Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Menuju Bulan Purnama


__ADS_3

"Iya, tapi Anin akan bantu bukakan pintu kamar ibu dulu kak!" balas Ara yang bangkit dari duduknya.


Sementara itu Baron mengangkat dan membopong tubuh ibunya, dan kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar Bu Misnah yang terletak diatas dan disamping kamar Ara.


Dengan perlahan-lahan Baron menaiki tangga dan Ara berjalan pelan-pelan di belakang Baron.


Setelah sampai diatas, Ara dengan mempercepat langkahnya mendahului Baron yang membopong ibunya. Ara yang sudah berada di depan pintu kamar Bu Misnah segera membukakan pintu kamar tersebut.


Baron segera masuk, dan Ara melangkahkan kaki kembali menuruni tangga dan menuju ke dapur untuk menemui para pelayan rumah keluarga Misnah itu.


"Bi...bibi! tolong buatkan teh hangat buat ibu. Ibu baru saja pingsan!" pinta Ara saat sudah sampai di dapur dan melihat kedua pelayan sedang menyiapkan makan malam untuk semua orang yang berada di rumah kediaman Misnah itu.


"Nyonya pingsan?" tanya salah satu pelayan.


"Iya, dan sekarang ini sudah berada di kamarnya. Tadi kak Baron membopong ibu sampai ke kamarnya." jawab Ara yang apa adanya.


"Oh, baik akan saya buatkan." ucap salah satu pelayan yang kemudian meninggalkan pekerjaannya dan membuatkan minuman teh seperti yang di pesan Ara.


"Saya akan ke kamar ibu lebih dulu ya!" seru Ara yang berpamitan.


"Iya nona!" jawab kedua pelayan itu yang kemudian melakukan pekerjaan masing-masing.


Sementara Ara melangkahkan kakinya kembali menuju ke kamar Bu Misnah.


Sesampainya di depan kamar Bu Misnah, Ara membuka pintu dan melihat Baron mengusapi ibunya dengan minyak kayu putih.


Ara melangkahkan kakinya menghampiri mereka, dan melihat apa yang dilakukan Baron untuk membuat ibunya tersadar kembali.


"Ibu tidak apa-apa kan kak?" tanya Ara yang sedikit khawatir dan juga penasaran.


"Tidak apa-apa,ibu hanya shock mendengar Supermarket yang terbakar yang itu berarti kios toko pakaiannya juga kena imbasnya,


"Syukurlah kalau begitu." ucap Ara yang menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.


Tak berapa lama ada yang mengetuk pintu kamar Bu Misnah.


"Tok... tokk... tokk...!"

__ADS_1


"Siapa?" tanya Baron seraya menoleh ke arah Ara dengan maksud menyuruh Ara untuk membukakan pintu kamar tersebut.


"Saya tuan muda, bibi pelayan!" jawab seseorang dengan suara wanita yang tak lain adalah pelayan rumah tersebut,


"Oh, masuk saja!" seru Baron. Dan kemudian pelayan itu membuka pintu dan kemudian masuk dengan membawa nampan kecil yang diatasnya ada secangkir teh hangat.


"Ini teh hangatnya tuan dan nona.'' ucap pelayan itu sembari meletakkan teh hangatnya ke atas meja di dekat tempat tidur Bu Misnah.


"Semoga nyonya segera sadar dan segera pulih kembali." ucap pelayan sembari menatap wajah majikannya.


"Iya." ucap Ara dan Baron bersamaan. Dan tak berapa lama Bu Misnah sudah membuka kedua matanya dan terlihat dia sedang mengumpulkan nyawanya dan berusaha mengingat sesuatu.


"Aku ada dimana?" tanya Bu Misnah secara lirih.


"Ibu ada di kamar ibu, ibu sebaiknya minum dulu ya!" jawab Ara sembari mengambil teh yang tadi diletakkan oleh pelayan di atas meja.


Sementara itu Baron membantu ibunya untuk duduk bersandar, dan tetap diatas tempat tidurnya.


