Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Merawat Mertua


__ADS_3

Saat ini Ara sudah dalam kondisi teramat sangat sedihnya, dan berkali-kali dia menciumi wajah tampan suaminya yang telah tiada itu.


Duka yang amat dalam menyelimuti hati dan perasaan Ara, dia terus mendekap jasad suaminya dan menumpahkan air matanya.


Dari kejadian itu, ternyata ada salah seorang pembantu yang biasa mengurus segala kebutuhan penghuni rumah itu diam-diam menelepon Ranti dan juga Baron.


Beberapa menit kemudian Ranti yang ditemani oleh Baron, bergegas melajukan kendaraannya menuju ke rumah Darjo.


Dan tak berapa lama, mereka telah sampai di halaman rumah Darjo.


Saat ini si tuan rumah Darjo yang terluka parah itu, terbaring lemas di atas tempat tidurnya.


Sementara itu di ruang tamu, jasad Langit yang sudah dibersihkan dan siap untuk dimakamkan.


"Ara...Ara! apakah ya g terjadi, dan apakah kamu tak apa-apa?" tanya Ranti dengan langkah cepatnya menghampiri.


"Eh, ibu! Ara tidak tahu kenapa ada kejadian ini." ucap Ara yang kemudian menceritakan semua kejadian dimana awal mulanya Darjo yang menyerang dia dan tiba-tiba Langit muncul dan menjadikan dirinya tameng, untuk melindunginya dari serangan ayahnya Darjo.


"Kamu yang sabar ya Ara, semoga ada hikmah dibalik apa yang menimpamu ini semua." ucap bijaksana Ranti.


"Iya Bu." balas Ara sembari mengusap air mata yang menetes dipipinya.


"Sebaiknya mulai kita makamkan jasad Langit secara layak!" seru Baron.


"Benar, ayo lebih cepat lebih baik. Karena mau sekarang apa nanti yang menguburkan, toh Langit sudah tak bisa kembali lagi." ucap Ranti.


"Iya,ibu Ranti benar. Dan saya harus menata hidup saya kembali." ucap Ara yang sudah berkurang kesedihannya.


Kemudian mereka melakukan ritual pemakaman untuk suami Ara yang baru saja, belum ada seminggu mereka menikah


Secara pemakaman dihadiri oleh selain dari kerabat juga para pekerja yang baik masih bekerja maupun keluar dari pekerjaan mereka. Tak ketinggalan tetangga dan. juga teman-teman Langit.


Malam harinya setelah rangkaian acara pemakaman di gelar, Ranti, Baron dan juga Ara berkumpul di ruang tamu.


"Nak Ara, kalau ibu boleh usul sebaiknya nak Ara kembali ke hutan Larangan. Nak Ara masih punya ibu, tak baik jika marahan lama-lama. Apalagi dengan ibu. ibumu-lah yang melahirkan kamu ke dunia ini. Kalau kamu ada masalah, kan bisa dibicarakan baik-baik dengan ibu kamu. Kamu mengerti kan maksud ibu?" tanya Ranti yang posisinya saat ini duduk di samping Ara.

__ADS_1


Ranti mengusap kepala Ara dengan kasih sayang yang dia tumpahkan pada anak angkatnya itu.


"I..iya Bu. Ara akan kembali menemui ibu Ara. Dan akan mengabarkan kabar Ara saat ini, dan apa yang Ara dengarkan dari kak Langit sebelum kak Langit meninggal." ucap Ara pelan namun bisa didengar bu Ranti dan juga Baron.


"Kalau ibu boleh tahu, Langit berpesan apa dengan kamu?" tanya Ranti yang penasaran.


"Kata kak Langit, Ara sedang hamil, mengandung anak kami." jawab Ara sembari mengusap perutnya.


"Apa benar begitu?" tanya Ranti yang bersemangat saat mendengarkan kabar itu. Dan dia segera memegang tangan Ara dan memeriksa keadaan Ara saat ini, mencari pembenaran yang dikatakan Ara.


Ara mengangguk pelan dan melihat dengan penasaran apa yang dilakukan Ranti padanya.


