Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Perkampungan di belakang tambal ban


__ADS_3

"Bisa, tentu saja bisa Tuan putri!" jawab ular itu seraya menganggukkan kepalanya.


Ular yang terluka itu melata mendahului ular emas, dan ular emas itu kemudian memposisikan dirinya bersejajar dengan Ular yang terluka itu.


Keduanya melata dengan bersejajar, dan tak berapa lama mereka sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu berjauhan dengan yang lainnya.


Keduanya melihat dua orang laki-laki yang memikul dua keranjang di


bahu mereka masing-masing.


"Apa yang mereka bawa itu?" tanya Ara yang penasaran.


"Itu saudara-saudara kita yang, akan mereka jual pada pengepul."seru laki-laki itu yang menatap ke arah Ular emas itu.


"Hm...! kamu disini saja, biar mereka itu urusan aku." perintah Ara pada ular yang terluka itu.


"Baik tuan putri." ucap ular terluka itu yang tetap dalam posisinya.


Kemudian putri siluman ular melangkah dengan melata menjauhi ular yang terluka dan menghampiri rumah yang didatangi kedua orang yang membawa dua keranjang yang masing-masing memukulnya.


Ular emas itu bergerak cepat dan menyelinap masuk ke rumah melalui lubang yang terdapat di rongga dinding yang terbuat dari kayu itu.


Setelah masuk, Ara melihat begitu banyaknya rakyatnya yang terpenjara dalam kotak kaca.


Ular emas itu melihat tidak hanya dua orang, rapi masih ada tiga orang lagi yang mengurusi ular-ular itu.


"Benar saja, disini banyak sekali rakyatku! sebaiknya aku memancing mereka agar mengalihkan perhatian mereka!" gumam dalam hati ular emas itu


Kemudian ular emas itu mendekati sudut dinding kayu, dan ular itu mengeluarkan api melalui mulutnya.


Api kecil menjadi besar telah membakar dinding kayu itu. Ular emas itu kemudian menjauhi kepulan api tersebut


Benar saja kepulan api itu menarik perhatian orang-orang yang ada disekitarnya.


"Api!"


"Kebakaran! kebakaran!"


Seru dua diantara kelima orang itu yang panik melihat api yang berkobar semakin membesar. Mereka pun berbondong-bondong berusaha mematikan api yang hampir mencapai atap rumah itu.


Sementara ular emas itu dengan kekuatannya membuka gembok pada kotak kaca yang menahan rakyatnya.


Tidak ada satu dan dua kotak kaca, ketika ular emas sudah membebaskan beberapa ular-ular itu, ternyata masih ada ruangan lagi yang terdapat kotak kaca yang menahan para ular penghuni hutan terlarang.

__ADS_1


"Tuan putri, di ruangan itu masih ada lagi!" ucap salah satu ular dengan mendesis yang tentunya sangat di pahami oleh ular emas itu.


"Oh, masih ada lagi rupanya!" seru ular emas yang telah selesai membuka gembok kotak-kotak kaca itu.


Kemudian ular emas itu melangkah secara melata menuju ke ruangan yang ditunjukkan oleh ular tadi.


Dan benar saja di ruangan itu banyak kotak-kotak kaca yang berisikan ular-ular. Ular emas segera membukakan satu persatu kotak kaca yang berisikan ular-ular itu.


Setelah terbebas, ular-ular itu melangkah dengan melata keluar dari kotak kaca dan meninggalkan ruangan itu. Namun sebelumnya mereka mengucapkan terima kasih pada Ular emas.


"Terima kasih tuan putri Ara!"


"Terima kasih tuan putri Ara!"


"Terima kasih tuan putri Ara!"


Demikianlah satu persatu para ular itu mengucapkan terima kasih pada Ular emas itu.


Ular emas itu membalas dengan anggukan dan senyuman, kemudian kembali melanjutkan tugas-tugasnya yaitu membuka gembok kotak-kotak kaca itu.


