
"Eh, kenapa kak Baron bicara begitu?" tanya Ara yang meletakkan gelasnya, karena sebelumnya dia sedang menghabiskan minumannya.
"Iya kali saja, namanya saja kalian sedang kasmaran!" jawab Baron yang mengulas senyumnya, kemudian dia bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu dan diikuti oleh Ara dan juga Bu Misnah.
"Tokk... tokk... tokk...!"
Kembali orang yang berada di depan pintu mengetuk pintu dengan kerasnya.
"Iya, sebentar! yang sabar ya!" seru Baron yang sudah berada di depan pintu utama rumah keluarga Misnah itu.
"Klek....klek...ceklek...!''
Baron membuka pintu dan terlihatlah seorang laki-laki tampan yang sangat familiar untuk Baron.
"Langit!" panggil Baron yang penasaran.
"He...he...! ma'af pagi-pagi aku kesini." ucap Langit yang menatap ke arah Baron.
"Nak Langit bibi kira siapa!" seru Bu Misnah yang mengulas senyumnya begitu melihat Langit.
"Iya bi, ma'af jika kedatangan Langit yang pagi-pagi sekali ini mengganggu keluarga kalian." ucap Langit yang tak enak hati.
"Kak Langit memangnya ada apa?" tanya Ara yang ikut menyembulkan kepalanya untuk melihat keberadaan Langit.
"Kedatangan saya karena untuk kita!" ucap Langit yang memandang Ara dengan keseriusan.
"Eh, masuk dulu kak Langit! mau minum kopi atau teh? biar Ara yang buatkan!" tanya Ara yang menawarkan dirinya.
"Iya nak! ayo masuk dulu!"ajak Bu Misnah seraya menarik tangan Langit. Baron dan Ara saling bertatapan dan juga saling mengulas senyum. Kemudian mereka melangkahkan kaki mengikuti Bu Misnah yang sedang menarik lengan Langit. Dan Langit ikut begitu saja pada saat lengannya ditarik oleh Bu Misnah menuju ke ruang makan.
Mereka kembali duduk di meja makan dan Ara membuatkan minuman kopi untuk mereka bertiga dan juga dirinya.
"Begini bi Misnah dan juga Baron, kedatangan saya kemari adalah untuk mengajak Ara ke hutan Larangan." ucap Langit yang mengutarakan maksudnya.
"Ke hutan larangan? untuk apa kamu ke sana?" tanya Bu Misnah yang menatap Langit dengan rasa penasarannya.
"Langit ingin mengenalkan Ara ke Ayah, dan saat ini ayah sedang berada hutan larangan." jawab Langit dengan semangat.
"Kamu tahu kan apa yang dilakukan ayah kamu di hutan larangan?" tanya Baron yang mengingatkan Langit.
"Tentu saja saya tahu hal itu Baron. Karena sebelum bapak kamu menjadi pemburu ular, Ayah Langit sudah menjadi pawang ular!" seru Langit yang menatap wajah Baron dengan penasaran.
"Nah karena itulah!" seru Baron yang menampakkan wajah seriusnya,
__ADS_1
"Apa maksud kamu!" tanya Langit yang penasaran.
"Tahu tidak kenapa aku tak meneruskan usaha Bapak dan aku bisa berjalan kembali?" tanya Baron dengan serius.
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Langit yang semakin penasaran.
"Itu karena Ara!" jawab Bu Misnah yang menyahut dengan berbisik.
"Karena Ara? Maksud kalian apa sih?" tanya Langit yang semakin penasaran.
"Hal itu karena Ara tak mengijinkannya!" jawab Baron dengan berbisik pula.
"Hm... hmm...! kenapa sih pakai acara berbisik-bisik segala?" tanya Ara pada saat keluar dari dapur dan menghampiri mereka, dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat empat buah cangkir yang berisikan minuman kopi.
"Oh tentang pekerjaan kok!" jawab Baron yang mengalihkan pembicaraan. Dan Langit pun mengerti maksud dari Baron.
Kemudian mereka saling berbincang-bincang tentang bengkel dan keseharian mereka,
Tibalah Langit yang mengutarakan maksudnya pada Ara, dan Ara mendengarkan apa yang akan Langit bicarakan.
