Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Sisik Ular Emas


__ADS_3

Namun pada saat sampai di ruang makan, Ara yang menyamar menjadi Anin itu tak mendapati ibu angkatnya di ruang makan tersebut.


"Ibu kemana bi?" tanya Ara pada pelayan yang memberesi piring dan gelas bekas Ara dan yang lainnya sarapan tadi.


"Nyonya sudah pergi, mungkin sampai di garasi Non!":jawab pelayan itu yang menghentikan pekerjaannya sebentar dan kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Oh, baiklah Anin akan menyusul ibu kalau begitu!" seru Ara yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke garasi. Dan benar saja ibunya sudah berada di dalam mobil di belakang kemudi, dan sedang memainkan ponselnya.


Kemudian Ara membuka pintu mobil dan duduk di kursi mobil disamping ibu Misnah.


"Eh, kamu Nin! sudah kenalannya dengan nak Langit?" tanya ibu Misnah yang menatap ke arah Ara yang sedang memasang sabuk pengamannya.


"Belum Bu, lain kali saja! Lagi pula masih ada hari esok dan esoknya lagi." ucap Ara yang mengulas senyumnya seraya memandang ibu angkatnya itu.


Ibu Misnah menghela nafasnya dan kemudian menjalankan mobilnya pelan-pelan keluar dari garasi.


"Anin, yeserah kamulah! yang terpenting saat ini kamu tetap bersama ibu." ucap Bu Misnah yang mengarahkan pandangannya ke arah dimana dua orang pemuda yang sedang berdiskusi. Yang tak lain Baron dan Langit.


Ara menoleh dan melihat Baron bersama Langit kekasihnya.


"Kak langit, ma'afkan Ara. Ara sebenarnya sangat rindu sekali dengan kak Langit!" gumam dalam hati Ara yang menyembunyikan wajahnya di balik bahu ibu Misnah.


"Pim....!" Ibu Misnah mengklakson dan membuat kedua pemuda yang sedang berdiskusi itu menoleh dan melambaikan tangannya ke arah mobil yang dimana Ibu Misnah dan juga Ara yang ada di dalamnya.


"Ibu berangkat ya!" seru ibu Misnah yang membalas lambaian tangan putra dan teman putranya itu.


"Iya Bu, hati-hati!" balas Baron yang masih melambaikan tangannya.


Ibu Misnah kemudian melajukan mobilnya melewati pintu pagar rumahnya, sedangkan Baron dan Langit sudah menurunkan tangannya dan kembali ke topik diskusi mereka.


"Apa kamu lihat ada seorang gadis bersama ibuku tadi?" tanya Baron yang penasaran.


"Tidak, seperti tidak ada siapa-siapa disana. Memangnya apa adikmu ikut dengan ibu kamu?" jawab sekaligus tanya Langit yang menatap ke wajah Baron.


"Aku juga tidak melihat adik angkatmu bersama ibu." jawab Baron yang masih diliputi rasa penasarannya.


"Apakah dia sengaja tidak ikut sama ibu kamu ya?" tanya Langit yang ikut penasaran.


"Coba aku lihat ke dalam, tadi bilangnya kalau dia mau mematikan keran di kamar mandinya!" balas Baron yang melangkahkan kakinya masuk ke rumah.


"Aku ikut!" seru Langit yang mengikuti langkah Baron masuk ke rumah dan saat ini mereka berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Sebaiknya kita lihat ke kamar Anin!" seru Baron di saat langkahnya sudah manaiki tangga.


"Iya, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan adikmu!" seru Langit yang juga ikut menaiki tangga.


Keduanya dengan setengah berlari menaiki tangga dan akhirnya tiba di depan pintu kamar Ara.


"Ini kamarnya!" seru Baron yang mencoba membuka pintu tersebut, tapi tak juga berhasil.


"Sepertinya pintunya dikunci dari luar!" ucap Langit yang menebak situasi tentang pintu kamar Ara.


"Kenapa dikunci segala sih?" tanya Baron yang semakin penasaran.