"Ah, benar! aku akan punya cucu!" seru Ranti yang mengulas senyumnya dan kemudian memeluk Ara dengan kasih sayang yang dia tumpahkan.


"Aku akan jadi paman donk!" seru Baron yang bersemangat.


"Iya, nanti akan ada tangisan bayi dan celotehnya. Ah, ibu tak sabar mendengarkannya!" seru Ranti yang sedang bayangkan kehadiran anak kecil di kehidupannya.


Malam semakin larut dan semua yang ada di rumah Darjo, mulai beranjak ke peraduan. Setelah seharian mengurus tamu-tamu yang berbelasungkawa dan juga pemakaman Langit.


"Aku terjebak disini, dimana harus merawat laki-laki yang telah menghancurkan kaumku dan membunuh ayahandaku dan kemarin membunuh suamiku yang juga merupakan putranya sendiri." gumam dalam hati Ara seraya membuat bubur untuk sarapan mertuanya.


"Kalau saja dia bukan kakek dari anakku ini, mungkin akan beda lagi!" masih gumam dalam hati Ara yang sudah menyiapkan bubur untuk sarapan Darjo diatas nampan yang ada dihadapannya.


Setelah itu Ara membawa bubur itu ke kamar Darjo, dimana Darjo sudah bangun dan sedang bersandar di dinding samping tempat tidurnya.


"Sarapan sudah siap!" seru Ara pada saat sudah masuk ke dalam kamar dan menghampiri Darjo.


Pandangan mata Darjo yang semula kosong menerawang entah kemana, tiba-tiba dia menoleh pada saat mendengarkan suara Ara.


"Ka...kamu!" ucap Darjo yang nampak gugup dan ada rasa takut pada sosok putri siluman ular itu.


"Ayah, sebaiknya ayah makan. Biar badan ayah kembali bugar dan sehat kembali. Oiya, Ara minta ma'af jika Ara sengaja menghilangkan kesaktian ayah. Ayah tidak marah kan?" ucap Ara dengan ramah, yang jelas membuat Darjo tak enak hati.


"Ja...jadi kemampuanku sudah hilang?" tanya Darjo yang meyakinkan dirinya.

__ADS_1


"Iya, dan Ara minta ma'af jika ayah tak berkenan!" seru Ara dengan wajah tak enak hati.


"Ah, tidak apa-apa. Terima kasih dengan begini saya akan mulai dengan hidup yang baru. Saya akan menjadi manusia biasa lagi, dimana nanti saya akan kembali bercocok tanam." ucap Darjo dengan suara lirih tapi masih bisa didengarkan oleh Ara.


"Baguslah kalau begitu, dan Ara mau menyampaikan sesuatu pada ayah!" ucap Ara dengan hati-hati.


"Apa, katakanlah!" seru Darjo yang penasaran.


"Sebelum meninggal, kak Langit berencana menjodohkan ayah dengan Bu Ranti. Karena kata kak Langit Ayah masih mencintai Bu Ranti dan demikian pula dengan Bu Ranti yang masih ada rasa dengan ayah." jelas Ara yang hendak menyuapi Mertuanya.


"Apakah benar demikian? Ranti masih ada rasa denganku?" tanya Darjo yang penasaran.


"Iya, apakah sebaiknya ayah cepat melamar Bu Ranti dan menikah dengan ibu angkat Ara!" jawab dan saran Ara.


"Hm, iya sebelum ada yang mendahului." gumam Darjo yang kemudian mengambil mangkok yang berisi bubur dari tangan Ara.


"Lho ayah!biar Ara suapin!" seru Ara yang terkejut dengan sikap Darjo yang mendadak itu.


"Aku sudah bisa mengambil makanan sendiri. Jadi biar ayah makan sendiri'' ucap Darjo sembari mengulas senyumnya.


"Baiklah, kalau begitu Ara buka gordennya ya yah!" seru Ara yang meminta ijin.


"Iya, silahkan Ara!" jawab Darjo yang memperbolehkannya dan kini dia melahap bubur buatan Ara dengan lahapnya.


Darjo bertekad untuk sembuh dan segera melamar Ranti, kemudian memperistri ibu kandung Baron itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2