Saat ini ratusan ular telah terbebas dan mereka berjejal keluar dari rumah yang hampir terbakar setengahnya itu.


Setelah api padam, mereka baru menyadari semua kotak-kotak kaca terbuka.


"Bagaimana bisa mereka kabur!" seru yang lainnya dengan rasa penasaran.


"Entahlah, yang jelas kita rugi besar!" seru orang yang disebelahnya


"Iya rumah kita terbakar!" timpl orang dibelakangnya.


"Aneh! Dari mana api itu berasal?" tanya mereka serempak yang belum tentu mereka dapat menjawabnya.


Sementara itu semua ular telah keluar dari rumah tersebut, dan mereka berkumpul di kebun belakang rumah bersama ular yang terluka.


Sedangkan ular emas itu berada dihalaman belakang dan kemudian mengembangkan kepalanya. Ular emas itu menyemburkan api, yang kali ini tak main-main, api lebih besar dari yang dia keluarkan di dalam rumah.


Kebakaran hebat itu disaksikan para ular-ular itu dengan senyum kemenangan mereka.


Ular emas itu kemudian berbalik dan melangkah dengan melata bergabung dengan para ular lainnya.


"Hidup tuan putri Ara!"


"Hidup tuan putri Ara!"

__ADS_1


"Hidup tuan putri Ara!"


Begitu teriak para ular dengan cara mendesis, menyerukan semangat mereka mendukung putri raja siluman ular itu.


"Sudah-sudah dan terima kasih atas semuanya! kalian juga membantu dalam usaha pembebasan ini!" seru Ular emas itu dengan menebarkan pandangannya pada semua rakyatnya.


Semuanya terdiam dan menyimak apa yang akan dikatakan oleh Ular emas itu.


"Apakah masih ada saudara-saudara kita yang di tahan oleh mereka?" tanya Ular emas itu dengan tatapan yang serius.


"Masih ada tuan putri, dan rata-rata semua penduduk disini punya kotak kaca yang berisikan saudara-saudara kita!" seru salah satu dari para ular itu dengan mendesis.


"Kalau begitu sekarang adakah diantara kalian yang mau menunjukkan kepada saya, dimana saudara-saudara kita ditahan?" tanya Ular emas itu dengan lantang.


"Biar saya yang menunjukkannya tuan putri!" jawab seekor ular gadung.


"Baiklah, untuk yang lainnya! kembalilah ke habitat kita. Dan jika ada manusia pemburu ular, sebaiknya kalian jangan keluar dari sarang kalian. Apa kalian mengerti!" seru Ular emas itu dengan lantang.


"Mengerti tuan putri!" seru semua ukar-ular itu, yang kemudian mereka pergi meninggalkan ular emas dan ular gadung itu sendiri di kebun belakang rumah yang sebelumnya menahan mereka.


Sementara itu Ular emas dan ular gadung itu melihat semuanya yang telah meninggalkannya, kemudian mereka melangkahkan kakinya dengan melata menuju ke rumah-rumah yang lainnya.


Sesampainya di rumah yang ditunjukkan oleh ular gadung, Ular emas itu melangkahkan dengan melata menyelinap masuk ke rumah penduduk yang menjadi sasaran mereka.


Ular emas itu melakukan hal yang sama dengan yang tadi dia lakukan pada rumah sebelumnya. Mengalihkan perhatian para penduduk penghuni rumah tersebut dengan membuat kebakaran, dan kemudian membebaskan semua ular-ular yang di tahan oleh para penduduk itu.


Hal itu mereka lakukan di setiap rumah yang menahan ular-ular dari Hutan larangan.


Suasana perkampungan yang tadinya sunyi, kini riuh dan kacau. Api membakar rumah-rumah warga, dan para penduduk berbondong-bondong memadamkannya,


Sementara itu ular-ular yang telah lepas itu, melarikan diri menuju ke hutan larangan.


Saat ini hanya tertinggal ular emas yang berada di tengah-tengah perkampungan yang terbakar itu.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2