
Ara yang melihat kejadian yang mengharukan itu, membuat gadis siluman ular itu tertegun. Tiba-tiba saja dirinya merindukan ibundanya yang berada di istana siluman ular, di dalam hutan Terlarang.
"Ibunda, hiks....! aku sangat merindukan ibunda dan ayahanda!" Isak tangis dalam hati Ara yang masih melihat Bu Misnah yang mengusap dan menagis disamping putranya.
Beberapa menit kemudian, jari tangan sebelah kanan Baron bergerak dan membuat Bu Misnah bersemangat dan dia menyeka air matanya.
"Di...dimanakah aku?" tanya Baron pada saat membuka matanya dan melihat ke langit-langit kamar dan kemudian menatap ke arah Bu Misnah dan juga Ara.
"Kamu berada di kamar kamu putraku." jawab Bu Misnah sembari mengulas senyum pada putranya.
"Ibu, Anin apa yang telah terjadi padaku?" tanya Baron yang berusaha bangun dan memposisikan dirinya untuk duduk bersandar di dinding yang menempel di tempat tidur.
"Tadi Anin sudah melakukan ritual membebaskan kutukan yang ada pada diri kak Baron. Mungkin kak Baron bisa mencoba untuk berjalan, bisa kak Baron latihan terlebih dahulu!" jawab Ara yang dengan semangat.
"Oiya, kak Baron coba melangkah dulu ya!" seru Baron yang menatap ke arah ibunya dan juga Ara.
"Iya cobalah putraku!" seru Bu Misnah.
"Kak Baron yang semangat ya!" seru Ara yang menunjukkan tangannya yang mengepal sebagai penanda memberi semangat.
Kemudian perlahan-lahan Baron melihat ujung kakinya dan dia mencoba menggerakkan kakinya yang sebelah kanan dan kemudian sebelah kiri.
"Kaki ku bisa bergerak!" seru Baraon dengan penuh semangat mana kala melihat kedua kakinya dapat digerakkan.
"Iya putraku, coba kamu arahkan kedua kaki kamu menuruni tempat tidur!" seru Bu Misnah yang tampak senang sekali dan sangat bersemangat.
Baron melakukan apa yang diperintahkan ibundanya. Laki-laki itu menurunkan satu persatu kakinya dari tempat tidur. Dan dia berhasil, dua telapak kakinya sudah menginjak lantai kamar.
"A...aku bisa Bu!" seru Baron yang nampak gembira sekali, dan sangat bersemangat.
"Iya, coba kak Baron berdiri dan kemudian melangkahkan kaki satu persatu dan semoga saja bisa berjalan!" seru Ara yang ikut bersemangat.
"Kakak coba ya!" sahut Baron yang kemudian melangkahkan kakinya satu persatu secara perlahan-lahan dan akhirnya kedua kakinya bisa melangkah tanpa ada rasa sakit.
Baron pun akhirnya bisa berjalan dan beberapa kali melangkahkan kaki melewati ibu Misnah dan juga Ara.
"Ibu, aku bisa berjalan lagi!" seru Baron seraya mengulas senyum lebarnya.
__ADS_1
"Iya putraku! ibu senang sekali!" seru Bu Misnah yang juga mengulas senyumnya.
Baron melangkahkan kakinya menghampiri ibunya dan dia memeluk orang tua tunggalnya itu.
Bu Misnah pun menerima pelukan putranya dan mereka saling berpelukan dengan eratnya.
Ara mengulas senyum dan tanpa dia sadari kedua matanya yang berkaca-kaca dan satu persatu butiran kristal air mata itu jatuh di kedua pipi Ara.
"Nak Anin, terima kasih ya!" ucap Bu Misnah pada saat sudah melepaskan pelukannya dengan putra semata wayangnya itu.
"Semua demi keluarga baru Anin, dan Anin senang bisa membantu kakak baru Anin." ucap Anin yang mengulas senyumnya.
"Oiya adik! itu berarti aku tak bisa menikahi Anin. Apalagi katanya dia sudah mempunyai kekasih hati. Hilang sudah kesempatan aku mendapatkan Anin!" gumam dalam hati Baron yang menarik nafasnya dalam-dalam dan melepasnya dengan kasar.
