
Laki-laki itu menghampiri Ara dan menutup kedua mata Ara. Gadis siluman itu yang sedang asyik menikmati makanannya, tiba-tiba saja kaget karena keadaan menjadi gelap gulita.
"A..ada apakah ini?" tanya Ara yang penasaran dan memegang tangan Langit.
Kemudian tangan yang menutupi kedua matanya terbuka dan dia melihat seorang laki-laki yang sudah dia impikan,
"Kak langit!" panggil Ara yang mengulas senyumnya.Demikian pula dengan Langit yang juga mengulas senyumnya saat melihat ke arah Ara.
"Apa kabar kamu sayang!" sapa Langit dengan masih mengulas senyumnya.
"Baik kak!"Jawab Ara.
"Apakah kak Langit baru datang di goa ini?" tanya Ara yang penasaran.
"Sudah sejak tadi, cuma kak langit ada di belakang kamu, melihat kamu membuat perapian dan memanggang ayam hutan." jawab Langit yang mengulas senyumnya.
"Wah, lumayan lama donk! kenapa tak memanggilku sedari tadi?" tanya Ara yang penasaran.
"Memang sengaja, karena memperhatikan kamu sekarang jadi hobby aku!" canda sambil mengulas senyumnya.
"Ah, kak langit bisa-bisa saja!" seru Ara seraya mengulas senyumnya.
"Ha...ha...ha...!" dan Langit pun tertawa renyah. Kemudian keduanya saling berbagi cerita dan bercanda bersama.
"Sepertinya ayamnya sudah matang!" seru Langit yang kemudian mengangkat ayam panggang yang baru saja dia angkat dari perapian.
"Iya, hmm....! baunya, sangat menggoda! He...he....!" seru Ara yang menikmati bau sedap dari ayam panggang.
Kemudian keduanya makan ayam panggang itu bergantian dan kembali mereka saling bercanda seraya menikmati ayam hutan panggang itu.
"Ara buka mulutnya, saya suapin ya!" seru Langit yang sudah bersiap menyuapi Ara. Dan Ara membuka mulutnya sesuai perintah dari Langit.
"A.....!" Ara yang membuka mulutnya.
Langit hendak menyuapi Ara, namun kemudian suapan itu dia belokkan ke mulutnya sendiri.
"Eh, kak Langit bercanda ya!" seru Ara yang geregetan.
"He..he...he...! maaf ya, habisnya ternyata daging ayam hutan panggang ini lebih menggoda selera!" seru Langit yang bercanda.
"Jadi menurut kak Langit itu aku ini apa?" tanya Ara yang sekigus menguji langit.
"Kamu, emmm....! kamu ya kamu, kamu tidak seperti apa pun. Kamu malaikat kecil yang menghuni relung
hatiku yang paling dalam." jawab Langit seraya menatap wajah Ara dengan lembut.
"Dasar ngegombal ya?" ucap Ara seraya melempar tulang yang kecil ke arah Langit.
__ADS_1
"Eh, benar kok! kamu tak percaya?" jawab dan tanya Langit yang menatap Ara dalam-dalam dan Ara juga demikian.
Keduanya sama-sama mencari kejujuran diantara keduanya lewat bola mata masing-masing.
"Apa benar kak Langit bersungguh-sungguh mencintaiku?" tanya dalam hati Ara pada saat menatap kedua mata Langit.
"Ara, aku benar-benar menyukai dan menyayangimu. Adakah sinar cahaya mu untukku?" gumam dalam hati Langit yang mencari sesuatu dari mata Ara.
Cukup lama mereka saling menatap mata dan terlihat rona merah di wajah mereka masing-masing.
"Eh, Ara mau cuci tangan dulu!" seru Ara yang mengalihkan pandangan dan juga topik pembicaraannya.
Gadis siluman itu bangkit dari tidurnya dan melangkahkan kaki menuju ke aliran sungai kecil dalam goa, sedangkan Langit yang memandang Ara dengan mengulas senyumnya.
Tak berapa lama Langit menyusul Ara, dia juga berniat mencuci tangannya karena sehabis makan ayam hutan panggang tadi.
"Airnya jernih ya!" seru Langit saat sampai disamping ara dan mencuci mukanya.
