Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

"Iya, asalkan kamu bahagia putraku. Ayah akan merestui apa yang kamu inginkan." ucap Darjo seraya membalas pelukan putranya.


Tak berapa lama Bu Misnah dan juga Baron datang menghampiri mereka.


"Oh, ternyata kak Darjo sudah siuman. Bagaimana keadaan kamu Kak Darjo?" tanya Bu misnah yang sudah berada di antara mereka.


"Aku sudah lebih baik, bagaimana dengan keadaan kamu Ranti?" tanya Darjo yang memanggil Bu Misnah dengan nama kecil Bu Misnah.


"Seperti kak Darjo lihat, aku juga baik-baik saja!" ucap Bu Misnah atau Ranti dengan mengulas senyumnya.


"Hm.. hm... apakah akan ada cinta lama bersemi kembali ya kira-kira?" goda Baron yang membuat Ranti tersipu malu.


"Eh, ngomong-ngomong nama bibi Misnah Ranti ya?" tanya Langit yang penasaran.


"Iya, itu nama bibi sebelum bibi menikah dengan ayahnya Baron." jawab Ranti yang mengulas senyumnya.


"Ranti, sebuah nama yang bagus lho Bu!" ucap Ara yang mengulas senyumnya.


"Terima kasih nak Ara." ucap Ranti yang juga mengulas senyumnya.


Ara menganggukan kepalanya dan tetap mengulas senyum pada Ranti.


"Ranti, aku tak menyangka kalau anakku Langit mencintai seorang gadis. Dan sudah berkeinginan untuk berumah tangga, karena itulah bagaimana jika kita menikahkan Langit dengan Ara?" usul Darjo seraya menatap ke arah Ranti.


"Aku setuju, bagaimana dengan kalian?" tanya Ranti seraya menatap ke arah Langit dan juga Ara.


"Kami sih setuju saja bi, karena itulah kami berusaha meminta ijin pada orang tua kami masing-masing." jelas Langit.


"Bu Ranti, berhubung ibunda Ara tak memberi restu, bagaimana jika Bu Ranti menjadi wali Ara saat kami menikah nanti?" tanya Ara yang penuh harap dan memeluk Ranti.


"Tentu saja aku bersedia nak Ara, kamu kan putri ibu juga." ucap Ranti yang kemudian menghampiri Ara dan mengusap dengan lembut kepala Ara.

__ADS_1


"Baiklah, Minggu depan kita adakan pesta pernikahan untuk Langit dan juga Ara." ucap Darjo yang menatap saya persatu orang-orang yang ada dihadapannya.


"Hm, semakin cepat semakin baik. Aku setuju!" seru Baron dengan semangat.


"Iya, aku juga setuju! Acara pernikahan akan diadakan disini." Boleh kan kak Darjo!" pinta Ranti.


"Tentu saja boleh, dan aku minta pada Langit dan Ara jika sudah menikah nanti, tolong sempatkan beberapa hari untuk menginap di rumahku!" pinta Darjo yang mengulas senyumnya.


"Tentu saja yah! kalau ayah merasakan kesepian, Ayah dan Bibi Ranti kan bisa segera menikah.He....he....!" ucap Langit seraya mengulas senyum.


" Eh, menikah? kami berdua menikah?" tanya Ranti yang sangat terkejut dan dia pun melihat ke arah Darjo dan demikian juga dengan Ranti.


Ada perasaan yang lama tersimpan dan kini muncul kembali.


"Setelah sekian lama saya tak merasakan hal seperti ini. Semoga saja pasangan kita damai di alam sana." ucap Darjo yang mengingat istrinya yang telah tiada.


"Sebetulnya bagaimana sih ibunya Langi meninggal dunia?" tanya Ara yang penasaran.


"Apakah Idak sempat dibawa ke rumah sakit?" tanya Ranti yang ikut menyimak.


"Kamu tahu sendiri kalau dulu rumah sakit baru ada di kota besar, kota kecil seperti ini mana mungkin ada." jawab Darjo.