"Ara sayang, kak Langit bersungguh-sungguh mencintaimu. Dan kak Langit berniat memperkenalkan Ara pada ayah kak Langit. Apakah kamu setuju dan mau dengan maksud dari kak Langit ini?" tanya Langit seraya menjelaskan apa maksudnya,
"Oh, tentu saja Ara setuju dan mau. Dan nanti akan Ara kenalkan kak Langit dengan kedua orang tua Ara.'' ucap Ara yang bersemangat.
"Iya!" jawab Ara yang mulai meminum secangkir kopi di tangannya,
"Ara, apa kamu tahu tujuan Langit mau kemana?" tanya Bu Misnah yang menatap wajah Ara dengan rasa cemas,
"Eh, memangnya kemana?" tanya Ara yang penasaran.
"Ke hutan Larangan." jawab Baron yang membuat Ara dengan tiba-tiba mengarahkan pandangan kedua matanya pada Baron.
"Ke hutan Larangan? mau apa ayah kak Langit ke hutan Larangan?" tanya Ara yang penasaran.
"Ara, ayah kak Langit berprofesi seperti bapak! kak Baron harap, Ara akan mengerti dengan pekerjaan ayah Langit." ucap Baron yang menjelaskan.
"Apakah maksudnya kalau ayah kak Langit seorang pemburu ular?" tanya Ara yang begitu terkejut dengan penjelasan Baron dan menatap Langit dengan rasa penasaran.
"Iya, memang hal itu benar adanya!" jawab Langit seraya menganggukkan kepalanya, yang membuat Ara tiba-tiba menjatuhkan cangkir kopi yang hendak dia minum.
"Prang!" Cangkir yang jatuh kelantai itu pecah dan kopi di dalamnya pun berantakan.
Hal itu membuat Langit, Baron, Bu Misnah dan juga para pelayan tersentak kaget.
__ADS_1
"A...apa pemburu ular?" ucap lirih Ara dengan gemetaran.
"Kamu kenapa Ara?" tanya Langit yang penasaran.
"Kak Langit tahu dengan apa yang menimpa kak Baron beberapa waktu yang lalu?" tanya Ara yang menatap Langit dengan serius.
Sementara itu Bu Misnah memanggil pelayannya untuk membersihkan cangkir dan sisa-sia kopi yang membuat lantai menjadi kotor itu.
"Iya, Baron yang lumpuh!" jawab Langit yang penasaran.
"Lumpuhnya kak Baron karena kutukan dari ular penyihir Vipera, karena itulah Ara melarang bentuk aktifitas yang berhubungan dengan ular. Apalagi kalau sampai menyakiti ular-ular tersebut." jelas Ara tetap dengan wajah seriusnya.
"Hm...! kalau begitu kita ingatkan ayah sama-sama!" seru Langit yang membalas dengan tatapan yang serius pula.
"Apakah kak Langit juga menentang profesi itu?" tanya Ara yang penasaran.
"Tentu saja kak Langit sangat menentangnya, karena hal itu bisa mengakibatkan rantai makanan menjadi kacau dan tahu akibatnya bagi para petani?" jawab sekaligus tanya dari Langit dengan wajah masih dengan keseriusannya
"Apa memangnya nak Langit?" tanya Bu Misnah yang sedari tadi memang mengikuti pembicaraan mereka.
"Hamba tikus yang meraja lela, itu karena tak ada ular yang memangsa mereka. Hal itu membuat para petani gagal panen!" jelas Langit yang sesuai penelitiannya.
"Oh, jadi begitu ya! kalau begitu, tunggu apa lagi! ayo kita peringatkan ayah kak Langit!" seru Ara dengan semangat.
"Iya, dan sekalian kak Langit kenalkan Ara dengan ayah kak Langit!" balas Seru Langit yang juga dengan semangat.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi! Segeralah kalian berangkat!" seru Baron yang ikut bersemangat.
"Jadi Ara boleh ikut bersama kak Langit ke hutan Larangan bu, kak Baron?" tanya Ara yang memastikannya.
"Iya, asal kalian hati-hati. Dan sampaikan salam ibu pada ayah kamu nak Langit!" balas Bu Misnah sembari mengulas senyumnya dan demikian pula dengan Baron.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1