"Iya, kak Langit cuci muka ya. Ara bantuin! he...he...!" ucap Ara seraya memercikkan air ke arah wajah Langit dan Langit berusaha menghindar dan kemudian membalasnya.
Adegan mereka saling balas memercikkan air sangatlah dramatis, tak ada yang mau kalah diantara mereka.
Beberapa saat kemudian Ara bangkit dari posisinya duduk jongkok di tepi sungai kecil itu dan melangkahkan kaki menjauh dari Langit yang masih mencoba menyerangnya.
Kemudian Langit mengejar Ara, dan adegan berganti saling kejar-kejaran dan diiringi tawa kecil diantara mereka.
Terlihat rona kebahagiaan terpancar diantara keduanya.
Langit menyudahi adegan mengangkat tubuh Ara dan kemudian posisi mereka saling berhadapan dan bertatap mata antara keduanya.
"Kamu cantik sekali Ara." ucap Langit yang membelai rambut Ara dengan lembut, dan wajah Ara nampak memerah karena tersipu malu.
Ara kemudian mengulas senyumnya dengan malu-malu dan demikian juga dengan langit.
"Ara, maukah kamu menjadi kekasih hatiku?" tanya Langit seraya menatap wajah Ara yang masih merona itu.
Ara diam dan memperhatikan wajah Langit dengan seksama.
"Hmm....!"
Ara menganggukkan kepalanya dengan pelan dan tersenyum dengan lebarnya dan dia memeluk Ara dengan eratnya.
Demikian pula dengan Ara yang menerima pelukan itu juga dengan eratnya. Keduanya saling berpelukan dan Ara sempat mendengar detak jantung Langit yang berdecak tak beraturan.
"Ara, kamu mau kan nanti jadi ibu dari anak-anakku?" tanya Langit yang menatap Ara yang masih dalam pelukannya.
"Lho, memangnya kak Langit sudah punya anak ya?" tanya Ara yang penasaran.
__ADS_1
"Belum, memangnya kenapa?" jawab Langit sekaligus balik bertanya.
"Lha itu tadi bilang ibu dari anak-anak kak Langit?" tanya Ara yang tambah penasaran.
"Eh, bukan itu maksud aku. Kalau kita menikah nantikan pasti punya anak, nah itulah yang kak Langit utarakan. Ibu dari anak-anak kita!" jelas Langit yang mengukas senyumnya.
"Oh, jadi maksudnya kita menikah lebih dulu ya?" tanya Ara yang juga menatap Langit dengan penasaran.
"Iya, tapi kita penjajakan dulu ya. Kamu kan harus mengenal aku terlebih dulu dan kamu juga harus mengenalku terlebih dahulu." jawab Langit dan keduanya kembali saling berpelukan, mereka kemudian saling bercerita dan saling bercanda gurau.
Tak terasa matahari bergulir dengan cepatnya dan matahari mulai beranjak ke ufuk barat.
Langit dan Ara keluar dari goa, mereka mencari sesuatu yang bisa untuk mereka makan sore dan malam nanti.
"Krusek...krusek...krusek...!"
Ada yang bergerak di semak-semak, keduanya saling pandang.
"Apa yang ada disana itu ya?" tanya Ara yang sebenarnya tahu dari Indra penciumannya. Namun dia berpura-pura saja agar Langit tak curiga pada dirinya.
"Entahlah, semoga saja makan malam kita!" seru Langit yang sudah memasang anak panahnya.
"Suiiit...!"
"Jlebb...!"
Anak panah itu menancap pada sasarannya, dan seketika itu juga semak-semak yang tadinya bergerak jadi tak bergerak lagi.
"Panahnya kena sasarannya!" seru Ara dan keduanya dengan setengah berlari menghampiri semak-semak tersebut.
Sesampainya di semak-semak, Langit mencari keberadaan anak panahnya. Dan memang benar anak panahnya menancap pada tubuh seekor kelinci yang hendak menju ke sarangnya.
"Kita dapat makan malam yang lezat nih Ra!" seru Langit yang mengulas senyumnya.
"Iya kak Langit, daging kelinci! hmmm....! Ara sudah membayangkan rasanya! he...he...!" ucap Ara yang centil, membuat Langit semakin gemas melihatnya.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1