Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Batu Intan Hitam


__ADS_3

"Masalah kenal dan mengenal, itu kan bisa seiring waktu kita bisa saling mengenal." ucap ibu Misnah sembari menatap wajah Ara,


"Tapi Bu, Anin tak ada perasaan apa pun pada Baron. Sedangkan Anin menginginkan laki-laki yang benar-benar Anin cintai!" seru Anin yang menjelaskan.


"Tenang saja nak Anin, cinta kan bisa datang tiba-tiba." ucap Bu Misnah yang memaksa.


"Kenapa aku selalu terlibat dalam perjodohan?" gumam dalam hati Ara yang kesal.


"Akan Anin pikirkan masalah itu Bu! sekarang saya sedang fokus mengenal seluruh keluarga Misnah." ucap Anin yang mencoba tidak membuat hati Bu Misnah kecewa.


Tiba-tiba ada seorang pelayan yang menghampiri Bu Misnah dan Ara.


"Ma'af nyonya, makan siang sudah kami hidangkan. Silahkan ke meja makan nyonya." ucap pelayan itu seraya menundukkan kepalanya.


"Baiklah kami akan segera ke ruang makan." balas Bu Misnah dan pelayan itu melangkahkan kaki meninggalkan Bu Misnah dan juga Ara.


"Anin, ayo kita makan siang sekarang!" ajak Bu Misnah sembari mengulas senyumnya, dan mereka melangkahkan kaki menuju ke ruang makan secara beriringan.


Sesampainya di ruang makan ternyata Baron dan pak Misnah juga sudah berada di depan meja makan.


"Ibu, Anin! ayo kita makan sama-sama!" ajak Baron saat melihat Ara dan Bu Misnah yang melangkahkan kaki mereka menghampiri Baron dan pak Misnah.


"Iya, bapak tumben makan siang di rumah?" tanya Bu Misnah seraya mengambilkan nasi beserta lauk pauk dan sayurannya pada pak Misnah.


"Kebetulan bapak tidak ikut kirim ke luar kota, dan pekerjaan di gudang banyak yang semrawut!" jawab pak Misnah.


"Oiya, menu kita hari ini adalah sayuran, untuk menghormati Anin yang tak bisa makan menu special kita! he...he...!" jawab Bu Misnah sembari menyerahkan piring dengan menu komplit pada pak Misnah.


"Aku sih tidak apa-apa, yang penting enak! he...he...!" seru Baron sembari tersenyum.


Dan mereka kemudian makan siang dengan lahapnya dengan diiringi saling cerita masa kecil Baron, oleh kedua orang tua Baron.


Beberapa menit kemudian mereka telah selesai makan siangnya dan pak Misnah kembali bekerja, sementara Bu Misnah dan Baron kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Sementara Ara yang juga berada di kamarnya, sedang berada di samping jendela kamarnya. Gadis itu mengawasi gudang dimana pak Misnah berada di sana bersama anak buahnya, yang nampak sibuk mengangkat kotak-kotak yang entah apa isi-nya.


"Oiya, aku harus ke ladang! aku akan mencari tahu apa yang terjadi disana!" gumam dalam hati Ara yang kemudian merubah dirinya menjadi seekor ular emas.


Kemudian ular itu melata keluar dari kamar melewati jendela kamar dan menuruninya melewati dinding-dinding rumah mewah itu.


Ular emas itu mengendap-endap dan melewati halaman dan meninggalkan rumah mewah itu.


Sesuai petunjuk arah dari Baron, Ara yang berwujud ular emas itu menyusuri tepi jalan menuju ke ladang.


Sesekali ular emas itu bersembunyi untuk mengindari orang-orang yang sedang lalu lalang.


Dan pada akhirnya si Ular emas itu sampai di ladang yang dia cari.


"Di sini ladang itu, dan dimana ya tumpukan batu itu?" gumam dalam hati Ara yang terus mencari keberadaan tumpukan batu yang menjadi sarang ular yang mematuk kaki Bu Misnah beberapa tahun yang lalu.


"Itu rupanya sarang ular itu!" seru Ara yang terus melata dan menghampiri tumpukan batu yang ada di depannya.


Ular emas itu memperhatikan dengan seksama tumpukan batu itu, kemudian dia masuk ke dalam lubang-lubang yang ada di setiap sela-sela tumbukan batu itu.


Batu intan hitam adalah batu mustika yang dimiliki para ular penyihir yang biasa berjuluk Vipera.


"Batu intan hitam ini bisa menyembuhkan kaki Baron, sebaiknya aku simpan saja batu intan hitam ini." gumam ular emas itu yang kemudian mengambil batu intan hitam itu.


"Aku sebaiknya kembali ke rumah pak Misnah, aku tak nyaman dengan wujudku seoerti ini. Banyak orang yang berlalu lalang!" ucap dalam hati Ara yang kemudian memperhatikan ke sekitarnya.


Setelah dirasa aman, ular emas itu kembali menyusuri jalan setapak di ladang dan menuju ke jalan perkampungan.


Ular emas itu menyusuri parit untuk menghindari bertemu dengan manusia.


Tak berapa lama ular emas itu memasuki halaman dan kemudian menaiki dinding yang menonjol untuk bisa sampai di balkon kamarnya.


Tak butuh waktu lama ular emas itu telah sampai di balkon, dan dia segera masuk ke kamar.

__ADS_1


Ular emas itu merubah dirinya kembali menjadi manusia, dan di telapak tangannya dia melihat batu intan hitam yang berkilau.


"Sebaiknya aku simpan batu intan hitam ini di kalungku!" gumam Ara yang kemudian membuka liontin yang terpasang di kalungnya dan dia menyimpan batu intan hitam itu di dalamnya.


Hari beranjak sore hari, kemudian Ara membersihkan dirinya ke kamar mandi. Dan setelah itu dia merias diri seperti apa adanya.


Setelah selesai, Ara melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan dia menuruni tangga dan menghampiri Baron dan Bu Misnah yang sedang bercengkrama di teras depan rumah.


"Wah, sepertinya asyik sekali ya perbincangan kalian!" seru Ara dari dalam rumah dan melangkah ke teras depan rumah.


"Oiya, sini Anin. Kita sedang membahas kopi yang kita minum sore ini!" balas Bu Misnah sembari mengulas senyumnya.


"Oh iya? apa manfaat dari meminum kopi?" tanya Ara yangikut dalam pembicaraan itu, dan dia duduk di sampin Bu Misnah.


"Manfaat dari kopi banyak sekali, diantaranya yaitu: Mencegah batu ginjal,  Melawan Diabetes, Membantu pernafas, Mencegah kanker payudara dan Mengurangi resiko strok. Itu yang Baron ketahui pada saat baton masih sekolah." jawab Baron sembari menatap Ara dan Ibundanya secara bergantian.


"Begitu ya? terus macam-macam kopi apa saja?" tanya Ara yang menerima secangkir kopi dari pelayan pak Misnah.


"Wah kalau itu sih banyak sekali macamnya, seperti yang kamu minum itu kopi white terus yang saya minum kopi hitam dan kopi yang di minum ibu adalah kopi arabica. Semuanya mempunyai arti dan kesan tersendiri." jelas Baron sembari mengulas senyumnya.


Ara pun ikut mengulas senyum, dan mereka melanjutkan pembicaraan mereka.


Tak terasa hari beranjak sore hari, mereka menghentikan perbincangan dan kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri mereka sendiri-sendiri.


Dan setelah mandi dan berhias diri, mereka keluar dari kamar dan melangkahkan kaki mereka untuk makan sore bersama keluarga mereka.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2