
"I...iya nona, tubuh mereka membiru!" jawab pelayan itu dengan wajah kengeriannya, menatap Ara.
"Membiru?" tanya Ara yang pura-pura penasaran.
"Benar semua tubuh mereka membiru." jawab pelayan itu yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, itu menandakan kalau pelayan itu membayangkan sesuatu yang membuatnya takut.
"Malang sekali mereka, andai aku melihat kejadian itu mungkin aku akan setakut bibi!" ucap Ara yang menatap wajah pelayan yang ada dihadapannya.
"Oh iya, nona silahkan lanjutkan makannya. Saya mau ke dapur, bantu yang lainnya memasak." ucap pelayan itu yang bangkit dari duduknya.
"Iya Bi!" jawab Ara seraya menganggukkan kepalanya.
Kemudian Ara kembali melahap makanannya, sementara pelayan keluarga Misnah melangkahkan kakinya ke dapur.
Beberapa saat kemudian, Ara telah menyelesaikan makan siangnya. Gadis siluman ular itu membawa piring dan gelasnya ke dapur.
Namun ketika sampai di pintu dapur, Ara mendengar percakapan dari para pelayan yang ada di dapur.
"Kita lihat nanti malam, siapa yang akan diberhentikan kerja oleh nyonya!" seru pelayan pertama..
"Iya, sejak tuan tidak ada, nyonya mengurangi jumlah pekerja dan juga pelayannya!" ucap pelayan kedua.
"Mungkin nanti malam giliran kita!" ucap pelayan ketiga yang tadi melayani Ara.
"Kalau kita berhenti kerja, kita jadi pengangguran donk!" ucap pelayan keempat.
"Lantas keluarga kita bagaimana, anak-anak kita kan butuh sekolah juga!" seru pelayan kedua yang cemas dengan keuangannya.
"Mana aku masih punya banyak kreditan!":seru pelayan pertama.
"Kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi." ucap pelayan ketiga.
Sementara itu Ara yang mendengar percakapan Ara pelayan itu, menghela nafasnya panjang dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.
"Dampak kematian pak Misnah sangat besar buat mereka. Tapi bagiku kalau orang-orang seperti pak Misnah tidak segera dimusnahkan, akan berakibat pada rakyat dan juga kerajaan siluman ular." ucap dalam hati Ara yang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dapur.
"Hm...hm...! ma'af saya sudah selesai makan, ini piring bekasnya." ucap Ara seraya memberikan piring bekas makannya pada salah satu pelayan yang ada di dapur.
"Iya nona, nona sebaiknya beristirahat karena nona pastinya lelah setelah perjalanan jauh." ucap pelayan ketiga pada Ara.
"Benar, saya sangat lelah sekali. Ara pamit mau ke kamar ya!" ucap Ara sembari mengulas senyumnya.
"Iya nona." jawab semua pelayan yang mendengar ucapan Ara.
Gadis siluman ular itu kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar yang biasa dia tempati di rumah keluarga Misnah itu.
__ADS_1
Setelah membuka dan menutup pintu kamarnya, Ara mengunci pintu kamar tersebut.
Putri siluman ular itu melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur, dan kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Perlahan-lahan gadis siluman ular itu memejamkan kedua matanya, dan dia terlelap dalam tidurnya.
Sementara itu di halaman depan rumah keluarga Misnah, ada sebuah mobil mewah yang berhenti.
Dan tak berapa lama keluarlah ibu Misnah dan juga Baron yang dibantu oleh sopir mereka, keluar dari mobil mewah itu.
Kemudian ibu Misnah mendorong Baron melangkahkan kakinya menuju ke teras rumah mereka.
Kemudian Bu Misnah mengetuk pintu rumah besar itu.
"Tokk... tokk... tokk...!"
"Siapa?" tanya seseorang dari dalam rumah yang tak lain pelayan rumah besarnya.
"Saya Bu Misnah!" jawab Anin dengan jujur.
Tak berapa lama ada pelayan rumah besar itu membukakan pintu.
"Klek....klek..... ceklek!"
