
"Oiya, kamu kan siluman ular." ucap Langit yang mulai paham dengan maksud Ara.
"Nah kak Langit! tujuan Ara kita datang kemari selain untuk pengobatan, juga bisa menyatukan kembali ayah kak Langit dengan Bu Misnah. Semoga saja setelah bereka berjodoh kembali, sifat buruk ayah kak Langit bisa berubah." jelas Ara seraya menatap kekasihnya.
"Ah, betul juga!" seru Langit yang setuju dengan pemikiran Ara.
"Sebaiknya kak Langit panggil Kak Baron dan Bu Misnah. Sekalian bawa tandu apa kursi roda untuk membawa ayah kak Langit ke dalam rumah.
"Ok, Kak Langit tinggal sebentar ya, kamu tak apa-apa kan kak Langit tinggal sebentar?" tanya Langit yang menatap Ara dengan sedikit cemas.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir kak! Ara bisa jaga diri Ara." ucap Ara sembari mengulas senyumnya.
"Ok, kak Langit percaya itu. Sekarang kak Langit pergi sebentar ya!" seru Langit yang menghampiri Ara dan kemudian mengecup kening kekasihnya itu. Setelah itu Langit pergi meninggalkan Ara yang sedang menjaga Darjo, ayah Langit.
Sementara itu Langit terus melangkahkan kaki dan akhirnya sampai di teras rumah Bu Misnah.
Di teras itu ada Bu Misnah dan juga Baron yang sedang santai menikmati suasana sore hari seraya minum teh hangat.
"Bibi, Baron!" panggil Langit seraya menghampiri mereka.
"Langit!" balas panggil Baron dan Bu Misnah secara bersamaan dan mereka menoleh ke sumber suara.
"Aku butuh bantuan kalian, apa kalian bisa membantuku?" tanya Langit dengan ramah.
"Bisa, bantuan apa yang kamu inginkan dari kami nak Langit?" tanya Bu Misnah yang penasaran.
"Ayah Langit sedang sakit, dan kami butuh tempat untuk merawat dan menjaga ayah." jelas Langit.
"Kak Darjo sakit? sakit apa?" tanya Bu Misnah yang raut wajahnya berubah drastis menjadi sangat khawatir.
"Nanti akan Langit jelaskan, jadi apakah ada sebuah kamar untuk kami bisa mengobati ayah Langit?" tanya Langit yang penuh harap.
"Ada, tentu saja ada. Sekarang dimanakah paman Darjo?" tanya Baron yang penasaran.
"Ada di taman bersama Ara. Dan Langit butuh tandu apa kursi roda untuk membawa ayah!" jawab Langit.
"Kursi roda ada, bekas aku dulu!" seru Baron yang kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil kursi rodanya.
"Kalau begitu bibi akan siapkan kamarnya sekarang juga dan kalian membawa kak Darjo masuk ke rumah!" perintah Bu Misnah.
"Iya bi. Itu lebih baik!" seru Langit dan mereka pun berpisah. Bu Misnah masuk ke rumah untuk menyiapkan kamar yang akan digunakan oleh Darjo, sedangkan Langit bersama Baron melangkahkan kaki menuju ke taman.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan taman dan melihat Ara melambaikan tangannya, keduanya mempercepat langkah kaki mereka menghampiri Ara dan juga Darjo di Gazebo dalam taman itu.
"Kak Langit, Kak Baron!" panggil Ara pada saat kedua laki-laki itu ada dihadapan mereka.
"Hai apa kabar Ara!" sapa Baron yang kemudian memposisikan kursi rodanya tepat di samping Darjo.
"Baik kak, ayah kak Langit harus cepat di obati!" balas Ara.
"Iya, ayo kita angkat tubuh ayah sekarang juga!" seru Langit.
"Ok!" balas Baron.
"Ara tolong kamu pegangin kursi rodanya!" seru Langit pada Ara.
"Oh, siap kak!" balas Ara yang kemudian memegangin kursi roda tersebut, sementara Langit dan Baron mengangkat Darjo ke atas kursi roda itu.
