
Mulai dari mengeluarkan barang-barang hingga mengecat gudang tersebut sesuai ciri khas bengkel. Dan setelah itu mengatur ulang letak-letak benda-benda di gudang tersebut sesuai untuk keperluan bengkel.
Pekerjaan yang mereka lakukan, hingga sore hari itu belum juga selesai.
"Nampaknya kita harus lembur! he...he...!" seru Langit di sela-sela istirahat mereka sambil tertawa.
"Apa memang harus di lembur?'" tanya Baron seraya menebarkan pandangannya ke gudang tmyang telah dia sulap menjadi bengkel, danpintu tetap menghadap ke jalan.
"Sudah, jangan khawatir. Tidak usah lembur, sebagian kita selesaikan sambil usaha bengkelnya berjalan." jawab Langit seraya duduk di kursi yang sudah disediakan.
Begitu pula dengan Baron, mereka istirahat sembari mengamati apa yang telah mereka kerjakan sebelumnya.
"Katanya kamu mau ke kota, kuliah kamu kan sudah berjalan lagi?" tanya Baron yang penasaran.
"Iya memang setelah liburan ini aku mau balik lagi ke kita. Tapi purnama nanti aku balik kemari!" jelas Langit seraya menyelesaikan pekerjaannya.
"Bulan purnama kembali kemari, memangnya kamu ada acara apa?" tanya Baron yang penasaran.
"Hanya menemui pujaan hatilah!" seru Langit seraya mengulas senyumnya.
"Widih..! sudah punya gebetan rupanya!" seru Baron setengah menggoda sahabatnya itu.
"Iya, nanti suatu saat akan aku kenalkan kamu sama bidadari hatiku itu. He...he...!" ucap Langit sambil mengulas senyumnya.
"Hm, apakah kekasih kamu itu secantik dengan adik angkatku?" gumam Baron yang mencoba membandingkan kekasih Langit dengan adik angkatnya.
"Hei, sejak kapan kamu punya adik angkat?" tanya Langit yang penasaran.
"Sejak aku bisa berdiri dan berjalan seperti ini! Sebelumnya kedua orang tuaku menemukannya di tepi hutan larangan, karena kedua orang tuaku memintakan jodoh buat aku lewat penghuni pohon besar di tepi hutan Larangan. Dan tiba-tiba ada dia di dekat pohon itu, jadi bapak dan ibuku membawanya ke rumah lalu menjodohkannya dengan aku." cerita Baron dengan semangat.
"Gadis di tepi hutan larangan?" tanya Langit yang penasaran.
"Iya, dia ditemukan di tepi hutan larangan. Setelah beberapa hari, sebelum pertunangan kami tepatnya sebelum bulan purnama di gelar bapak meninggal secara tragis dan Anin nama gadis itu menghilang secara tiba-tiba." jelas Baron dengan serius.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan ada kaitannya dengan kematian bapak kamu?" ucap Langit yang mencoba menebak.
"Ah, tidak mungkin! dia gadis cantik dan lugu. Dia bilang kalau dia sedang tersesat saat jalan-jalan, dan tak tahu jalan pulang ke rumah!" jawab Baron yang membela adik angkatnya.
"Hm, jangan-jangan kamu menaruh hati ya sama adik angkatmu itu?" ucap Langit yang mencoba menebak lagi.
"He...he...! tahu saja, aku memang menyukainya sejak pertama melihat Anin. Gadis cantik dan matanya itu yang tak bisa dilupakan!" jawab Baron yang sedikit tersipu malu.
"Kenapa ciri-cirinya sama dengan Ara ya? hm, jadi penasaran." gumam dalam hati Langit yang menerka-nerka.
"Bolehkan kapan-kapan dikenalin adik angkat kamu itu sama aku, siapa tahu aku pernah melihat dia?" tanya Langit dengan hati-hati dan sembari mengulas senyumnya.
"Enak saja! kamu nanti tertarik sama dia, lalu kekasih kamu mau kamu kemanakan?" celetuk Baron sembari membalas senyum Langit.
"Ya, kan siapa tahu aku pernah ketemu atau mengenal dia. Lagi pula kalau ketemu di jalan dan dia tersesat lagi, aku kan bisa menolongnya!" seru Langit yang membela diri.
"Hm...! benar juga, kapan-kapan saja aku kenalkan kamu sama dia! Lagi pula kamu juga mau balik ke kota kan? Mengurus kuliah dan pekerjaan kamu disana!" seru Baron yang mengingatkan apa yang harus dilakukan oleh Langit.
"Oiya, aku penasaran. Kamu tadi bilang kalau gadis itu jadi adik angkat kamu sejak kamu bisa berdiri dan berjalan. Coba terangkan lah maksudnya apa?" tanya Langit yang penasaran.
"Oh, jadi seperti itu ya! Jadi penasaran dengan adik angkat kamu, Baron!" seru Langit yang juga mengambil minumannya dan kemudian meminumnya.
Kedua laki-laki itu masih asyik dengan perbincangan mereka, tanpa menyadari ada sebuah mobil yang memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan teras rumah besar itu.
Kemudian keluarlah dua orang perempuan beda usia dari dalam mobil tersebut. Mereka tak lain adalah Ara dan Bu Misnah.
Kedua perempuan itu baru saja pulang dari menjaga kios pakaian Bu Misnah. Mereka kemudian melangkahkan kakinya menuju ke teras dan lanjut masuk ke rumah.
Ara dan Bu Misnah menuju ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri mereka serta mengganti pakaian.
Sementara itu Langit berpamitan pada Baron untuk pulang.
"Baron, berhubung sudah sore aku pamit pulang. Dan besok aku datang ke sini lagi dan kita sama-sama cari peralatan dan perlengkapan bengkel. Agar kamu cepat menjalankan pekerjaan kamu dan aku cepat ke kota untuk menyelesaikan kuliah aku!" seru Langit yang bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Kemudian Baron pun mengikutinya dan keduanya saling bersalaman dan berpelukan.
"Iya sahabatku, kita jumpa lagi besok pagi. Dan terima kasih kamu sudah banyak membantuku!" ucap Baron saat melepas pelukannya dan keduanya menepuk lengan masing-masing.
Kemudian Langit melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar gudang yang menjadi bengkel itu.
Baron pun melangkahkan kakinya mengiringi Langit sampai di depan bengkel. Dan Langit dengan mengendarai kendaraannya putar Bali dan melaju menyusuri jalanan menuju ke rumahnya.
Sementara itu Baron dan dua pekerjanya menutup pintu bengkel yang belum berisikan peralatan dan perlengkapannya itu.
Setelah menutup semua pintu, mereka dua pekerja itu berpamitan untuk pulang, dan setelah itu Baron melangkahkan kakinya menuju ke teras rumah dan kemudian masuk ke rumahnya.
Baron melangkahkan kaki menuju ke kamarnya dan dia membersihkan diri, kemudian mengganti pakaiannya.
Setelah itu semuanya keluar dari kamar masing-massing dan melangkahkan kaki menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama.
"Ibu, eh adikku tercinta! bagaimana kabar kalian seharian ini?" tanya Baron yang penasaran.
"Kami baik-baik saja seperti yang kamu lihat." jawab Ibu Misnah seraya mengambil makanannya.
"Anin, apa kamu bisa berjualan di kios?" tanya Baron yang bergantian dengan ibunya mengambil makanannya.
"Anin baru mengikuti apa yang dikatakan ibu kak! ya sementara ini Anin sibuk menghafalkan model pakaian sampai gharga jual pakaian tersebut." jelas Ara yang kini gilirannya mengambil makanan dan diletakkan di atas piringnya.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...