
Beberapa saat kemudian Ara sudah dalam kondisi sebelumnya. Tenaganya sudah pulih kembali, karena sebelumnya sudah habis untuk mengeluarkan racun dalam tubuh Darjo.
"Ayo kita makan perutku sudah lapar sekali!" ajak Ara pada siluman ular putih,
"Baik, ayo perutku juga sudah tak tahan lagi!" balas siluman ular putih, dan mereka melangkahkan kaki meninggalkan Darjo dan menghampiri Langit yang sedang membakar tiga ekor ayam hasil buruan siluman ular putih.
"Kak, sudah matang ya?' tanya Ara yang kemudian menerima dua ekor ayam panggang.
"Iya, dan satu lagi itu berikan pada si putih." ucap Langit Dan kemudian memberikan satu ayam panggang pada siluman ular putih yang menghampirinya.
"Iya, kak!" balas Ara yang kemudian memberikan ayam panggang itu pada sahabatnya si putih.
"Terimalah dan makanlah!" seru Ara pada saat membagikan satu ekor ayam panggang itu pada siluman ular putih.
Dan siluman ular putih itu mengangguk dan menerimanya, kemudian mereka makan bersama-sama seraya bercerita dan bercanda gurau.
"Sahabatku putih, nanti ikut denganku sebentar ya, kita akan mencari tanaman liar untuk menyembuhkan ayah kak Langit!' pinta Ara pada sahabatnya seraya memakan ayam panggang yang ada dihadapannya.
"Oh, siap sahabatnya. Tapi bagaimana dengan Kak Langit dan ayahnya?" balas sekaligus tanya siluman ular putih pada Ara.
"Sebaiknya ayah kak Langit dibawa ke goa kecil yang kami gunakan sebagai kamar. Dan kak Langit bisa menjaga ayah kak langit disana. Nanti aku akan menutup pintu goa itu dengan dinding cahaya yang akan melindungi kak Langit dan juga ayah kak langit dari bahaya siluman-siluman lain." jelas Ara seraya menatap Langit.
"Baiklah, saya ikut saja bagaimana baiknya." ucap Langit yang membalas tatapan Ara.
Kemudian Ara berkomat Kamit merapalkan mantra dengan kedua mata terpejam dan kedua telapak tangan saling menangkup di depan dadanya. Tak berapa lama tangan kanan Ara mengarah ke tubuh Darjo, dan Ara memutar kekanan telapak tangan kanannya itu.
Dalam sekejap tubuh Darjo menghilang dan kemudian Ara mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah goa kecil yang biasa digunakan Ara sebagai kamar tidur.
Ara membalikkan putaran telapak tangan kanannya ke arah sebelah kiri. Dan ajaib, tubuh Darjo sudah berada diatas batu pipih di dalam goa kecil itu
Langit yang memperhatikan hal itu begitu terkejut sekaligus takjub akan kemampuan kekasihnya itu.
"Bagaimana kamu bisa?" tanya Langit yang penasaran.
"Hei, sadarlah kau tuan muda! kekasih anda ini seorang siluman ular dan anda saat ini berada di kawasan hutan Larangan. Tahu sendiri kalau hutan ini penuh dengan siluman!" seru siluman ular putih sembari mengulas senyumnya.
"Oiya! aku lupa, he...he..! Walau bagaimana pun dirimu Ara, kak Langit sangat mencintai kamu sayang." ucap Langit seraya memandang Ara dengan berbinar-binar. Demikian pula dengan Ara yang memandan Langit juga dengan berbinar-binar.
Dan mereka saling menyatukan tangan mereka, kemudian saling berpelukan.
__ADS_1
"Hm...hm...! pasti lupa kalau masih ada siluman disini!" seru siluman ular putih yang membelakangi mereka, pada saat mereka saling berpelukan.
"Eh, ma'af! kami terlalu hanyut dalam asmara kita. Iya kan sayang?" ucap Langit sembari mengecup kening Ara.
''Iya, lagi pula kamu cepat cari pendamping putih!" seru Ara yang saat dalam posisi saling merangkul dengan Langit.
"Aku..." ucap siluman ular putih yang agak lama, dan dia terlihat sedikit sendu.
