
"Oh, kalau begitu biar adil sekali lagi cubitannya buat pipi yang kiri!" ucap Bu misnah seraya mencubit pipi kiri Baron.
"Ah, ibu kan sakit!" seru Baron sembari mengulas pipi kirinya yang kini memerah.
"Idih, kamu tuh seperti anak perempuan saja! cuma cubitan kecil saja!" seru Bu Misnah sembari mengulas senyumnya.
"Sudah-sudah ayo kita sarapan! keburu dingin nih!" seru Ara yang mengambil makanan untuk dirinya diatas piring.
"Oiya, ayo makan Bu!" ucap Baron yang kemudian menyendok nasi dan lauk pauknya dan kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Baron kamu itu jangan seperti tadi ya!" seru Bu Misnah yang juga menyendok nasi dan lauk pauknya dan kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Apakah putramu Baron ini tak boleh bermanja-manja dengan ibu?" tanya Baron yang menghindari bullyan dari ibu dan adik angkatnya.
"Hmm....! ngeles dianya Bu!" seru Ara sambil mengulas senyumnya.
"Hust...!" seru Baron seraya menghempaskan tangannya ke arah Ara. Dan Ara hanya mengulas senyumnya saja.
"Sudah, nggak habis-habis nanti makanannya!" seru Ara dan mereka pun melanjutkan sarapan mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai makan. Dan mereka menghabiskan minuman yang ada dihadapan masing-masing.
"Ibu dan Anin akan pergi ke kios, dan Ara nanti yang menjaga kios sedangkan ibu mau terus belanja untuk mengisi stok pakaian yang sudah habis." ucap Bu Misnah.
"Jadi Anin akan sendirian di kios?" tanya Baron yang penasaran.
"Iya dan sepertinya kamu juga tak bisa menemaninya?" tanya Bu Misnah yang menatap ke arah putranya Baron.
"Andai saja aku belum belanja peralatan bengkel, pastinya aku akan menemani Anin untuk menjaga kios!" seru Baron yang menatap ke arah Anin.
"Sudahlah Anin bisa jaga diri Anin, kalian janganlah khawatir." ucap Ara yang menatap ke arah Bu Misnah dan juga ke arah Baron bergantian.
"Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kita berangkat sekarang!" seru Bu Misnah.
"Iya Bu!" jawab Ara dan mereka mulai berangkat menuju ke garasi.
"Kalau ibu belum pulang, biar aku yang jemput Ara Bu!" seru Baron yang meninggi karena Ara dan Bu misnah sudah menjauh dari posisi semula.
"Beres!" balas Bu Misnah yang juga meninggi, karena saat ini mereka sudah keluar dari ruang tamu dan menghampiri mobil mewah yang masih terparkir.
Keduanya melangkahkan kaki ke teras depan.
__ADS_1
"Bu bukannya biasanya di garasi?" tanya Ara yang bingung.
"Iya itu kalau tak pakai jasa supir, sekarang kan paki? he..he..!" jawab Bu Misnah sambil tersenyum.
"Oh!" ucap Ara yang sudah mengerti.
Kemudian mereka masuk ke dalam mobil yang sebelumnya dibukakan oleh sopir keluarga Misnah.
Setelah Ara dan Bu Misnah masuk ke dalam mobil, sopir pun melangkahkan kaki menuju ke pintu mobil yang mengarah ke tempat kemudi.
Kemudian sopir itu membuka pintu dan masuk tepat dibelakang kemudi, dan perlahan-lahan mobil itu melaju keluar dari halaman rumah.
"Pak, nanti kita menurunkan Non Anin lebih dulu, lanjut kita pergi ke pasar induk untuk berbelanja pakaian!" seru Ibu Misnah pada Sopirnya.
"Iya nyonya!" jawab sopir itu dengan masih fokus pada kemudinya.
Mobil terus melaju menyusuri jalan raya. Dan pada akhirnya sampai juga di depan supermarket dimana kios Bu Misnah berada.
