
"Ayahanda!" panggil Ara dan ratu siluman ular itu dengan nada lirih, namun bisa didengarkan oleh para siluman lainnya dan juga Langit.
Setelah situasi dan suasana tenang kembali, Ratu siluman ular menyadari keberadaan Langit.
"Manusia! mau apa kau!" seru Ratu siluman ular itu yang menatap ke arah Langit dan keempat sahabat Ara pun menyadari juga kehadiran Langit, dan mereka mengepung Langit.
"Hah, aku....!" jawab Langit yang terkejut,
Ara menyeka air matanya dan melihat kekasihnya yang sedang dikepung oleh para sahabat dan juga ibundanya.
"Hentikan, kalian mau apa dengan kak Langit?" tanya Ara yang penasaran, kemudian dia bangkit dari duduk bersimpuhnya dan segera masuk ke dalam lingkaran yang dibuat oleh para sahabatnya itu dan menghampiri Langit.
"Ada apa dengan kamu? Dia manusia, dia bisa mencelakai yang lainnya!" seru Weling dengan lantang. Terbesit sinar mata cemburu di kedua mata Weling.
"Dia kekasihku, Ara dan Kak Langit datang kemari ini karena untuk meminta restu pada Ayahanda dan juga ibunda untuk hubungan kami." jelas Ara dengan menatap ibundanya dengan para sahabatnya satu persatu.
Hal itu membuat Ratu siluman ular dan juga para sahabat Ara, saling bertatap mata dan dengan pikiran masing-masing.
"Apa! kamu tahu kita ini siapa Ara dan dia siapa? mana mungkin siluman dan manusia bisa bersatu!' seru Ratu siluman ular dengan sedikit geram.
"Iya, kami tahu ibunda dan kami tetap ingin ibunda merestui kami." ucap Ara yang kemudian menghampiri ibundanya dan berusaha memegang tangan ibundanya.
Namun berkali-kali ratu siluman ular itu menghempaskan tangan putrinya.
"Ibu tak akan merestui kalian!" seru Ratu siluman ular itu dengan nada geramnya.
"Ibunda, hamba mohon ibunda!" racau Ara seraya duduk berlutut dihadapan ibundanya.
"Ibu Ratu, saya janji akan menjaga dan tetap setia dengan Ara. Kami berjanji sehidup semati berdua." ucap Langit yang ikut berlutut menghadap ke arah Ratu siluman ular.
"Sekeras apa pun usaha kalian, ibu tak akan merestui kalian!" seru ratu siluman ular itu yang kemudian memalingkan tubuhnya dan berlalu dari putrinya dan Langit yang masih saja berlutut.
"Tuan putri, sebaiknya anda pikirkan lagi. Ingatlah siapa yang telah membunuh yang mulia raja! dia juga manusia yang saat ini berada di ruang tahanan bawah tanah!" seru Weling yang menatap Langit dengan tajam.
Tiba-tiba datanglah empat prajurit yang di perintahkan oleh ratu siluman ular untuk menangkap Langit.
"Ma'af tuan putri, hamba diperintahkan oleh yang mulia Ratu untuk menangkap dan menahan manusia yang bersama tuan putri." ucap salah seorang prajurit yang bersama prajurit lainnya menarik lengan Langit dari sisi kanan dan kiri kekasih Ara itu.
__ADS_1
"Apa-apaan ini!" seru Langit yang sangat terkejut, karena dirinya saat ini diseret dua prajurit istana siluman ular itu.
"Lepaskan, lepaskan kak Langit!" seru Ara yang berusaha membebaskan kekasihnya dari dua prajurit yang menyeret Langit.
"Nona, lebih baik nona menurut dengan keputusan yang mulia Ratu. Kalau tidak nona tidak akan bertemu dengan pemuda itu selamanya!" seru salah satu dari dua prajurit yang menahan Ara.
"A...apa maksud kalian?" tanya Ara yang menatap kedua prajurit itu secara bergantian, dan kedua prajurit itu menunduk karena tak berani melihat tatapan kedua mata Ara.