"Mungkin privasi dia. Maklumlah dia-kan seorang gadis!" seru Langit yang menatap wajah Baron.


"Tapi aku merasakan ada hal yang aneh!' seru Baron yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke meja yang berada disudut lorong lantai dua itu.


"Kami mau mencari apa?" tanya Langit yang penasaran dengan tingkah Baron.


"Kunci cadangan!" jawab Baron yang membuka setiap laci yang terdapat di meja tersebut.


"Ketemu!" seru Baron yang begitu senangnya menemukan kunci yang diharapkannya.


Kemudian Baron mengambil dan membawa kunci tersebut menghampiri Langit yang masih berada di depan pintu kamar Ara.


Baron membuka pintu tersebut, dan setelah terbuka Baron masuk ke kamar dan diikuti oleh Langit.


"Adik kamu sepertinya memang sudah pergi dari kamarnya!" seru Langit seraya menebarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Ara.


"Coba aku lihat ke kamar mandinya!" seru Baron yang kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar Ara.


Sementara Langit melangkahkan kaki ke meja rias yang ada di kamar tersebut. Laki-laki itu terus menyusuri pandangannya di sekitar meja rias tersebut.


Tiba-tiba kedua matanya tertarik pada sebuah cahaya kemilau yang ada di bawah kursi meja rias yang ada di sampingnya.


Karena penasaran Langit mengambil benda berkilau itu, dan dia mengamatinya dengan seksama.


"Bukan bros maupun perhiasan lainnya, apa ini ya?" gumam dalam hati Langit yang penasaran.


"Langit kemarilah!" seru Baron dari dalam kamar mandi.


"Ada apa!" balas Langit yang tersadar dari lamunannya. Dan dia bergegas melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi, dan setelah melewati pintu kamar mandi tersebut Langit menghampiri Baron yang sedang duduk berjongkok.

__ADS_1


"Langit! Lihatlah ini!" seru Baron seraya menunjuk ke arah yang dia inginkan.


"Ada apa Baron?" tanya Langit yang melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Baron.


"Banyak sisik disini!" jawab Baron yang menatap ke arah Langit dengan wajah penasaran.


"Sisik?" tanya Langit yang sangat terkejut dan dia melihat banyak sisik yang ada diatas lantai kamar mandi.


"Sisik ular!" seru Langit yang kemudian mengenal sisik-siaik tersebut.


"Sisik ular?" tanya Baron dengan rasa penasaran.


"Aku juga menemukannya tadi di bawah kursi meja rias!" ucap Langit yang menunjukan sisik ular yang dia temukan pada Baron.


"Ini artinya ada ular di kamar Anin!" seru Baron yang dari penasaran menjadi khawatir.


"Sebaiknya kita cari, jangan-jangan ular yang terlepas pada saat dulu keluarga kamu masih menjual daging ular!" seru Langit yang menebak-nebaknya.


"Iya, ayo kita cari! Kasihan Anin jika tidur atau saat dia mandi di datangi ular-ular itu!" seru Baron yang menebarkan pandangannya ke setiap sudut kamar mandi tersebut.


Demikian pula dengan langit yang mencari keberadaan ular yang dalam pikiran mereka di bawah tempat tidur hingga di bawah meja rias yang ada di dalam kamar tersebut.


Namun apa yang mereka cari tidak mereka ketemukan.


"Aneh! apa ularnya sudah pergi ya?" tanya Baron yang penasaran.


"Sepertinya begitu. Lebih baik kita bersihkan kamar ini dari sisik-sisik ular. Takutnya nanti adik kamu melihat banyak sisik ular di kamarnya dan dia pingsan karenanya!" seru Langit.


"Ah benar juga! ayo kita bersihkan, aku akan bersihkan di kamar mandi dan kamu di kamar ini!" seru Baron yang membagi tugas membersikan kamar Ara dari sisik-sisik ular itu.


"Baiklah!" balas Langit dan kemudian mereka mengambil sapu dan tempat sampah untuk membuang sisik-sisik ular tersebut.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2