"Selamat datang nyonya dan tuan muda!" ucap pelayan yang membukakan pintu utama dan melihat ke arah Bu Misnah dan juga Baron.
"Ada nyonya!" jawab pelayan yang tadi membukakan pintu untuk mereka.
"Nona Anin nyonya!" jawab pelayan itu yang berjalan di belakang Bu Misnah.
"Anin! dari mana saja dia?" tanya ibu misnah yang kemudian menghentikan langkahnya, terlihat wajahnya yang sedikit kesal.
"Kata nona Anin, dia tersesat saat berjalan-jalan keluar dari rumah ini nyonya." jawab pelayan itu.
"Sekarang dimana dia, bi?" tanya Baron yang bersemangat.
"Non Anin saat ini sedang berada di kamarnya tuan muda, Dia sedang istirahat, tadi sempat kami lihat wajahnya yang terlihat pucat pasi." jawab pelayan yang lainnya.
"Pucat pasi?" tanya Bu Misnah yang terkejut.
"I....iya nyonya." jawab pelayan yang berada di belakang Bu Misnah.
"Kalau begitu, biarkan dia istirahat terlebih dahulu. Dan kami mau makan siang, tolong siapkan makanan untuk kami!" ucap dan perintah Bu Misnah.
"Ba...baik nyonya!" jawab salah satu dari pelayan dan mereka menuju ke dapur dan memindahkan makanan ke meja makan uang berada di ruang makan.
__ADS_1
Tak berapa lama makanan sudah tersaji, Bu Misnah dan Baron melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan dan mereka kemudian makan bersama.
Keduanya makan dengan lahapnya, seraya memperbincangkan apa yang akan mereka lakukan untuk memperbaiki ekonomi keluarga.
Sejak ditinggal pak Misnah, ekonomi keluarga Misnah carut-marut.
"Bu, apakah ibu akan memberhentikan lagi beberapa pekerja dan pelayan kita?" tanya Baron di sela-sela makannya.
"Sepertinya iya, putraku. Ibu sudah tak sanggup menggaji mereka." ucap Bu Misnah setelah menyelesaikan makannya dan kemudian dia meminum minuman yang ada disampingnya
"Lama-lama kita akan kesepian Bu!" ucap Baron yang juga sudah menyelesaikan makannnya.
"Ya apa boleh buat!" sahut Bu Misnah yang menatap ke arah putra semata wayangnya Baron.
"Andai aku bisa berjalan Bu. Aku juga bisa bantu ekonomi kita." keluh Baron yang menatap dan kemudian memukuli kedua kakinya.
"Bugh.... bugh... bugh...!"
"Sudah Baron! sudah, buat apa kamu seperti itu! ini sudah jadi takdir kita! seru Bu Misnah yang berusaha menenangkan putranya.
"Kenapa juga bapak punya usaha ikut-ikutan sama om Darjo, om Endar dan yang lainnya! Kenapa juga mereka tak ada yang mengalami seperti aku!" seru Baron dengan penuh kekesalan.
"Sudah, sudah Baron! nasi sudah menjadi bubur. Sekarang kita fokus sama usaha ibu saja! berjualan pakaian di kios-kios pasar." ucap Bu Misnah yang mencoba menenangkan putranya.
"Apa kita bisa bertahan Bu dengan kios-kios pakaian yang sedang sepi saat ini?" tanya Baron yang khawatir.
"Kalau untuk sekedar makan, pastinya kita sudah cukup." ucap Bu Misnah yang menatap ke arah putranya.
Baron hanya diam, namun dalam hatinya bergejolak. Berpikir untuk mengembangkan usaha ibunya agak lebih maju.
"Sebaiknya kita istirahat sebentar, ibu antar ke kamar ya!" seru Bu Misnah yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Iya Bu, Baron juga sangat lelah!" ucap Baron yang menatap ibunya yang melangkahkan kaki ke aranhnya.
Bu misnah kemudian mendorong putranya menuju ke kamarnya.
Tak berapa lama mereka telah sampai ke depan kamar Baron, setelah membuka pintu kembali Bu Misnah mendorong putranya yang masih duduk di kursi roda, untuk masuk ke kamarnya.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...