
"Baiklah!" balas Langit dan kemudian mereka mengambil sapu dan tempat sampah untuk membuang sisik-sisik ular tersebut.
Pada saat melihat sisik-sisik tersebut, Langit sangatlah penasaran dengan bentuk sisik-sisik ular itu.
"Baron, aku penasaran dengan sisik-sisik ini. Bolehkan kalau aku membawanya untuk aku teliti di kampus nanti?" tanya Langit yang terus melihat ke arah sisik-sisik yang yerkumpul di tempat sampah.
"Tentu saja, lagi pula kalau aku buang di sekitar tempat ini, akan membuat curiga semua pelayan maupun pekerja yang masih tersisa." ucap Baron dan Langit pun mengangguk tanda mengerti.
Kemudian Langit mengambil kantong plastik yang ada di atas meja rias Ara, dan Langit memindahkan sisik-sisik ular dari tempat sampah itu ke dalam kantong plastik.
Setelah selesai dia memasukkan kantong plastik yang berisikan sisik-sisik ular itu ke dalam tas yang selalu dia bawa.
"Sebaiknya kita keluar dari kamar, dan kita tanyakan pada pelayan. Mungkin saja mereka tahubdimana keberadaan Anin saat ini!" seru Langit yang menyarankan pada Baron.
"Ah, benar juga! ayo kita keluar dari kamar ini!" seru Baron dan mereka melangkahkan kaki keluar dari kamar dengan melewati pintu kamar yang tadi telah mereka lewati.
Keduanya melangkahkan kaki menuruni tangga dan kemudian menuju ke ruang makan dan lanjut ke dapur.
"Bi...bibi..!" panggil Baron yang tentu saja membuat para pelayan yang sedang melakukan aktifitasnya di dapur itu sangatlah terkejut.
"A...ada apa tuan muda?" tanya salah satu pelayan uang segera menghampiri Baron dan Langit.
"Apakah bibi tahu dimana non Anin sekarang?" tanya Baron seraya menatap wajah pelayan yang ada dihadapannya.
"Non Anin tadi ikut nyonya naik mobil tuan muda!" jawab pelayan itu seraya menatap Baron penasaran.
"Ikut dengan ibu?" tanya Baron yang penasaran.
"Iya, apakah non Anin tidak berpamitan dengan tuan muda?" tanya pelayan itu yang penasaran.
"Tidak, tadi bilangnya dia mau menutup keran kamar mandinya!" jawab Baron yang mengusap kepalanya dengan kasar.
"Sudahlah kalau adik kamu bersama ibu Misnah saat ini, Dan sekarang sebaiknya kita berangkat ke kota untuk melengkapi bengkel kamu!" seru Langit yang mengingatkan tujuan semula mereka.
"Oiya, ayo kita berangkat sekarang juga!" seru Baron dan mereka kemudian melangkahkan kaki menuju ke mobil pick up warna hitam, dimana mobil itu dulunya sering dipakai pada saat membawa ular-ular buruan pak Misnah.
Mereka masuk ke mobil dengan pisisi Langit yang mengemudikannya. Perlahan-lahan mobil itu melaju meninggalkan rumah keluarga Misnah itu.
__ADS_1
Sementara itu ibu Misnah dan juga Ara yang saat ini berada di dalam mobil, dengan kecepatan sedang melaju menuju ke arah supermarket dimana kios pakaian milik Bu Misnah berada.
Tak berapa lama ibu Misnah menepikan mobilnya dan kemudian dia memarkirkan mobilnya di tepi jalan yang khusus untuk parkir mobil.
"Kita sudah sampai, ayo kita turun!" ajak Bu Misnah pada saat mobil sudah berhenti.
"Ah iya Bu!" jawab Ara yang kemudian melepaskan sabuk pengamannya demikian pula dengan ibu Misnah yang juga melepaskan sabuk pengamannya.
Setelah itu mereka turun dari mobil, dan melangkahkan kaki menuju ke supermarket dan terus melangkah menuju ke kios pakaian yang berada di lantai dua.
