Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Perjalanan Kembali ke Istana Siluman Ular


__ADS_3

"Kak kayunya sudah terkumpul, ayo kita buat perapian!" seru Ara yang kemudian mengambilkan satu persatu ranting-ranting kering yang ada dihadapannya saat ini.


"Iya, lagi pula perutku sudah lapar." ucap Langit yang kemudian mereka bersama-sama menyusun perapian.


Langit menyalakan kembali perapiannya dan Ara membantu menusuk ikan dengan ranting kayu dan kemudian dia memanggang ikan tersebut.


Tak berapa lama mereka membakar ikan-ikan yang tadi mereka tangkap bersama-sama.


"Kak Langit sayang, setelah sarapan nanti, kita akan pulang ke rumah orang tua Ara ya. Untuk bertemu kedua orang tua Ara, nanti Ara akan kenalkan kak Langit dengan kedua orang tua Ara." ucap Ara seraya memperhatikan Langit yang sedang membolak-balikkan ikan yang dia panggang.


"Oh, tentu saja kak Langit bersedia. Dan setelah itu ganti kak Langit akan mengajak Ara menemui ayah kak Langit. Tapi sekarang ini entah kemana ayah kak Langit, sedari kemarin kak Langit tak menemukan ayah kak langit." ucap Langit yang terlihat sendu.


"Sudahlah kak, nanti kita cari sama-sama. Sekarang waktunya kita makan,itu lihat ikannya hampir gosong!" seru Ara seraya menatap ke arah ikan yang dibakar Langit.


"Oh, ma'af!" seru Langit yang kemudian menganggap ikan yang hampir gosong itu dan memberikan satu untuk Ara dan satu lagi untuk dirinya.


"Hampir saja kita sarapan ikan gosong! he...he...!" seru Ara sembari tersenyum terkekeh.


"Iya, untung Ara mengingatkan!" sahut Langit sembari meniup ikan bakar yang ada di tangannya.


"Sudah kewajiban Ara kak, lagi pula Ara juga tidak mau makan ikan gosong! ha...ha...!" seru Ara dan keduanya tertawa dan saling menikmati sarapan ikan bakar mereka.


Terkadang keduanya saling suap dan saling bercanda, kedua ya menikmati kemesraan dan asmara yang tumbuh di hati mereka.


Tak berapa lama mereka telah selesai sarapan, dan kemudian mereka mencuci tangan di aliran sungai kecil di samping kolam air terjun itu.


Setelah selesai keduanya melangkahkan kaki menuju jalan setapak yang mengarah ke istana Siluman ular.


Pada awalnya suasana hati Ara dan Langit sangat ceria, tapi tiba-tiba Ara merasakan sesuatu yang beda di jalan yang dia lalui.


"Kenapa tampak suram, kemana para siluman-siluman lainnya?" gumam Ara yang menebarkan pandangannya ke sekitar hutan yang mereka lalui.


"Ada apa sayang? kamu nampak cemas sekali?" tanya Langit yang menyadari perubahan wajah kekasihnya.


"Ara punya firasat buruk kak!" seru Ara yang menatap wajah Langit yang tampan itu dengan raut wajah yang menggambarkan kecemasan.


Ara menghentikan langkahnya dan Langit ikut menghentikan langkahnya.


"Jangan percaya firasat, sebaiknya kita pikirkan yang positif-positif saja. Tentunya yang terbaik buat kita!" ucap Langit yang berusaha menenangkan hati kekasihnya.


Diusapnya pipi sebelah kiri Ara yang putih bersih itu dengan lembut,dan Ara menikmati usapan jari-jari tangan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Ara harap semuanya memang baik-baik saja!" seru Ara seraya menghela napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.


"Iya, semuanya memang baik-baik saja." ucap Langit saat Ara mencium telapak tangannya, dan Langit mengulas senyumnya dengan Lembut.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita!" lanjut ajak Langit dan Ara pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan mereka yang akan menuju ke istana siluman ular.