"Saya merasa si ular kobra itu juga tidak bersalah, karena ekornya terinjak siapa pun pasti akan bereaksi sampai membalas siapa yang menyakiti dirinya. Bukan kah para manusia juga demikian?" jelas sekaligus tanya Ara seraya menatap Darjo, Langit, Baron dan Ranti satu persatu.


"Apa kang kamu jelaskan memang benar, seharusnya kita yang jangan mengganggu maupun memburu binatang secara besar-besaran. Karena itu akan mengganggu ekosistem alam semesta. Sebagai contohnya makanan dari ulat adalah tikus, katak dan binatang lainnya. Jika kita terus-terusan memburu ular, maka yang ada hama tikus akan meraja-lela. Dan hal itu akan mempengaruhi tanaman para petani." ucap panjang lebar Langit, membuat yang lainnya menganggukkan kepalanya.


"Kami juga menghentikan pekerjaan memburu ular sejak kematian suamiku, karena Ara memberitahukan pada kami kalau akibat dari Baron yang lumpuh kemarin juga karena ulah Baron yang membakar sarang para ular. Belum lagi karena suami aku yang juga suka memburu ular-ular dan memperjual belikannya. Jadi berarti kalau kita tak mendahului kejahatan, maka mereka juga tak akan menjahati kita." ucap Ranti yang memberitahukan pendapatnya.


"Nah, benar begitu. Selama manusia tak berulah lebih dulu, para ular tak akan mengganggu manusia." ucap Ara.


"Ok, kita ganti topik pembicaraan saja. Mulai dari sekarang kita persiapkan untuk pernikahan Langit dan juga Ara." ucap Ranti dan semuanya setuju.

__ADS_1


Mereka kemudian mengganti topik pembicaraan mereka dengan persiapan acara pernikahan Langit dan juga Ara.


Mulai dari fitting baju pengantin, tamu undangan hingga konsumsi mereka bahas sekalian.


"Baiklah berhubung saya sudah pulih, saya mau pulang dan persiapkan semuanya." ucap Darjo yang kemudian berusaha bangkit dari duduk bersandarnya.


"Kalau begitu saya juga mohon pamit bi Ranti, Baron dan juga Ara. Saya selain mengantar ayah pulang, juga akan membantu ayah untuk mempersiapkan semuanya." ucap Langit yang menatap satu persatu orang yang ada dihadapannya itu.


"Baiklah, saya antar sampai rumah. Kalian kan tak bawa kendaraan bukan?" tanya Baron sembari mengulas senyumnya.


"Iya, kami memang tak membawa kendaraan. Sepeda motorku tertinggal di rumah warga." ucap Langit yang mengingat tentang sepeda motornya yang dia titipkan di rumah warga pada saat akan masuk ke hutan larangan.


"Kak Langit, Ara antar sampai depan rumah ya. Ma'af karena tak bisa mengantar sampai rumah. Ara harus bantu Bu Ranti untuk mempersiapkan pernikahan kita." ucap Ara seraya melangkahkan kaki bersama Langit, Baron dan juga Darjo.


"Iya, tidak apa-apa sayang." ucap Langit seraya merangkul bahu Ara dan mereka berjalan sampai di luar rumah keluarga Misnah.


Setelah saling berpamitan, Baron menuju dimana mobil mereka terparkir. Setelah masuk dan menyalakan mobilnya, Baron dengan mobil mewahnya menghampiri Ara, Langit dan Darjo, juga Baron.


Mobil itu berhenti tepat didepan mereka bertiga, kemudian Langit dan juga Baron masuk ke dalam mobil dan Ara melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan mereka.


Langit membalas lambaian tangan Ara, dan mobil itu melaju perlahan-lahan meninggalkan Ara dan juga rumah kediaman Misnah itu. Mereka menuju ke rumah Darjo yang jaraknya tak seberapa jauh dari rumah Keluarga Misnah.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2