
Satu-persatu para manusia itu akhirnya jatuh tak berdaya. Dan pada saat ini hanya tinggal satu orang yang kemudian dia melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya.
"Kurang ajar! jangan lari kau!" seru si ular hijau yang bersiap mengejar satu orang yang melarikan diri itu.
"Sudah jangan dikejar!" seru Ular emas yang menahan ular hijau.
"Kenapa? mereka sudah tega pada kita!" seru si ular hijau yang penasaran.
"Sebaiknya kita temui weling dan hitam, lalu kita bebaskan yang lainnya jika masih ada yang di dalam kotak kaca!" seru si ular putih.
"Nah iya, setelah itu kita tinggalkan tempat ini. Dikhawatirkan bala bantuan mereka akan datang!" si ular putih yang menambahi.
"Ah, benar juga!" seru si ular hijau yang mempertimbangkan pendapat kedua sahabatnya itu.
"Ayo!" ajak si ular emas dan mereka melangkahkan sebagaimana layaknya ular, untuk menemui ular Weling dan juga ular hitam.
"Ah, itu mereka!" seru si ular putih seraya menunjuk pada kedua ular yang dimaksudkan.
"Sepertinya mereka sudah membebaskan ular-ular yang lainnya!" seru si ular Emas yang memperhatikan apa yang dilakukan oleh ular Weling dan juga ular hitam.
"Iya, sepertinya memang begitu!" seru si ular hijau yang ikut memperhatikan.
Kemudian mereka menghampiri Ular Weling dan juga ular hitam yang membebaskan kawanan ular yang tersisa.
"Apakah semuanya sudah bebas?" tanya ular emas pada ular Weling dan juga ular hitam.
"Sudah, sebaiknya kita segera pergi dari sini!" jawab sekaligus ajak ular hitam pada ketiga sahabat perempuannya.
"Ayo!" seru ular emas, ular putih dan ular hijau serempak. Kemudian mereka melangkahkan sebagaimana layaknya ular, meninggalkan lokasi perkemahan yang juga tempat biasa mereka bermain.
Kelima ular itu terus melangkah dan mencari tempat yang aman untuk sementara waktu.
Tibalah mereka di tumpukan bebatuan, dan mereka sembunyi ditempat itu.
"Sepertinya tempat ini aman, bagaimana menurut kalian?" tanya ular putih seraya menebarkan pandangan mereka ke sekitarnya.
"Iya, kita sembunyi disini untuk sementara waktu, setelah aman kita kembali ke istana!" balas ular Weling yang yang melihat situasi di depannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka melihat beberapa orang laku-laki beserta laki-laki yang tadi kabur dari serangan mereka.
"Itu, bukankan itu laki-laki yang kabur tadi?" tanya Ular emas yang penasaran.
"Iya benar!" jawab Si ular putih yang terus memperhatikannya.
"Ohw, jadi dia memanggil bala bantuan ya!" seru si ular hitam yang geregetan.
"Sebaiknya kita lihat apa yang mereka lakukan!" bisik si ular Weling yang juga terus memperhatikan orang-orang yang melewati bebatuan yang tertumpuk itu.
Mereka pun diam dan memperhatikan apa yang dilakukan para manusia itu.
Sementara itu rombongan yang bersama laku-laki yang kabur tadi adalah Darjo, ayah Langit yang sedang memimpin pekerjanya untuk memburu ular-ular untuk dia jual ke kota. Karena orderannya akan daging ular semakin meningkat, setelah kematian Misnah.
"Tuan ku Darjo, perkemahan kita diserang oleh beberapa ular. Dan pemimpin mereka adalah ular berkepala tujuh!" ucap Laki-laki yang kabur itu, yang melaporkan apayang telah terjadi di perkemahan setelah kepergian Darjo beserta para pekerjanya.
"Apa yang kamu bilang tadi? ular berkepala tujuh?" tanya Darhi yang memastikan pendengarannya.
