
Langit tak henti-hentinya memeluk dan menciumi istrinya dan Ara berusaha melayani kemauan dari suaminya itu.
Kembali keduanya melakukan aksi tanam benih di kamar mandi.
Cukup lama mereka mengulang kebersamaan mereka.
Dan setelah selesai mereka mengganti pakaian dan kemudian beristirahat dan tidur bersama diatas tempat tidur.
Hari-hari berlangsung cepat sepasang pengantin baru beda di ia itu saat ini, tiba-tiba saja mereka mendengar kabar kalau Darjo, ayah Langit sedang sakit.
Keduanya kemudian berpamitan untuk menjenguk sekaligus tinggal bersama Darjo di rumah Darjo.
Sesampainya di rumah Darjo yang juga rumah Langit, Ara dan Langit menempati kamar Langit.
Ara membersihkan kamar Langit dan seluruh rumah mertuanya, dibantu oleh Langit.
Setelah membersihkan setiap sudut rumah itu, Ara segera memasak. Sedangkan Langit menemui ayahnya yang berada di garasi mobilnya.
"Ayah!" panggil Langit yang menghampiri ayahnya.
"Ada apa Langit?" tanya Darjo yang menghentikan aksinya mengotak-atik mobilnya.
"Apakah ayah tak kepikiran buat menikah lagi?" tanya Langit sembari membantu ayahnya mengotak-atik mobil yang terdapat di garasi tersebut.
"Menikah lagi?" tanya Darjo dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Iya, menikah lagi." jawab Langit sambil tersenyum.
"Lalu siapa yang mau sama Ayah! lagi pula ayah sudah tua, tak m,ungkin ada yang mau sama ayah!" seru Darjo yang sebetulnya masih merindukan Ranti, tapi dia takut jika Ranti akan menolaknya seperti saat mereka sama-sama belum menikah.
"Hm, mungkin pacar eh teman lama ayah?" tanya Langit sembari melirik ke arah ayahnya.
"Ah, aku sebetulnya masih berharap sama Ranti. Tapi anaknya kan sahabat kamu, malah sekarang jadi mertua yang sekaligus jadi besan ayah." ucap Darjo yang sedikit kecewa.
"Eh, iya!he..he...!" ucap Langit yang mengiyakan.
"Saya rasa kalau ayah Darjo mendekati kembali bi Ranti itu nggak masalah, karena Ara dan bi Ranti tidak ada ikatan darah. Walaupun bi Ranti sudah Ara anggap seperti ibu kandung Ara." ucap Ara yang menyahut pembicaraan kedua laki-laki yang beda umur itu.
"Hm, bagaimana yah?" tanya Langit yang penasaran.
"Hm, tapi sebaiknya jangan. Ayah manusia kotor, ayah nggak mau membuat Ranti menjadi kotor juga!" jelas Darjo yang mengingat profesinya.
"Kalau masalah pekerjaan, perlahan-lahan ayah bisa mengurang atau menghilangkan di apa yang membuat ayah kotor!" seru Langit dan Darjo pun menganggukan kepalanya.
"Susah-sudah, ayo sebaiknya kita makan siang, itu di meja telah saya persiapkan"ucap Ara sembari melihat ke arah Langit dan juga Darjo.
"Iya, ayolah kita makan bersama-sama!" seru Ara dan juga Langit.
Mereka bertiga segera makan bersama-sama dan terlihat kebahagiaan terpancar di wajah-wajah mereka.
__ADS_1
Selesai makan bersama, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk tidur siang .
Didalam kamar tepatnya diatas tempat tidur, Langit dan Ara sedang berbincang-bincang.
"Kak, sepertinya ayah Darjo memang masih menaruh hati dengan bi Ranti. Bagaimana kalau kita jodohkan mereka?" usul Ara sembari menatap wajah Suaminya.
"Boleh juga tuh! hm, oiya sebentar lagi adalah hari ulang tahun ayah! Bagaimana kalau kita mberikan kejutan pas pada momen itu?" balas usul Langit.
"Hm, boleh juga! ara setuju kak!" balasan Ara yang dengan semangatnya.
"Ok, aku akan memesan catering sekaligus memberi undangan pada bi Ranti, Baron dan sebagian orang yang paling dekat dengan ayah." ucap Langit dengan semangatnya.
"Yapp, sebaiknya kita istirahat dulu. Setelah itu kita jalankan semua rencana kita!" ucap Ara dan Langit pun menganggukkan kepalanya.