Sopir itu menghentikan laju mobilnya dan Ara pun melangkah keluar dari mobil.
"Anin kamu bisa kan buka kios sendiri?" tanya Bu Misnah seraya memberikan kunci kios pada saat Ara keluar dari mobil, Ara menerimanya dan memasukkannya dalam tasnya.
"Tenang saja Bu, Anin bisa kok!" seru Ara yang sudah keluar dari mobil dan menatap ke dalam mobil, sembari mengulas senyumnya.
"Iya Bu, tenang saja! daa ibu!" balas Ara sembari melambaikan tangan kanannya.
"Daa.. juga Anin!" balas Bu Misnah yang juga melambaikan tangan kanannya.
"Pak sopir! ayo kita jalan lagi!" seru Bu Misnah kemudian.
"Baik nyonya!" jawab sopir itu yang kemudian menyalakan mobil dan melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.
Sementara itu Ara melihat mobil mewah yang membawa Bu Misnah sudah menjauh pergi, hilang dari pandangan matanya.
Gadis itu menghela nafasnya panjang dan kemudian melangkahkan kakinya masuk ke halaman supermarket, dan kemudian masuk ke dalam supermarket dengan menyusuri jalan yang pernah dia lewati bersama ibu angkatnya, Bu Misnah.
"Hm...! supermarket-nya sudah ramai pengunjung, lebih baik aku mempercepat langkahku!" gumam dalam hati Ara yang kemudian mempercepat langkah kakinya.
Pada saat Ara melangkahkan kakinya, ada seorang anak kecil yang berjalan bersama ibunya tiba-tiba melihatnya dengan ketakutan.
"Mama, ada ular ma!" seru anak laki-laki kecil itu yang langsung memeluk ibunya dan menyembunyikan wajahnya dari balik punggung tubuh ibunya.
__ADS_1
"Ular? nama ada ular disini nak?" tanya ibu itu yang mengusap kepala putra dengan lembut.
"Itu ma...! itu...!" jawab anak kecil itu seraya menunjuk ke arah tangga, dimana Ara tadi melewatinya.
"Mana nggak ada!" seru si ibu kecil itu yang terus menatap ke arah tangga dan mencari ular seperti yang dimaksudkan putranya.
"Sudah nggak ada ya ma?" tanya anak kecil itu yang kemudian berani melihatkan dirinya dan dia menoleh ke sekitarnya.
Anak laki-laki itu tak menemukan sesosok ular yang dia lihat tadi.
"Tidak ada, mungkin hanya halusinasimu saja. Sekarang sebaiknya kita pulang saja!" ajak si ibu.
"Iya Bu." balas anak laki-laki itu yang mendongakkan kepalanya menatap ke arah ibundanya yang sedang mengulas senyum padanya.
Kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke arah pintu keluar supermarket tersebut.
Sementara itu Ara tak menyadari kalau anak kecil bisa melihat wujud aslinya, melangkahkan kakinya menuju ke kios Bu Misnah.
"Oh, akhirnya sampai juga!" gumam dalam hati Ara yang kemudian mengambil kunci yang diberikan oleh Bu Misnah saat tadi dia turun dari mobil.
"Klek...klek... gredhek!"
Pintu kios itu pun terbuka dan Ara melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kios.
Kemudian Ara mengeluarkan dan menata pakaian-pakaian yang tinggal sedikit itu, untuk dipajang di etalase kios toko pakaian Bu Misnah. Lalu gadis itu menyapu dan mengepel lantai kios toko pakaian itu.
Di sela-sela kesibukannya, ada satu dan dua orang yang melihat-lihat. Ada diantara mereka yang membeli dan ada diantara mereka yang hanya melihat-lihat saja.
"Huh, harus bersabar!" gumam dalam hati Ara pada saat melihat orang yang tak jadi membeli pakaian di kios toko pakaian tersebut.
Gadis putri siluman ular itu kemudian melanjutkan aktifitasnya, mengepel lantai kios toko pakaian tersebut.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...