
Saat ini mereka sudah sampai di teras rumah dan setelah berpamitan dengan Baron, Langit pun masuk ke mobilnya dan kemudian melaju menyusuri jalan raya yang menuju ke rumahnya.
Sementara itu di rumah Darjo, dimana Ara sedang sibuk menyiapkan rencana dia dan suaminya untuk menyatukan dua hati sahabat lama yang awalnya teman menjadi demen itu.
Tiba-tiba Ara merasakan dirinya mual-mual, dan merasakan perutnya yang sakit luar biasa.
Ara menghubungi Langit dan memberitahukan kondisinya, Langit pun sangat senang mendengar kabar itu.
Suami Ara mempercepat laju kendaraannya untuk pulang, sementara Ara melanjutkan pekerjaannya.
Tanpa disadari oleh Ara, timbul lagi niat jahat Darjo yang ingin menguasai mustika ular yang di miliki oleh Ara, si putri siluman ular itu.
Di saat Ara sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai istri dan menantu yang baik, Darjo menyiapkan rencana untuk membunuh Ara seperti halnya dia membunuh ayahanda Ara.
Darjo melihat Ara sedang lengah, dan ayah Langit itu merapalkan mantra dan membuat cahaya berbentuk bola hitam yang besar. Kemudian bola itu dihantamkan ya pada tubuh Ara.
"Boummm....!"
"Aaarrgh....!"
Ara yang dalam kondisi belum siap, terdorong beberapa meter ke belakang, dan nampak darah segar muncul di sudut bibir menantu Darjo itu.
"Kurang ajar!"
Ara mengumpat seraya memegang dadanya.
"Mau apa kamu dariku? bukankah kamu sudah merestui pernikahan aku dengan putramu?" tanya Ara dengan napas yang tak beraturan.
"He...he...! tak kan ku biarkan kau lolos! aku akan kaya raya karena akan memiliki dua mustika siluman ular. Apalagi mustika raja dan putrinya! ha.... ha....!" seru Darjo dengan senyum kemenangannya.
Kemudian Darjo kembali membaca mantra, dan beberapa detik kemudian cincin bermata merahnya menjadi sebuah pedang yang menyala merah.
"Weeet ..! weeet...! weeet ..!"
Pedang itu berkali-kali diputar-putar oleh Darjo. Dan kemudian dia mengarahkannya pada si putri raja siluman ular itu.
"Weeet ..! weeet...! weeet ..!"
Dengan gesit putri raja siluman ular mampu menghindarinya, dan jika ada kesempatan si putri raja siluman ular itu menyerang balik Darjo. Dan ayah Langit itupun terpukul mundur.
"Hah, kurang ajar!" seru Darjo yang kemudian melompat dan dengan gerakan cepat menyerang balik putri raja siluman ular yang juga menantunya itu, dan beberapa kali berusaha menghunuskan pedangnya ke tubuh putri raja siluman ular itu.
Dan pada saat pedang merah itu siap mengarah ke perut putri raja siluman ular itu, tiba-tiba saja ada yang pasang badan didepan Ara si putri raja siluman ular itu.
"Jlebb!"
"Aaaghh...!"
__ADS_1
Sesosok laki-laki yang merelakan perutnya terhunus pedang Darjo itu, mengerang kesakitan. Dan tubuhnya yang semula berdiri kini ambruk dengan tangan kanannya memegang dada yang tertancap pedang merah milik Darjo.
"Kak Langit!" seru Ara yang memanggil lalu mendekap laki-laki yang amat dia cintai itu, yang saat ini sedang terkulai tak berdaya itu.
"Kau... putraku...!" seru Darjo dengan menahan rasa penyesalannya, menghamburkan diri untuk menghampiri Langit dan Ara yang sedang menangis menumpahkan kesedihannya.
"Jangan mendekat!" seru Ara yang semula nampak wajah cantiknya kini berubah memerah dan kedua kakinya kini berubah menjadi ekor ular yang berwarna emas.
"Apa! dia putraku!" seru Darjo yang juga menatap Ara dengan kemarahannya.
"Putra! seorang ayah tak akan membunuh putranya. Lengkap sudah kemarahanku! kau yang tega membunuh ayahandaku, kau yang berniat mau membunuhku dan sekarang kau membunuh suamiku! tak kan aku biarkan kau untuk hidup lagi!" seru Ara yang sudah di puncak kemarahannya.
