Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Cerita siluman ular Putih


__ADS_3

"Saya juga bingung, jika ibunda Ara tak merestui hubungan kami. Belum lagi keadaan ayahku yang saat ini sedang sekarat." ucap Langit seraya menunjuk ke arah Darjo yang sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur yang ada di dalam sel tahanan itu.


"Dia ayah kamu kak Langit?" tanya Siluman ular putih yang kemudian menghampiri tubuh Darjo dan diikuti oleh Ara.


"Iya." jawab Langit yang menatap wajah ayahnya yang tak sadarkan diri itu.


"Astaga!" seru siluman ular putih itu seraya menunjukkan ekspresi terkejut, pada saat melihat ke arah Darjo.


"Ada apa putih?" tanya Ara yang penasaran dan menatap wajah Darjo dan Siluman ular putih secara bergantian.


"Apakah kamu kenal dengan ayahku?" tanya Langit yang menatap ke arah siluman ular putih dengan rasa penasaran.


"Iya, sangat mengenalnya!" jawab Putih seraya menatap ke arah Langit dan Ara secara bergantian.


"Hah, dari mana kamu mengenalnya?" tanya Ara yang menatap siluman ular putih itu dengan rasa yang sangat penasaran.


"Dia...dia-lah yang telah membunuh yang mulia raja siluman ular!" jawab siluman ular putih yang menunjukkan rasa kecemasannya.


"A...apa!" seru Langit dan Ara secara bersamaan dan Ara melihat ke wajah Darjo, kemudian mendekati serta memeriksa tubuh Darjo.


"Dia terkena racun terbaru milik ibunda ratu!" seru Ara yang selesai memeriksa tubuh Darjo.


"Racun terbaru?" gumam Langit yang menatap ke arah wajah dan tubuh Darjo.


"Iya, yang mulia Ratu-lah yang kemarin melawan laki-laki ini setelah dia membunuh yang Mulia Raja." ucap siluman ular putih yang mengingat peristiwa kemarin.


"Pada waktu itu saya melihat laki-laki itu dan yang lainnya melangkahkan kaki dan mereka telah sampai di depan singgasana kerajaan siluman ular, dimana kami sedang menghadap yang mulia raja." jelas Siluman ular putih.


Karena kami yaitu aku, hijau, weling dan juga hitam melihat situasi yang genting, maka kami mulai memposisikan diri kami untuk menyerang Darjo dan para pekerjanya." lanjut siluman ular putih.


Flashback on.


"Kalian! Lawan ke-empat ular beda warna itu, sementara aku akan melawan raja siluman ular!" seru Darjo pada para pekerjanya.


"Baik tuan Darjo!" seru para pekerja Darjo itu berbarengan.


Ular beda warna itu kemudian merubah tubuhnya menjadi manusia yang cantik-cantik dan juga tampan-tampan.


"Hop hiaaat!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


Perkelahian dua dunia itu pun kembali tak terelakkan lagi.


"Kalian para manusia, sungguh keterlaluan kalian!" seru ular Weling dengan geramnya dengan memberi hadiah kepalan tangan pada para manusia yang menyerang mereka.

__ADS_1


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


"Bagh.... bugh... bagh.... bugh....!"


Beberapa pekerja itu terkena pukulan dari Weling dan juga Siluman ular hitam, putih serta Siluman ular hijau secara bertubi-tubi dan pada akhirnya weling di memberikan tendangan di rahang sebelah kanan penjaga itu dengan keras, membuat itu terpelanting dan akhirnya jatuh ke tanah.


"Bagh ..!"


"Brugh....!"


"Aaaghh...!"


Para pekerja Darjo itu kini mengerang kesakitan dan tak berapa lama mereka tak bergerak lagi.


Weling dan yang lainnya berhasil mengalahkan para pekerja itu, kemudian mereka melangkahkan kaki memperhatikan pertarungan Darjo dengan siluman raja ular.


"Oh, jadi kamu manusia yang memipin kaum kamu untuk membantai rakyatku!" seru raja ular dengan geram.


