Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Menemui Bu Misnah dan Baron


__ADS_3

Tak berapa lama mereka telah sampai ke depan kamar Baron, setelah membuka pintu kembali Bu Misnah mendorong putranya masuk ke kamarnya.


Perlahan-lahan Bu Misnah mengantarkan Baron ke tempat tidurnya, dan kemudian Baron naik ke atas tempat tidur dengan merangkak.


"Andai saja kamu bisa jalan lagi!" ucap Bu Misnah yang memandang kaki putranya.


"Iya Bu, aku bisa menggantikan bapak mencari nafkah untuk kita!" ucap Baron yang juga memandangi kakinya.


"Seumpama Anin kemarin menikah dengan kamu, pastinya lah kamu tidak akan menjadi ular pas bulan purnama kemarin." ucap lirih Bu Misnah.


"Mungkin Anin bukan jodohku, tapi aku sudah mulai menyukainya Bu." sahut Baron yang menatap wajah ibunya yang nampak sendu itu.


"Iya, cuma ibu dan almarhum bapak kamu yang sangat berharap pada gadis itu! Kamu istirahat ya, ibu juga akan beristirahat juga." ucap lirih Bu Misnah.


"Iya Bu!" jawab Baron yang sudah mwmosisikan dirinya berbaring.


Kemudian Bu Misnah melangkahkan kakinya keluar dari kamar Baron, sementara kedua mata Baron masih menerawang ke langit-langit kamarnya.


"Aku sekarang bukan manusia lagi, aku siluman ular!" gumam Baron yang merasakan kekecewaan dan juga kesedihannya.


Tak berapa lama Baron terlelap dalam tidurnya. Dan suasana rumah besar itu kembali sepi.


Beberapa jam kemudian, waktunya makan malam. Para pelayan mendatangi kamar Bu Misnah, Baron dan juga Anin satu persatu untuk memberitahukan kalau makan malam telah siap.


Sementara itu Ara yang sudah bangun dari tidurnya, kemudian membersihkan diri dan merias wajahnya serta mengganti pakaiannya.


Gadis itu tiba-tiba melihat ada bayangan sosok ular jenis Viper di cermin meja rias.


"Si...siapa kamu?" tanya Ara yang sangat terkejut dan menatap bayangan ular jenis Viper itu, yang berada di dalam cermin meja riasnya.


"Saya Vipera, si ular penyihir tuan putri!" jawab ular yang mengaku bernama Vipera itu.


"Apa, Vipera?" tanya Ara yang meyakinkan dirinya sendiri dengan apa apa yang Ara lihat maupun dengar itu.


"Iya, putri kamu bisa menggunakan batu mutiara hitam itu untuk membebaskan Baron dari kutukanku. Tapi mutiara hitam itu juga bisa membuat para manusia yang telah menyakiti kaum kita, akan menjadi pengikut kita nantinya!" seru Vipera pada Ara.


"Membebaskan dan membuat manusia menjadi kaum kita!" seru Ara dalam rasa penasarannya.


"Lebih baik anda memberi pelajaran pada mereka yang telah mengganggu kaum kita dengan menggunakan batu mutiara hitam itu. Karena sudah banyak korban di pihak kita!" seru Vipera itu yang menjelaskannya pada Ara.


"Kamu benar juga!" seru Ara yang melihat ke arah Vipera. Dan Vipera mengulas senyumnya. pada Ara.

__ADS_1


Dan seketika itu juga, Vipera menghilang dari hadapan Ara. Dan gadis siluman itu tersentak kaget karenanya.


Kemudian Ara mendengarkan ada yang mengetuk pintu kamarnya dari luar.


"Tokk.... tokk... tokk...!"


"Siapa?" tanya Ara dengan suara keras.


"Saya nona Anin, makan malam sudah siap!" jawab pelayan yang mengetuk pintu kamar Ara.


"Oh, baiklah sebentar lagi saya juga akan keluar!" balas Ara yang memang sudah bersiap-siap untuk keluar dari kamarnya.


Ara melangkahkan kaki menuju ke pintu kamarnya dan kemudian dia membuka serta menutup pintu kamarnya.


Setelah selesai menutup, Ara mengunci pintu kamar dan kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.


Saat berada di ruang makan, Ara tak mendapati Bu Misnah maupun Baron.