Keduanya naik eskalator agar cepat sampai di lantai dua.
"Kamu sudah bisa naik tangga berjalannya? he..he...he...!" goda Bu Misnah pada Ara seraya mengulas senyumnya.
"Ah, ibu masih ingat saja!" ucap Ara yang tersipu malu, jika mengingat kejadian kemarin.
Ibu Misnah yang masih tertawa dengan terpingkal-pingkal.
"Ibu...!" seru panggil Ara yang wajahnya memerah karena tersipu malu.
"Ha...ha...! Aduh sampai sakit perut ibu, jikaningat kejadian kemarin!" seru ibu Misnah seraya memegang perutnya.
Ara mensejajarkan langkahnya pada ibu Misnah. Dan tak berapa lama mereka sudah sampai di depan kios pakaian milik ibu Misnah.
"Nah kita sudah sampai, Ibu ambil kuncinya dulu ya!" seru ibu Misnah yang kemudian mengambil kunci kios pakaiannya.
"Iya Bu!" ucap Ara seraya melihat ke sekelilingnya yang banyak kios pakaian, tapi masih tutup itu.
"Akhirnya ketemu juga!" seru ibu Misnah pada saat menemukan kunci kiosnya. Kemudian Ibu Musnah membuka gembok pada pintu kios dan setelah itu dia membuka lebar-lebar kios tersebut.
"Anin nanti kamu keluarkan pakaian-pakaian yang buat contoh seperti kemarin ya!" seru Bu Misnah seraya menunjuk ke arah pakaian-pakaian yang di hanger.
"Iya Bu!" jawab Ara yang kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh Bu Misnah.
Dan keduanya sibuk dalam pekerjaan mereka, satu-persatu pembeli berdatangan untuk membeli pakaian maupun dagangan lainnya yang dijual di kios Bu Misnah.
Hari pun berlalu dengan cepatnya dan tak terasa sudah siang hari.
__ADS_1
Bu Misnah memesan makanan untuk mereka karena memang waktunya untuk makan siang.
Setelah makan siang, keduanya kembali melayani pembeli yang berdatangan.
Satu persatu pakaian dan dagangan lainnya yang dijual Bu Misnah terjual, dan saat ini stoknya pu menipis.
"Sepertinya ibu harus belanja untuk memenuhi kios!" seru Bu Misnah yang melihat dan menghitung stok-stok dagangannya.
"Kapan ibu mau belanjanya?" tanya Ara seraya melipat pakaian yang tadi dicoba oleh emak-emak yang tadi membeli pakaian di kios tersebut.
"Kemungkinan besok, jadi besok kamu akan menjaga kios sendirian setelah ibu antar sampai depan supermarket. Kamu sudah hafalkan jalan ke kios ini dari tempat parkir?" jawab sekaligus tanya ibu Misnah pada Ara.
"Jangan khawatir Bu, ingatan Anin masih tajam kok! he...he...!" balas Ara sembari mengulas senyumnya.
"Baguslah kamu memang putriku yang bisa aku andalkan!" seru Bu Misnah sembari memeluk dan mengusap kepala Ara dengan lembut.
Hari pun beranjak sore, mereka menutup kios dan kemudian melangkahkan kaki meninggalkan kios.
Sepanjang langkahnya menuruni tangga eskalator, pandangan Ara tak henti-hentinya melihat papan reklame dan nama toko maupun rumah makan.
"Warna-warna yang cantik!" seru Ara yang menebarkan pandangannya.
Pada saat melangkah menuju ke pintu keluar, tanpa sengaja dia melihat bayangan aslinya di kaca setiap pintu kaca toko-toko di supermarket.
A"Ah, aku lupa disini banyak sekali kaca!" gumam dalam hati Ara yang saat ini wajahnya nampak pucat pasi.
Kemudian mempercepat langkahnya agar ibu Misnah tak melihat dirinya di kaca-kaca yang mereka lewati.
Akhirnya mereka keluar dari supermarket itu dan melangkahkan kaki menuju ke tempat parkir mobil.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...