" seru salah satu penjaga pintu gerbang itu dengan rasa penasarannya Karena putri rajanya berhubungan dengan seorang manusia.
"Dia kekasihku, lepaskan kak Langit!" seru Ara dengan lantang, dan berhasil membuat kedua penjaga pintu gerbang itu pun menurut padanya.
Setelah kedua penjaga pintu gerbang tadi melepaskannya, Langit buru-buru menghampiri kekasihnya.
"Terima kasih Ara." ucap Langit sembari mengulas senyumnya.
"Sama-sama kak, ma'af jika tadi Ara mendahului kak langit " ucap Ara dengan wajah tetap menyiratkan kesedihannya dan kecemasannya.
Ada rasa nyaman dalam diri Ara, dan putri siluman ular itu menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan.
Ara melangkah bersama dengan Langit menuju ke aula istana, dimana banyak orang berkerumun disana.
"Ada apa, kenapa semuanya berkerumun dan memakai pakaian serba hitam?" tanya Ara yang terus melihat ke sekitarnya, dimana banyak siluman ular yang berkerumun dengan aura kesedihan diantara mereka.
"Seperti ya apa yang dikatakan penjaga tadi ada benarnya juga!" jawab Langit yang juga memperhatikan suasana di sekitarnya.
"Tuan putri!" panggil prajurit penjaga pintu aula pada saat Ara dan Langit menghampirinya.
"Apa yang telah terjadi prajurit?" tanya Ara dengan wajah cemasnya.
"Yang mulia raja telah wafat, karena dibunuh manusia jahat yang tiba-tiba masuk ke kerjaan kita!" jawab prajurit penjaga pintu aula itu seraya menatap Ara dan berikutnya menatap Langit dengan tajam.
__ADS_1
"Ayahanda dibunuh manusia?" tanya Ara yang penasaran dan dia menoleh ke arah Langit.
"Apakah mungkin? jangan-jangan...!" jawab Langit yang menebak-nebak dan memandang Ara dengan rasa cemas yang amat dalam.
"Apa yang ada dipikiran kak Langit sama dengan dipikiran aku? jangan-jangan ayah kak Langit yang membunuh ayahandaku?" tanya dalam hati Ara yang memegang erat tangan Langit, kemudian menariknya masuk ke aula kerajaan.
Keduanya terus melangkah ke dalam aula tanpa menghiraukan banyak siluman ular yang memperhatikan mereka.
Tibalah Ara dan Langit di depan jasad ular raksasa yang bermahkota dan dipeluk dengan erat oleh wanita cantik yang mirip dengan Ara. Wanita cantik nan mempesona itu yang tak lain adalah ibunda Ara, Ratu siluman ular dan dibelakangnya ada empat siluman muda sebaya dengan Ara. Mereka adalah para sahabat Ara yaitu Putih, hijau, weling dan juga hitam.
"Ayahanda!" pekik Ara yang tahu jasad yang dipeluk oleh ibundanya, kemudian dengan duduk bersimpuh di samping jasad manusia setengah ular. Dari kepala sampai perut bertubuh manusia dan dari perut sampai ke kaki, berwujud ular yang berekor panjang.
Kemudian Ara memeluk jasad ayahanda yang sudah terbujur kaku itu.
"Ayahanda! Bangun ayahanda, bangun....!" racau Ara yang menangis tersedu-sedu.
"Putriku, Ara! kamu jangan pergi lagi nak! Ibunda tak mau kehilangan kamu." ucap Ratu siluman ular itu yang kemudian memeluk putri ya yang masih memeluk jasad ayahnya itu.
"Ibu, kenapa ayah sampai tiada? bukankah ayahanda punya kesaktian diatas para siluman lainnya? kenapa jadi seperti ini bunda?" tanya Ara yang penasaran dan penuh dengan linangan air mata.
"Ini karena seorang manusia, yang sudah ibu buat tak berdaya di ruang tahanan. Ibunda sendiri juga tak habis pikir, kenapa ayahanda kamu bisa dikalahkan oleh si manusia keparat itu!" jawab ratu Siluman ular itu dengan geramnya.
Tak berapa lama tubuh raja siluman ular itu mengeluarkan cahaya, dan tiba-tiba tubuhnya menghilang dan menjadi sebuah bola yang bersinar. Kemudian bola itu melayang dan membumbung tinggi ke angkasa.
"Ayahanda!" panggil Ara dan ratu siluman ular itu dengan nada lirih, namun bisa didengarkan oleh para siluman lainnya dan juga Langit.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...