"Kemana mereka?" tanya Ara pada salah satu pelayan yang ada di ruang makan itu.


"Mereka makan bersama di kamar tuan muda Baron, tuan muda sedang tak mau turun dari tempat tidurnya!" jawab pelayan itu.


"Oh, jadi begitu!" balas Ara yang melihat para pelayan dan dia melihat ada sesuatu yang kurang diantara pelayan di ruang makan itu, yang kini tinggal dua orang saja.


"Sebagian dari kami sudah diberhentikan oleh nyonya. Jadi hanya Kamilah yang tersisa." jawab pelayan yang menyiapkan makan malam buat Ara.


"Kasihan sekali. Kalau kalian tak bekerja disini kalian akan bekerja dimana lagi?" tanya Ara yang penasaran.


"Iya, kami akan jadi pengangguran. Dan kembali pada keluarga kami tentunya." jawab pelayan yang telah selesai menyiapkan makanan untuk Ara.


"Hm....!"


"Kalau di dunia siluman tak akan mengenal uang maupun memperkaya diri. Kami para siluman hanya punya kesetiaan. Siapa yang pengikutnya paling banyak, dia menjadi penguasa. Dan para dayang dan prajurit dengan suka rela melakukan aktifitas kerajaan sesuai tugas masing-masing." gumam dalam hati Ara yang membanding-bandingkan suasana di rumah keluarga misnah dengan di kerajaannya.


"Nona Ara cepatlah makan, keburu dingin nanti!" seru pelayan yang sejak tadi bersama Ara seraya mengulas senyumnya.


"Iya, terima kasih Bu!" jawab Ara yang kemudian memakan makanannya.


Kemudian pelayan itu melangkahkan kaki menuju ke kamar Baron.


Beberapa menit kemudian Ara telah selesai makan dan datang pelayan yang tadi ke kamar Baron, melangkahkan kakinya menghampiri Ara dan kemudian meletakkan piring bekas makan Baron dan Bu Misnah dia atas nampan.

__ADS_1


"Nona Ara!" panggil pelayan itu pada saat sudah sampai di hadapan Ara.


"Ada apa Bi?" tanya Ara yang menatap pelayan itu dengan rasa penasaran.


"Nona dipanggil nyonya di kamar tuan Baron!" jawab pelayan itu yang membalas tatapan Ara.


"Kenapa harus ke kamar kak Baron ya?" tanya Ara yang penasaran.


"Iya karena tuan muda Baron sedang sakit nona!" jawab pelayan itu.


"Oh, baiklah kalau begitu saya akan menemui mereka sekarang juga." ucap Ara yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar Baron.


"Tokk.... tokk... tokk...!" Ara mengetuk pintu kamar Baron, saat sudah sampai di depan pintu kamar Baron.


"Siapa?" tanya suara wanita dari dalam kamar Baron.


"Saya Anin Bu!" jawan Ara yang masih menyamar dengan nama Anin pada keluarga Misnah.


"Masuk!" seru suara wanita yang tak lain suara Bu Misnah.


Ara kemudian membuka pintu kamar tersebut, dan dia melihat Bu misnah yang duduk di samping Baron yang sedang terbaring diatas tempat tidur.


Setelah menutup kembali pitntu kamar Baron, kemudian gadis itu mmm cdr melangkahkan kakinya menghampiri Bu misnah dan juga Baron.


"Ibu Misnah dan kak.Baron, apa kabar?" tanya Ara saat sudah sampai dihadapan Bu Misnah dan juga Baron.


"Tidak baik Anin. Sejak kamu menunggalkan kami, bapak meninggal dunia dan perekonomian kami tak stabil. Kami mengalami kebangkrutan!" jawab Baron dengan nada kecewa.


"Iya nak Ara, Baron benar. Kata pelayan nak Ara tersesat, apa benar begitu?" ibu misnah yan menambahi dan bertanya pada Ara.


"Benar Bu, Ara tak tahu jalan kembali kemari. Ara mencari petunjuk kembali ke hutan larangan, dan menyusuri jalan dimana pernah kita lewati kemarin Bu." jelas Ara yang tentu saja tak mengatakan hal yang sebenarnya pada Bu Misnah dan juga Baron.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2