Hari sudah beranjak siang, keduanya tiba di bawah pohon apel yang rindang.


"Kita sebaiknya istirahat di sini sebentar ya, matahari sudah berada di atas kepala kita." ucap Langit dan yang menebarkan pandangannya di sekitar pohon apel itu.


"Kak Langit, kita makan apa siang ini?" tanya Ara yang kemudian mencari tempat untuk duduk di bawah pohon apel yang ada dihadapannya.


"Apa kamu mau makan buah apel?" tanya Langit yang menawarkan buah apel pada Ara seraya melihat ke atasnya, dimana banyak buah apel yang sudah waktunya untuk dipetik.


"Buah apel? rasanya seperti apa ya kak?" tanya Ara yang penasaran karena dirinya memang belum pernah sama sekali merasakan buah apel.


"Manis seperti kamu!" jawab Langit seraya menarik hidung Ara.


"Aih kak Langit nih! memerahkan hidung Ara jadinya!' seru Ara yang sedikit kesal.


Kemudian dengan perlahan-lahan, Langit memanjat pohon apel itu. Langit memetik satu persatu buah apel yang sudah memerah.


"Ara, tangkap satu persatu ya!" seru Langit yang siap melempar buah apel pada Ara.


Ara mendongak dan bersiap dengan mengembangkan pakaiannya untuk menangkap apel yang akan dilemparkan oleh Langit.


"Iya kak!" balas Ara.


"Tangkap Ra!" seru Langit


"Hap...! dapat...!" seru Ara yang sudah menangkap satu buah apel.


"Lagi Ra, tangkap..!" seru Langit yang memberi tanda akan melemparkan buah apelnya.


"Happ...! dapat lagi..!" kembali seru Ara dengan mengulas senyumnya.


Sudah dua buah apel yang ditangkap Ara, dan Langit melemparkan lagi buah apel yang ketiga dan sampai keenam kalinya.


"Wah, sudah banyak kak!" seru Ara yang kemudian duduk dengan bersimpuh dan enam buah apel ada dihadapannya.

__ADS_1


"Iya, kakak juga mau turun!" seru Langit yang mulai menuruni pohon apel itu.


"Mungkin akan menjadi sejarah baru untuk kaum ular, ada ular yang makan buah apel! he...he...!" ucap Ara sembari tersenyum saat melihat apel yang ada dihadapannya.


"Ha...ha...! iya juga, kamulah yang akan mengubah sejarah dan kebiasaan itu!" seru Langit yang sudah berada disamping Ara dan mengambil buah apel itu. Kemudian Langit mengusapkannya pada lengan kirinya.


Hal itu menarik perhatian Ara dan gadis siluman ular itu mengikuti apa yang dilakukan oleh Langit. Ara mengambil buah apel dan mengusapkannya pada lengan kirinya.


"Krek..!"


Langit mulai menggigit buah apel itu, demikian pula dengan Ara yang juga menggigit buah apel itu.


"Krek...!"


"Aduh kok ngilu ya?" gumam Ara yang di dengar oleh Langit.


"Lama-lama kamu akan terbiasa Ara!" bisik Langit dan Ara memberanikan diri untuk mengunyah gigitan buah apel itu.


Sedangkan Langit sudah menghabiskan buah apel yang ada ditangannya.


"Kak Langit cepat sekali makannya!" seru Ara yang penasaran.


"Habisnya apelnya manis seperti kamu." balas Langit yang menggoda Ara dan hal itu membuat kedua pipi Ara memerah karena tersipu malu.


"Kak Langit ini ah, suka begitu!" ucap Ara yang mengulas senyumnya seraya tertunduk malu.


"Ayo makan lagi buahnya, setelah habis kita lanjutkan perjalanan ke rumah kamu." ucap Langit dan mereka kemudian menghabiskan buah apel tersebut.


Tak berapa lama mereka sudah menghabiskan enam buah apel itu berdua, dan keduanya kemudian mencari sungai untuk mencuci tangan dan sekaligus mencari sumber mata air yang jernih untuk minum mereka.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2