"Apa yang akan kau lakukan! aku harus hentikan niatmu itu!" seru Darjo yang sudah bersiap dengan pedang merahnya.
"Weeet ..! weeet...! weeet ..!"
Pedang itu berkali-kali diputar-putar oleh Darjo. Dan kemudian dia mengarahkannya pada si putri raja siluman ular itu.
"Weeet ..! weeet...! weeet ..!"
Dengan gesit putri raja siluman ular mampu menghindarinya, dengan meliuk-liukan tubuhnya yang setengah manusia dan setengah ular itu.
Darjo melayang dan melesat dengan mengarahkan pedang merah ke jantung Ara.
Sementara itu Ara menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, dan muncullah bola cahaya berwarna kuning keemasan yang semakin lama semakin membesar.
"Boummm....!"
Tubuh tegap Darjo terpental jauh sampai keluar pagar rumahnya.
Ara yang masih terengah-engah, menstabilkan energinya beberapa menit, sebelum Darjo bangkit dan bersiap kembali menyerang Ara.
Putri raja siluman ular itu mengetahui kalau Darjo berusaha bangkit dan akan menyerangnya kembali, mengeluarkan mustika merah delimanya.
Mustika itu melayang didepan dadanya, kemudian Ara merapalkan mantra dan menggerak-gerakkan tangannya memutari mustika itu.
Sinar merah delima memancar dan mengarah ke tubuh Darjo,
"Duumm...!"
Tubuh Darjo diselimuti cahaya merah delima,
"Aaagghhh....!"
Darjo mengerang kesakitan dan tiba-tiba dia ambruk, seperti tak punya tenaga lagi.
Dan tiba-tiba cincin bermata merah milik Darjo itu lepas dari jari manis empunya dan melayang kemudian melesat masuk ke dalam mustika merah delima Ara tersebut.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kamu tak akan punya kekuatan lagi!" seru Ara pada saat dia sudah memasukkan dan menyimpan lagi mustika merah delimanya.
"Ingin rasanya aku membunuhmu tapi mengingat rencana kak Langit yang mau menjodohkan kamu dengan bi Ranti, jadi aku urungkan untuk membunuh-mu!" seru Ara dengan geramnya.
Masih ada api dendam di hati Ara, dan dia berusaha menepisnya. Putri raja siluman ular itu mengingat akan kondisi suaminya,
Kemudian dia bergerak menghampiri tubuh suaminya yang sudah tak berdaya diatas tanah.
Kemudian Ara berusaha menyembuhkan luka suamiya dengan tenaga dalam yang dia milikinya, namun semua terlambat.
Energi jahat pedang sudah merusak ulu hati dan organ dalam tubuh Langit.
"A...Ara is...te..ri....ku!" panggil Langit dengan terbata-bata.
"Kak Langit, Ara tak bisa menolongmu! hiks...!" seru Ara dibarengi racauan penyesalan Ara.
"A...Ara, jaga anak kita baik-baik. Didiklah berjiwa besar dan suka menyayangi mahkluk ciptaan Tuhan." ucap Langit dengan suara lirih.
"A..anak?" tanya Ara yang bingung sekaligus bahagia, menatap dengan wajah penasaran ke arah suaminya.
"Iya, anak kita!" jawab Langit yang berusaha mengusap-:usap perut Ara.
"Anak, aku akan melahirkan anak kita!" seru Ara yang mengulas senyumnya.
"Iya sayang. Ara istriku, kak Langit sebagai putra tunggal dari ayah Darjo meminta ma'af sebesar-besarnya atas semua kejahatan yang dilakukan ayah
ku!" ucap Langit lirih dan napasnya pun sudah tak beraturan lagi.
"Iya kak Langit, Ara akan mengingat pesan suamiku tercinta." ucap Ara yang terus memeluk Langit dengan eratnya.
"Selamat tinggal sayang, selamat tinggal dunia!" ucapan terakhir kali ya suami Ara dibarengi hembusan napas terakhir dan tertutupnya kelopak mata Langit saat itu juga.
"Kak Langit..!" pekik Ara yang tumpah bersama air matanya.
Saat ini Ara sudah dalam kondisi teramat sangat sedihnya, dan berkali-kali dia menciumi wajah tampan suaminya yang telah tiada itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1