
Saat ini hanya tertinggal ular emas yang berada di tengah-tengah perkampungan yang terbakar itu.
Kemudian ular emas itu merubah tubuhnya menjadi ukuran yang besar dan saat ini dia berkepala tujuh.
Semua orang yang melihatnya dibuat terkejut, dan ada dari mereka yang sangat ketakutan.
"Ular kepala tujuh!"
"Ular kepala tujuh!"
"Ular kepala tujuh!"
Teriakan orang-orang yang lari tunggang langgang menjauhi untuk menghindari ular berkepala tujuh itu.
"Dengarkan semuanya!" seru Ular Berkepala Tujuh itu dengan suara menggema.
Dan semua orang yang tadinya riuh dan kacau, saat ini diam dan memperhatikan walaupun dengan raut wajah ketakutan diantara mereka.
"Saya peringatkan pada kalian semua! Jika diantara kalian ada yang mengusik kehidupan ular di hutan larangan, maka kalian akan mendapatkan hukuman setimpal dariku!" seru ular berkepala tujuh itu dengan nada mengancam.
"Apa kamu tidak akan sudi menaatimu! kalau kami tak memburu ular, kami akan makan apa?" ucap salah satu penduduk yang ada dihadapan ular berkepala tujuh itu.
"Iya kami akan makan apa?" ucap yang lainnya.
"Itu urusan kalian, bukan urusan saya! terserah kalian mau bekerja sebagai apa, yang terpenting jangan kalian mengusik habitat para ular di hutan larangan!" seru ular berkepala tujuh itu dengan tatapan tajam.
"Seumpama kami tidak mau bagaimana?" tanya salah satu orang diantara para penduduk yang melingkari ular berkepala tujuh itu.
"Oh, kalian mau menentangku ya!Kalian akan rasakan akibatnya, akan aku hanguskan seluruh perkampungan disini!" seru ular berkepala tujuh itu yang kemudian menatap sebuah rumah yang belum terbakar habis, kemudian dia menyemprotkan api dari mulutnya ke arah rumah tersebut.
Dan akibatnya, seketika itu juga rumah tersebut langsung terbakar dan kobaran api ya semakin lama semakin membesar.
"Haaaahhh...!"
Seru para penduduk yang terkejut, dan seakan mereka bergidik dan mundur beberapa langkah untuk menghindari kobaran api yang meletup-letup itu.
"Ba...baik ular berkepala tujuh, kami janji tidak akan memburu ular lagi. Dan jangan ganggu kehidupan kami lagi!" seru salah satu penduduk yang mewakili sekian banyak penduduk yang berkumpul itu.
"Baguslah kalau kalian sudah mengerti apa maksud saya. Kenapa tidak sedari tadi, hah!" seru ular berkepala tujuh itu dengan menggertak.
"Ma...ma'afkan kami!" ucap beberapa orang yang berada dihadapan ular berkepala tujuh itu duduk bersimpuh, dengan rasa ketakutan.
__ADS_1
"Sekarang kalian bubar...bubarlah! perbaiki kampung kalian dan juga cara hidup kalian! Ingat jangan mburi ular di hutan larangan!" seru ular berkepala tujuh itu dengan garang.
"I...iya!" seru para penduduk itu dengan serempak dengan gemetaran.
Para penduduk itu membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing, untuk memperbaiki bagian-bagian rumah yang telah rusak karena kebakaran yang dibuat oleh ular berkepala tujuh itu.
Sementara ular berkepala tujuh itu perlahan-lahan pergi meninggalkan perkampungan yang hampir keseluruhannya terbakar api yang dia keluarkan dari mulutnya itu.
Setelah agak menjauh, ular kepala tujuh itu kembali berwujud ular emas dan terus melangkah dengan melata kembali ke arah tambal ban. Dimana Baron sedang menunggunya, karena bapak pemilik bengkel tambal ban itu sudah menambal ban sepeda motor Baron
Di semak-semak, ular emas itu merubah tubuhnya kembali menjadi seorang gadis yang cantik. Yang tak lain berubah menjadi Ara si putri raja siluman ular di hutan larangan
Ara melangkahkan kakinya menuju ke bengkel tambal ban, dan dia melihat Baron yang terlihat mondar-mandir karena cemas di bengkel tersebut.