"Kamu kenapa putih?" tanya Ara yang penasaran.
"Ah, nggak apa-apa, ayo kita cari tanaman liar!" ajak Siluman ular putih yang mengalihkan pembicaraan mereka.
"Oiya, Kak Langit Ara pamit sebentar ya!" seru Ara yang menatap wajah tampan kekasihnya itu.
"Iya, hati-hati ya kalian berdua!" pesan Langit yang kemudian mengecup kening Ara.
"Pasti itu!" jawab Ara dan siluman ular putih secara bersamaan.
"Jangan lupa bawa buah atau hewan buruan yang bisa kita makan nanti malam!" seru Langit yang menatap Ara dan siluman ular putih satu persatu.
"Iya, jangan khawatir itu!" jawab Ara sembari mengulas senyumnya dan kemudian melambaikan tangannya.
"Hati-hati!" seru Langit dan keduanya berubah menjadi seberkas cahaya, yang kemudian melesat keluar dari goa dan menuju ke perbukitan yang tak jauh dari goa tempat mereka bersembunyi.
Kedua cahaya putih itu kembali ke wujud semula mereka yaitu siluman ular emas dan juga siluman ular putih, pada saat mereka sampai di bukit dimana masih banyak tanaman liar yang bisa dijadikan obat.
"Akhirnya sampai juga disini!" seru siluman ular putih yang menebarkan pandangan kedua matanya ke sekitar mereka, saat menjejakkan kaki di tanah.
"Ayo kita cari tanaman yang bisa melunturkan racun!" seru Ara yang bergegas mencari dedaunan di sekitar tempat itu.
"Siluman ular putih itu hanya menganggukkan kepalanya, dan kemudian siluman ular putih mengikuti Ara dan mereka memetik beberapa lembar daun pada saat mereka menemukan tanaman yang mereka maksudkan.
"Putih, memangnya tak ada seorang laki-laki manapun yang singgah di hati kamu?" tanya Ara dengan rasa penasaran, seraya memetik daun-daun tanaman obat satu persatu.
"Ada sih, tapi aku takut jika dia menolakku!" jawab Siluman ular putih yang menghentikan aksinya memetik daun-daun tanaman obat itu yang kemudian menghela nafasnya dalam-dalam.
"Aku boleh tahu tidak? pasti dia cakep dan gagah!" goda Ara sembari mengulas senyumnya.
"Kamu janji tidak memberitahukan siapa-siapa ya!" pinta siluman ular putih itu dengan lirih.
__ADS_1
"Oh, tentu saja. Siapakah laki-laki yang beruntung itu?" tanya Ara dengan cara berbisik pula.
"Si Hitam!" jawab Siluman ular putih itu dengan berbisik.
"A...apa? apakah aku tak salah dengar?" tanya Ara yang penasaran.
"Tidak, tidak salah dengar sama-sekali!" balas siluman ular putih yang menatap Ara dengan serius.
"Apakah si Hitam tahu akan perasaan kamu?" tanya Ara menyelidik.
"Tidak, hanya kamu yang aku beritahukan!" jawab siluman putih dengan apa adanya.
"Hm, aku akan cari tahu apakah si Hitam menyukai kamu apa tidak!" seru Ara yang menatap siluman ular putih dengan yakin.
"Terima kasih tuan putri." ucap siluman ular putih dengan kedua mata ya yang berbinar-binar.
"Sama-sama, ayo kita cari binatang yang bisa buat kita kenyang!" ajak Ara.
"Iya, ayo tuan putri!" seru siluman ular putih dan mereka melangkahkan kaki menuruni bukit dan menebarkan pandangan mereka ke segala arah.
"Krusek.....krusek....krusek!"
Terdengar dan terlihat semak-semak yang bergerak.
"Apa itu?" tanya Ara yang menatap semak-semak itu dengan tajam.
"Biar aku yang dekati semak-semak itu tuan putri, dan tuan putri tetap disini saja!" seru siluman ular putih yang memberikan usulnya.
"Iya, baiklah aku setuju." jawab Ara yang membiarkan siluman ular putih mendekati semak-semak yang bergerak itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...