"Ayo kita rayakan kebahagiaan ini, kita makan-makan di taman. Anggap saja kita mengadakan pesta kebun hanya untuk kita!" seru Bu Misnah bersemangat.
"Iya Bu, kita lama tak mengadakan pesta kebun!" seru Baron yang juga bersemangat.
"Kamu ikut ya nak Anin!" seru Bu Misnah yang mengajak Anin untuk ikut serta.
"Aiya Bu, Anin ikut!" jawab Anin yang mengulas senyumnya.
"Ya Bu!" balas Baron dan juga Ara yang kemudian memandan Bu Misnah yang melangkahkan kaki meninggalkan mereka berdua.
"Walaupun saat ini status kita kakak beradik, tapi aku tetap mencintaimu seperti pada awal kita berjumpa Anin!" ucap Baron yang mampu membuat Ara terkejut dan menoleh ke arah Baron.
"A...apa? kak Baron lupakanlah Anin, Anin mohon. Biarkanlah Anin bahagia dengan laki-laki pilihan Anin." ucap Ara dengan sedikit memohon.
"Kak Baron coba untuk berusaha, paling tidak kak Baron akan bahagia jika melihat Anin benar-benar bahagia dengan pilihan Anin sendiri." kata Baron yang berusaha untuk tetap tersenyum dihadapan Ara, dan Ara tahu dari cara senyum Baron yang dipaksakan.
"Ya sudah, ayo sebaiknya kita keluar! Takutnya nanti kak Baron khilaf lagi! he...he...!" goda Ara sembari mengulas senyumnya.
"Kau ini! awas kau ya!" seru Baron yang seraya mau mencubit Ara, dan Ara pun berlari kecil untuk menghindar karena tahu maksud dari Baron yang hendak mencubitnya.
Situasi Baron yang mengejar Ara pun terjadi, sampai mereka keluar dari kamar dan terus berlarian menuju ke ruang tamu.
"Hei, kalian ini ya seperti anak kecil saja! kami Baron hati-hati, kamu kan baru saja bisa berjalan. Jadi kamu masih harus berhati-hadi dalam melangkah!" seru Bu Misnah yang menatap tajam ke arah putranya.
__ADS_1
"Dengerin tuh, wekkk!" seru Ara sembari menjulurkan lidahnya ke arah Baron dan saat ini dirinya sedang berada di samping Bu Misnah.
"Kamu juga, jangan godain kakak kamu ya!" seru Bu Misnah seraya mengusap lembut kepala Ara.
"Ha....ha...! kita impas, wekkk...!" seru Baron yang membalas menjulurkan lidahnya pada Ara.
"Ah, ibu!" seru Ara yang merangkul Bu Misnah dengan manja, seperti dirinya bermanja-manja pada ibunda ratu Ular.
"Wah, sekarang ada yang bermanja-manja sama ibu! kok nggak ada yang bermanja-manja sama kakaknya ya!" seru Baron yang jelas menunjukkan kalau dirinya sedang cemburu dengan kasih sayang ibunya.
"Kan sudah ada ibu, buat apa kakak! wekk...!" balas Ara yang masih saja menggoda Baron.
"Sudah-sudah, ayo kita siap-siap berpesta bertiga di taman! para pelayan sudah menyiapkan semuanya!" seru Bu Misnah yng mengingatkan.
"Baik Bu, Anin mandi dan berganti pakaian terlebih dulu." ucap Ara seraya mengulas senyumnya.
"Baron juga!" sahut Baron.
"Iya, pakailah pakaian terbaik kalian!" seru Bu Misnah.
"Iya Bu!":jawab Ara dan Baron yang kompak, dan kemudian mereka berdua membalikkan badan dan melangkahkan kaki menuju ke kamar masing-masing.
Demikian pula dengan Bu Misnah yang juga melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Mereka mandi dan mengganti pakaian di kamar masing-masing.
Beberapa menit kemudian Baron sudah keluar dari kamarnya, dan dia melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu untuk menunggu yang lainnya.
Baron saat ini menggunakan kemeja warna putih yang tidak dia kancingkan di bagian atas dan sengaja tidak dimasukkan di celana, yang dipadukan dengan celana jins warna biru.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...