"Kamu cantik sekali Ara." ucap Langit yang membelai rambut Ara dengan lembut, dan wajah Ara nampak memerah karena tersipu malu.
Ara kemudian mengulas senyumnya dengan malu-malu dan demikian juga dengan langit.
"Ara...! Kak Langit sangat mencintaimu!" ucap Langit yang memandang gadis siluman dihadapannya.
"Ara juga sangat menyukai kak Langit." balas Ara yang sama-sama memandang kedua bola mata masing-masing.
Kemudian langit mencium kening Ara dan memeluk putri siluman ular itu. demikian pula dengan Ara yang menerima pelukan itu juga dengan eratnya. Keduanya saling berpelukan dan Ara sempat mendengar detak jantung Langit yang berdecak tak beraturan.
Keduanya sangat menikmati kehangatan dan kemesraan mereka.
"Ada apa kak?" tanya Ara yang penasaran.
Tiba-tiba saja Langit mendaratkan bibirnya ke bibir Ara dan kedua bibir tersebut saling terpaut.
Rasa hangat dan sentuhan mesra yang mereka jalani saat ini. Ciuman itu berhenti disaat keduanya kehabisan udara untuk bernafas.
Kemudian keduanya saling melepaskan ciuman mereka, dan Langit memegang punggung tangan Ara dan kemudian menciumnya.
"Aku sayang padamu. Walaupun nanti kita berpisah jarak, aku harap kita tak saling melupakan. ." ucap Langit dengan berbisik.
"Kak Langit ini ngomong apa, kita memang sudah tidak bisa terpisahkan lagi kak!" ucap Ara yang memotong ucapan Langit seraya membelai wajah Langit dengan lembut dan kemudian merebahkan kepalanya di bahu Langit.
Kedua sejoli itu tetap dalam posisi mereka saling menumpahkan rasa kasih dan sayang mereka. Saat ini bagaikan dunia milik mereka berdua, hingga angin malam menyelimuti mereka berdua.
Tak berapa lama Langit memejamkan kedua matanya, dan kemudian Ara mengambil selimut yang sengaja ada di bagian tepi tempat tidur dan kemudian selimut itu dipergunakan untuk menyelimuti Ara pujaan hatinya yang sekarang sudah mejadi istrinya.
"Huahahem...!"
Ara sudah menguap beberapa kali.
"Malam sudah larut, dan angin semakin dingin. Ayo kita segera tidur!" bisik Langit. ditelinga Ara, dan Ara menganggukkan kepalanya.
Perlahan Langit memejamkan kedua matanya. Dan Ara yang ternyata belum bisa tidur.
__ADS_1
Ara membelai lembut wajah langit dan kemudian menciumi kening, pipi dan juga bibir Langit. Dan Ara menikmati aksinya itu dengan mengulas senyumnya.
Langit tetap diam walaupun dia sebenarnya Langit ingin membalas
cara aksi Ara yang menciuminya.
Setelah puas dengan aksinya, Ara merebahkan kepalanya di bahu sebelah kiri Langit.
Ara begitu menikmati aroma tubuh kekasihnya yang dia mengira masih terlelap dalam tidurnya.
Langit memicingkan matanya, dan melihat Ara sudah memejamkan kedua matanya.
Tangan sebelah kiri Langit mengusap lembut rambut lurus kekasih yang sudah menjadi suaminya itu.
Ara pun terkejut dan mendongakkan kepalanya melihat wajah tampan Langit yang mengulas senyum padanya.
"Kak Langit belum tidur?" tanya Ara yang penasaran.
"Kamu sih membangunkan Kak Langit!" balas Langit yang kemudian mengecup kening dan lanjut ke bibir kekasih hati Ara itu.
Kedua bibir itu saling beradu kembali dimalam yang semakin larut itu.
Beberapa menit kemudian, mereka saling melepaskan ciuman mereka dan saat ini mereka saling menatap intens seraya mengulas senyum mereka.
"Ara!" panggil mesra Langit pada kekasihnya yang ada di dekapannya.
"Ya, ada apa kak?" tanya Ara yang menatap wajah tampan Langit.
"Kak Langit sangat mencintaimu!" bisik Langit dengan lembut.
"Ara juga sangat mencintai kak Langit!" balas Ara.
"Oh, Istriku!" panggil Langit.
"Ya Suamiku!" balas Ara.
Kedua mata mereka saling menatap secara intens.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1