Sesekali Baron melihat kobaran api yang melanda kampung di belakang bengkel tambal ban itu.
"Kemana kamu Anin, kebakaran kampung itu sangat besar sekali!" gumam dalam hati Baron yang saat ini harinya sedang resah.
Dan tak berapa lama dia melihat Ara yang melangkahkan kaki menuju ke arahnya.
"Anin!" panggil Baron yang bergegas menyambut Ara.
"Kak Baron, ma'af apakah kak Baron kelamaan menunggu saya?" tanya Ara yang melihat jelas raut wajah Baron yang khawatir itu.
"Ma'af Anin sempat tersesat lagi!" jawab Ara dengan raut wajah yang bersalah.
"Aduh...duh! merepotkan saja! Besok-besok jangan pergi sendirian lagi!" seru Baron yang menarik lengan Ara yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke sepeda motor yang sudah siap sedari tadi.
"Iya-iya, Anin tidak akan mengulanginya lagi kak Baron! kakak ku tersayang!" seru Ara sembari mengulas senyumnya.
"Ayo kita segera pulang!" ajak Baron yang memberikan helm pada Ara.
"Terima kasih, Iya kak!" balas Ara seraya menerima helm pemberian Baron.
Kemudian mereka berpamitan pada pemilik tambal ban dan melajukan kendaraan mereka, kembali ke jalan raya.
Dengan kecepatan sedang Baron membawa sepeda motornya menyusuri jalan raya menuju ke rumah keluarga Misnah.
Ara menikmati pemandangan yang telah mereka lewati, ada area persawahan dan juga perkampungan.
Tak berapa lama mereka telah sampai di halaman rumah yang luas, yang merupakan area rumah keluarga Misnah.
__ADS_1
Setelah memberhentikan laju kendaraannya tepat di depan garasi, mereka segera turun dari sepeda motor yang mereka kendarai.
Baron segera menuntun sepeda motornya masuk ke garasi, sedangkan Ara mengikutinya dari belakang seraya melepas helmnya.
Selesai memarkirkan sepeda motor, mereka melangkahkan kaki masuk ke rumah melalui pintu yang menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, ternyata Bu misnah sudah berada di ruang tamu, dan dia sedang mengecek baranga dagangannya yang baru saja dia belanja.
"Oh, Baron dan Anin! rupanya kalian sudah pulang juga!" seru Bu Misnah yang menyempatkan diri menoleh ke arah putra dan putrinya.
"Hari ini aku melihat kejadian yang aneh!" ucap Baron yang kemudian duduk di sofa dekat ibunya, dan diikuti oleh Ara.
"Memangnya ada apa?" tanya Bu Misnah yang penasaran.
"Supermarket terbakar dan juga satu kampung yang terbakar!" jawab Baron dengan raut wajah yang cemas.
"Apa supermarket?" tanya Bu Misnah yang menegaskan pendengarannya.
"Iya Bu, supermarket dimana ada kios toko pakaian ibu!" jawab Ara yang duduk di samping Bu misnah.
"Apa! toko pakaianku!" ucap Bu Misnah lirih dan tiba-tiba tubuhnya lemas lunglai.
"Ibu, Bu Misnah!" panggil Ara yang menatap dan kemudian menggoyang-goyangkan tubuh Bu Misnah.
"Ibu!" panggil Baron pada ibunya, yang bergegas menghampiri Bu Misnah yang terkulai lemas itu.
"Nampaknya ibu tak sadarkan diri kak Baron!" seru Ara yang mengusap kepala Bu Misnah dan dan merasakan hawa tubuh wanita setengah baya dihadapannya,
"Sebaiknya kak Baron bawa ke kamar, kamu suruh bibir pelayan untuk buatkan minuman teh hangat ya!" ucap Baron seraya meminta Ara membuatkan minuman untuk ibunya.
"Iya, tapi Anin akan bantu bukakan pintu kamar ibu dulu kak!" balas Ara yang bangkit dari duduknya.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...