"Ara, kamu adalah putri dari Yang mulia Ratu. Ratu diantara para siluman ular, tentunya kamu yang lebih paham dengan sifat dari ibunda ratu." bisik siluman ular putih yang menghampiri Ara.
"Sebaiknya tuan putri membersihkan badan, makan dan juga beristirahat untuk menenangkan diri dari semua permasalahan yang tuan putri alami saat ini." ucap siluman ular Hijau yang juga menghampiri Ara.
"Ta...tapi!" ucap Ara yang penuh kekhawatiran.
"Sudahlah tenangkan lah hati dan pikiran tuan putri, sebaiknya ikuti saran kami." ucap Siluman ular putih dengan lirih dan Ara pun mengangguk tanda menyetujuinya.
Kemudian Ara melangkahkan kakinya menuju ke istana kecil yang menjadi kamarnya.
Ara segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, dalam bayangan dipelupuk matanya ada laki-laki yang sangat dicintainya.
"Apakah yang terjadi dalam hidupku, baru saja saya kehilangan ayahanda dan saat ini kekasihku ada di tahanan bawah tanah. Seharusnya aku harus bagaimana?" gumam dalam hati Ara yang selalu membayangkan saat-saat kebersamaannya dengan Langit.
"Tokk... tokk....tokk...!"
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar putri siluman ular itu.
"Siapa?" tanya Ara yang kemudian bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju ke pintu kamarnya.
"Saya, putri tuan putri!" jawab seseorang dengan suara wanita, yang menyebut dirinya sebagai siluman ular putih.
"Putih?" gumam dalam hati Ara yang kemudian bergegas membuka pintu pada saat sudah berada di depan pintu.
Nampaklah sahabat yang selalu bersamanya yang memang benar siluman ular putih.
"Tuan putri, ayo ikut saya sebentar!" bisik Siluman ular putih di telinga Ara.
"Kemana?" tanya Ara yang juga berbisik dan menatap siluman ular putih itu dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Sudah ikut saja!" seru Siluman ular putih itu yang kemudian menarik tangan kanan Ara. Dan putri Suman ular itu menurut saja dengan ajakan sahabatnya itu.
Siluman ular putih dan siluman ular emas berjalan mengendap-endap di setiap langkah mereka menyusuri lorong-lorong istana.
Sementara itu Langit yang dibawa oleh dua prajurit istana siluman ular itu, berjalan menyusuri lorong dan menuju ke sebuah ruangan.
"Masuk! ayo cepat masuk!" seru salah satu prajurit itu seraya mendorong Langit untuk masuk ke sebuah ruangan.
"Bugh!"
Tubuh Langit tersungkur ke lantai kasar ruangan itu.
"Aghh....!"
Langit mengerang pada saat tubuhnya menghantam ke lantai, dan dia merasakan rasa sakit di dadanya.
"Hei, jangan pura-pura sakit! ayo bangun!" seru prajurit lainnya, yang kemudian prajurit itu menarik tubuh Langit dengan kasar.
Dengan terpaksa Langit berdiri dan mengikuti kemauan para prajurit itu.
"Aku terpaksa mengikuti kemauan mereka, aku merasa penasaran dengan siapa manusia yang membunuh ayahanda Ara." gumam dalam hati Langit seraya menahan rasa sakit dipergelangan tangannya yang dicengkeram oleh kedua prajurit itu.
Kemudian prajurit-prajurit itu membawa Langit menuruni sebuah tangga, dan ternyata tangga itu menuju ke ruang tahanan bawah tanah.
Setelah sampai di lantai ruang bawah tanah itu, Langit menebarkan pandangannya ke sekitarnya. Nampak beberapa sel yang dihuni macam-macam siluman dan juga manusia.
Langit sangat terkejut pada saat melihat beberapa manusia yang dikenalnya.
"Bukan kah itu pekerjanya Ayah?" tanya dalam hati Langit yang menatap sel tahanan, dimana ada beberapa orang yang dia kenal berada dalam sel tahanan itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...