"Aku ingat, toko kita kebakaran ya?" tanya Bu Misnah lirih tapi bisa di dengarkan oleh Ara dan juga Baron.


"Ibu jangan khawatirkan tentang toko, lagi pula aset ibu kan sudah ibu asurasikan. Dan ibu jangan khawatir masalah jualan, ibu kan masih ada kios di pasar tradisional!" jawab Baron untuk menenangkan hati ibunya.


Ibu Misnah meminum teh tersebut beberapa sruputan saja, dan kemudian mereka bicara kembali ke topik masalah.


"Ibu hanya kaget saja, yang terpenting Anin tidak apa-apa. Karena toko kan ada asuransinya, sedangkan Anin kan tak ada gantinya! he...he..!" ucap Bu Misnah dengan candaannya.


"Ah, ibu bisa saja! he ..he...!" seru Ara yang kemudian mengulas senyumnya.


"Ibu benar, yang penting kita semuanya sekarang ini dalam keadaan baik-baik saja. Nah sekarang ibu istirahat dulu, Baron mau membersihkan badan dan setelah itu makan. Lapar nih Bu, tadi baron dorong sepeda motor lumayan jauh dan belum sempat makan." ucap Baron sembari memegang perutnya.


"Anin juga Bu, Anin juga mau membersihkan badan. Gerah dan bau asam! he...he...!" timpal Ara dengan mengulas senyumnya.


"Ya sudah, lekas mandi sana! yang bersih dan wangi ya!" kelakar Bu Misnah sembari tersenyum.


"Eh, iya-iya Bu! daaa ibu!" seru Ara seraya melambaikan tangannya dan melangkahkan kakinya menuju ke pintu untuk keluar dari kamar tersebut.


Demikian Baron dengan mengulas senyumya, dia melangkahkan kaki mengikuti Ara. Keduanya berpisah di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Daaa kak Baron!" seru Ara seraya melambaikan tangannya ke arah Baron dan demikian pula Baron yang juga melambaikan tangannya ke arah Ara.


"Sampai ketemu di meja makan ya adikku sayang!" balas Baron sambil mengulas senyumnya,


Ara melangkahkan kaki menuju ke kamarnya, demikian pula dengan Baron yang melangkahkan kaki menuruni tangga dan menuju ke kamarnya.


Keduanya segera mandi dan mengganti pakaian mereka di kamar masing-masing. Setelah itu keduanya makan bersama, dan ibu Misnah yang sudah mendingan pun ikut makan bersama di meja yang terletak di ruang makan.


Hari-hari mereka lalui seperti biasanya, Baron yang sibuk dengan bengkel dan cuci motor dan mobilnya. Sementara Ara dan ibu misnah yang saat ini berjualan di kios pakaian Bu misnah yang berada di pasar tradisional, letaknya tak jauh dari kediaman mereka.


Tak terasa hari sudah mendekati bulan purnama, dan langit sudah pulang dari kuliahnya di luar kota.


Langit sering datang ke bengkel, dan Ara sempat melihatnya.


"Itu kak Langit, kak langit pulang dari kota! Berarti hari ini sudah mendekati bulan purnama." gumam dalam hati Ara selama dalam perjalanannya bersama Bu Misnah menuju ke kios pakaian di pasar tradisional, yang lokasinya dekat dengan rumah mereka.


"Apa ya alasan aku untuk pergi dari rumah, agar bisa menemui kak langit di hutan larangan?" ucap Ara dalam hati yang sambil berpikir untuk ke depannya.


"Anin...! Anin....!" panggil Bu Misnah yang masih mengemudikan mobilnya seraya menatap Ara.


"Eh, iya ada apa Bu?" tanya Ara yang mulai tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa?" tanya Bu Misnah yang penasaran.


"Ah, tidak apa-apa kok Bu!" ucap Ara yang berusaha untuk tersenyum.


"Benar tidak apa-apa?" tanya Bu Misnah yang melirik ke arah Ara.


"Benar Bu. Ibu jangan khawatir!" jawab Ara yang menoleh ke arah Bu Misnah.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2