"Iya, karena tubuh dan kulit kalian sangat berharga Agi kami. Dan saya tidak terima kalau kalian membebaskan semua tahanan kami dan juga membunuh sebagian pekerja saya!" seru Darjo yang merasa dirinya yang benar dan teraniaya.


"Apa membebaskan tahanan kalian dan juga membunuh pekerja kalian?" tanya raja ular, namun dalam hatinya bertanya-tanya siapakah yang melakukan perbuatan itu.


"Apa yang membuat kamu yakin kalau itu aku yang melakukannya?" tanya Raja ular yang penasaran.


"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu yang bisa membuat dirimu menjadi berkepala tujuh!" seru Darjo yang merasa benar.


"Hah, ular yang berkepala tujuh?" tanya raja ular yang penasaran.


"Ular yang berkepala tujuh? apakah yang dia maksud adalah Ara? jadi Ara tetap berada di dalam hutan larangan ini?" pertanyaan dalam hati Raja ular yang merasakan ada titik terang keberadaan putrinya.


"Sekarang terimalah ini!" seru Darjo yang menyerang Raja ular secara berkali-laki dengan menggunakan cincin bermata merah yang dipakai oleh mereka itu.


Sementara si raja ular mampu menghindarinya dan sesekali memberikan serangan balik pada Darjo,


Pukulan demi pukulan telah terjadi, dan keduanya sama-sama merasakan memukul dan dipukul.


Karena hasil yang selalu seri itulah, raja ular merubah ukuran tubuhnya membesar dan kemudian mengembang, keluarlah kepala ular sebanyak tujuh dan membentuk seperti kipas.


Tak ada rasa takut dari dalam diri Darjo, bahkan Darjo semakin tak terkendali lagi.


Ayah Langit itu merapalkan mantra dan membuat cincin bermata merahnya menjadi sebuah pedang yang menyala merah.


"Weeet ..! weeet...! weeet ..!"

__ADS_1


Pedang itu berkali-kali diputar-putar oleh Darjo. Dan kemudian dia mengarahkannya pada si Raja ular.


"Weeet ..! weeet...! weeet ..!"


Dengan gesit raja ular mampu menghindarinya, dan jika ada kesempatan si raja ular menyerang balik Darjo. Ayah Langit itupun terpukul mundur.


"Hah, kurang ajar!" seru Darjo yang kemudian melompat dan dengan gerakan cepat menyerang balik raja ular dan beberapa kali berusaha menghunuskan pedangnya ke tubuh raja siluman ular itu dan akhirnya pedang merah itu mampu menancap tepat di jantung hati si raja ular.


"Jlebb!"


"Aaaghh...!"


Raja siluman ular itu mengerang kesakitan dan tubuhnya yang semula ular berkepala tujuh itu, berangsur-angsur berubah wujud menjadi manusia. Dengan tangan kanannya memegang dada yang tertancap pedang merah milik Darjo.


"Kau!" seru raja ular dengan menahan rasa sakitnya.


"Raja!" panggil weling, hitam putih dan juga hijau secara bersamaan.


"Apakah kalian mau bernasib sama dengan raja kalian!" seru Darjo dengan tatapan sinisnya menatap ke-empat siluman ular sahabat Ara itu.


Bukannya takut, ke-empat siluman ular itu mengepung Darjo dan mereka bersiap siaga menyerang laki-laki yang membunuh raja mereka.


Para sahabat Ara itu mengeluarkan pedang masing-masing dan Darjo mencabut pedang yang menancap di tubuh si raja ular.


"Aaarghh...!"


Suara erangan dari si raja ular yang kesakitan karena pedang yang menancap di dadanya dicabut oleh si pemilik pedang.


"Empat siluman melawan satu manusia! ha...ha..!" seru Darjo yang tertawa lepas,


"Cih! kau harus mampus hari ini juga!" seru si Hitam yang mulai menyerang Darjo dengan pedang hitamnya.


Flashback off.


"Dan kami bertarung mengepung Darjo waktu itu, tapi akhirnya kami kewalahan." ucap Siluman ular putih dengan wajah kecewa.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2