"Hati-hati Baron!" seru Langit yang memberi peringatan.
"Iya, satu-dua-tiga!" balas seru Baron yang kemudian memberi aba-aba untuk memindahkan Darjo dari tempat duduk di Gazebo ke kursi roda.
Dengan susah payah,pada akhirnya berhasil juga memindahkan Darjo dan saat ini berada di atas kursi roda.
"Kak Langit dan kak Baron, saya mau ke dapur dulu ya!" seru Ara yang berpamitan untuk membuat ramuan.
"Iya Ara!" jawab Langit dan Baron yang bersamaan
Kemudian Ara melangkahkan kakinya mendahului Langit dan Baron yang mendorong Darjo menuju ke dalam rumah.
Tak berapa lama Ara sudah sampai di ruma dan bergegas melangkahkan kakinya masuk ke dapur dan segera membuat ramuan dengan dibantu oleh seorang pelayan keluarga Misnah.
Ara dengan serius membuat ramuan itu, dan beberapa menit kemudian ramuan itu telah selesai dia buat.
"Akhirnya selesai juga ramuanku ini!" gumam Ara.
"Nona, cepata anda bawa ramuannya pada tuan Darjo, biar semua ini saya yang bereskan.'' ucap pelayan itu.
"Oh, baiklah. Ma'af jika aku menambah kerjaan pada kmu!" ucap Ara yang tak enak hati.
"Oh, tidak apa-apa. Ini adalah kewajiban saya nona." ucap pelayan itu.
"Baiklah Ara mau antar ramuan ini dulu ya!" seru Ara seraya membawa secangkir ramuan diatas nampan.
__ADS_1
"Iya nona Ara.'' jawab si pelayan itu.
Kemudian Ara melangkahkan kaki menuju ke kamar dimana Darjo sudah dibaringkan oleh Langit dan juga Baron di dalam kamar yang sudah dipersiapkan oleh Bu Misnah.
"Kak Langit, coba kak Langit minuman ramuan ini perlahan-lahan!" seru Ara saat menghampiri Langit yang berada di samping Darjo.
"Baiklah!" ucap Langit seraya menerima ramuan dari Ara, dan kemudian menyuapkannya pada ayahnya perlahan-lahan.
"Bisakah kalian ceritakan ada apa dengan kak Darjo?" tanya Bu Misnah yang penasaran.
"Iya, luka paman Darjo sepertinya sangat parah!" seru Baron yang ikut memperhatikan kondisi dari Darjo.
"Ayah pergi ke hutan larangan, dan seperti biasanya dia mencari ular-ular di hutan larangan untuk di jualnya." cerita Langit yang telah menyuapi ayahnya beberapa suap ramuan dari Ara.
"Hutan yang banyak hewan liar dan juga silumannya! kenapa tidak kamu cegah ayah kamu nak Langit?" tanya Bu Misnah yang penasaran.
"Seandainya Langit tahu kepergian ayah ke hutan larangan bi? waktu itu kan Langit sering bersama Baron." jelas Langit yang menyelesaikan suapan ramuan dari Ara.
"Sudah sebaiknya kita biarkan ayah kak Langit istirahat terlebih dulu. Dan tentunya kita juga istirahat juga, untuk memulihkan tenaga kita yang terpakai dari pagi hingga malam ini.'' ucap Ara yang memang melihat wajah keletihan di wajah kekasihnya.
"Oiya, Ara kamu bisa tidur di kamar biasanya. Dan Langit, kamu mau tidur disini apa di ruang tamu?" tanya Bu Misnah sebelum dirinya meninggalkan kamar dimana Darjo terbaring di atas tempat tidur.
"Iya Bu, saya tetap disini saja. Menemani ayah, nanti kalau ayah sadar kan bisa tahu secara langsung bi." jelas Langit.
"Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa panggil bibi di kamar bibi ya!" seru Bi Misnah.
''Iya bi." balas Langit dengan mengulas senyumnya.
"Jangan lupakan aku juga bro!" seru Baron seraya menepuk pundak Langit beberapa kali.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1