"Iya tuan Darjo!" jawab dari laki-laki yang kabur dari kepungan ular emas dan lainnnya.
"Kerajaan ular?" tanya Laki-laki yang kesemuanya dihadapan laki-laki yang bernama Darjo itu.
"Kalian kira, para ular tidak ada pemimpinnya!" seru Darjo yang kemudian membuka mata batinnya.
Darjo saat ini seperti melihat apa yang telah terjadi beberapa saat yang lalu.
"Hm, ada lima ular! dan yang satunya ular emas yang berubah menjadi ular berkepala tujuh itu! Itu berarti dia ada hubungannya denga kerajaan siluman ular. Siapakah dia? apa mungkin dia raja ular?" pertanyaan demi pertanyaan dalam yang timbul dari benak hati Darjo.
"Tuan Darjo, sebaiknya anda lihat terlebih dulu apa yang telah terjadi di perkemahan!" pinta salah satu pekerja Darjo.
"Aku sudah melihat apa yang telah terjadi, tapi baiklah kita ke perkemahan agar aku dan kalian lebih jelas melihat apa yang telah terjadi
"Iya tuan Darjo!" jawab salah satu orang itu dan mereka melangkahkan kaki menuju ke tempat perkemahan yang telah di porak-porandakan oleh si ular emas dan yang lainnya itu.
"Iya tuan Darjo!" jawab salah satu orang itu dan mereka melangkahkan kaki menuju ke tempat perkemahan yang telah di porak-porandakan oleh si ular emas dan yang lainnya itu.
"Kurang ajar! bedebah! semua ular yang kita tangkap bebas semuanya!" seru Darjo yang dengan mata memerahnya pada saat menatap perkemahannya telah rata dengan tanah dan dia tak mendapati adanya makhluk hidup yang masih hidup diantara puing-puing tenda yang telah mereka dirikan.
__ADS_1
"Tak ada yang tersisa sama sekali!" sahut salah satu pekerja yang ada di samping Darjo.
"Lantas bagaimana dengan kita saat ini! seakan yang kita lakukan sia-sia dan kita kehilangan banyak pekerja dan buruan kita!" seru pekerja yang lainnya.
"Hal ini bisa dikatakan kalau kita mengalami kerugian dan juga kebangkrutan. Iya, aku harus menanggung anak dan istri dari kematian para pekerja yang ikut dalam misi kita ini!" seru Darjo yang menatap para pekerjanya satu persatu dengan rasa tak menentu di dadanya.
"Tuan Darjo, saya jadi berpikir. Bisa jadi kematian pak Misnah sama dengan apa yang kita alami saat ini!" seru salah satu pekerja itu
"Seandainya saja aku bisa mengetahui dimana lokasi lenyapnya mereka! Aku bisa mengetahuinya!" seru Darjo yang mempunyai kekuatan melihat masa lalu bisa lewat sentuhan, tatapan mata maupun berada di lokasi yang dimaksudkan.
"Tuan Darjo, sebaiknya kita bagaimana selanjutnya?" tanya salah seorang pekerja Darjo.
"Apakah kalian masih mau ikut denganku?" tanya Darjo seraya menatap satu persatu wajah para pekerjanya.
"Kemana tuan Darjo?" tanya salah satu pekerja itu dengan penasaran.
"Kita mencari kerajaan siluman ular!" jawab Darjo secara berbisik.
"Tapi kita belum tahu dimana tempat itu?" tanya salah satu pekerja itu yang menatap wajah dari dengan penasaran
"Tenang saja! akan ada yang membawa kita kesana!" seru Darjo dengan yakin.
Para pekerja itu saling pandang, antara penasaran dan juga takut bila akan terjadi sesuatu dengan mereka nantinya.
"Sebaiknya kita cari tempat untuk beristirahat, aku butuh ketenangan untuk bersemedi." lanjut ucap Darjo yang kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari lokasi perkemahan.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1