Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Masa lalu Bu Misnah dan Pak Darjo


__ADS_3

Perlahan-lahan kedua mata Ara menutup dan Ara pun masuk ke dalam mimpinya.


Sementara itu Bu Misnah yang baru saja berpisah dengan Ara dan Baron, melangkahkan kakinya ke dapur dan dia menemui para pelayannya.


"Bibi, acara pesta kebun kami sudah beres. Sekarang kalian bereskan sisa-sisa pesta kami di taman ya!" perintah Bu Misnah saat sudah sampai di dapur.


"I...iya nyonya!" jawab dua pelayan dengan kompak.


"Bagus, kalau begitu saya akan ke kamar untuk beristirahat!" ucap Bu Misnah.


"Iya nyonya, selamat beristirahat!" seru para pelayan itu.


Bu misnah menganggukan kepalanya dan kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


Setelah sampai di depan kamar, Bu misnah membuka lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.


Sedangkan Baron pun juga demikian, dia melangkahkan kaki menuju ke kamarnya dan membuka pintu kamar lalu menguncinya.


Baron melangkahkan kaki ketempat tidurnya, dan kemudian dia membantingkan diri diatas tembat tidurnya secara terlentang.


Pandangan kedua matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Dan dalam bayangannya nampak wajah cantik adik angkatnya yang sangat mempesona.


"Anin oh Anin! andaikan ada sedikit cinta kamu untuk aku!" gumam dalam hati Baron yang perlahan-lahan memejamkan kedua matanya dan dia larut dalam impiannya yang ingin bersama dengan Ara.


Suasana malam di rumah kediaman keluarga Misnah itu sudah terasa sunyi, hanya dua pelayan yang masih beraktifitas membereskan sisa-sisa pesta kebun majikannya.


...****...


Beberapa jam sudah berlalu, dan matahari mulai mengintip di ufuk timur.


Ara sudah bangun dari tidur nyenyak ya, gadis siluman ular itu bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


Setelah membuka dan menutup pintu kamar mandinya, Ara mulai membersihkan dirinya.


Tak berapa lama dia telah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Kemudian Ara membuka pintu kamar mandi dan keluar dari kamar mandi tersebut.


Ara melangkahkan kakinya menuju ke meja rias untuk merias wajahnya.


Nampak sesekali terlihat wajah asli Ara yang berwujud seekor ular emas yang berdiri tegak di depan meja rias.


"Jika wujud asliku akan terlihat di depan cermin seperti ini, bagaimana caraku berinteraksi dengan para manusia?" gumam dalam hati Ara yang menatap bayangan wujud aslinya di cermin.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian muncul bayangan wajah cantik Ara di cermin itu.


Kemudian Ara meneruskan aktifitasnya merias wajahnya di depan cermin meja riasnya.


Setelah selesai merias wajahnya, Ara melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamarnya. Tapi sebelumnya dia mengambil tas kecilnya.


Ara mengayunkan langkah kakinya menuruni tangga, dan menuju ke ruang tamu. Di ruang tamu sudah menanti ibu Misnah dan juga Baron.


"Aduh sang putri lama sekali dandannya!" goda Baron pada saat melihat Ara yang melangkahkan kaki menghampirinya.


"Eh, kak Baron dan ibu. Sudah lama menunggunya?" tanya Ara yang tak enak hati. Bu Misnah hanya tersenyum manis dan kemudian menggandeng Ara selayak putrinya sendiri.


"Belum lama kok, kan belum sampai siang hari!' seru Baron dengan nada bercanda.


"Ah, kak Baron bisa-bisa saja!" sahut Ara seraya mengulas senyumnya.


"Sudah-sudah ayo kita sarapan! setelah itu ibu sama Anin ke kios!" seru ibu Misnah yang menyempatkan menoleh ke arah Ara dan juga Baron.


"Iya Bu!" sahut Ara dan Baron dengan kompak dan mereka melangkahkan kaki menuju ke ruang makan.


Dan saat sudah sampai di ruang makan, makanan sudah disediakan oleh para pelayan keluarga Misnah.


Ara, Bu Misnah dan Baron duduk di kursi mereka masing-masing, dan mereka mengambil makanan masing-masing.


"Oh, teman kamu siapa?" tanya Bu Misnah setelah menelan makanannya.


"Itu temannya bapak, anaknya pak Darjo!" jawab Baron setelah menelan makanannya.


"Oh, anak ganteng itu ya!" seru ibu Misnah dengan semangat.


"Idih, ibu kok semangat sekali!" seru Ara yang mengulas senyum melihat tingkah ibu Misnah yang penuh semangat.


"Iya, ibu ini kenapa sih? Bukan kah ibu sudah berkali-kali bertemu dengan Langit dan bapaknya?"' tanya Baron yang penasaran.


Begitu juga dengan Ara yang mendengar nama Langit yang keluar dari mulut Baron.


"La...Langit? apakah Langit yang dimaksud adalah Langit kekasihku?" tanya dalam hati Ara yang penasaran.


"Sebenarnya ini rahasia masa lalu ibu dan bapaknya Langit, kami dulunya adalah teman masa kecil. Kami terpisah karena kedua orang tua kak Darjo pindah tugas. Kami tak ada komunikasi dan waktu kami saling bertemu, kami saling menjada privasi masing-masing. Karena kita sudah punya kehidupan masing-masing." jelas Bu Misnah sembari menatap putranya Baron dan Ara bergantian.


"Oh, jadi begitu ya?" ucap Baron seraya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya, dulu kak Darjo pernah menyatakan cinta sama ibu sebelum dia ikut pindah dengan kedua orang tuanya." jelas ibu Misnah setelah menyelesaikan sarapannya.


"Sekarang kan pasangan kalian sudah tiada, apakah cinta lama kalian akan bersemi kembali?' tanya Baron yang juga telah menyelesaikan sarapannya.


Demikian pula dengan Ara uang juga sudah menyelesaikan sarapannya. Gadis putri siluman ular itu, tetap diam dan memperhatikan arah pembicaraan ibu dan anak itu.


Dalam pikirannya hanya ada rasa penasaran dengan nama Langit yang tadi disebutkan oleh Baron.


"Menurut kamu bagaimana?" ucap Bu Misnah yang balik bertanya pada Baron putranya.


"Baron sih setuju saja kalau ibu bahagia dengan pak Darjo. Dan itu berarti Baron akan punya saudara tiri, yaitu Langit." jawab Baron setelah meminum minumannya.


"Makasih putraku!" seru Bu Misnah yang mengulas senyumnya. Dan saat ini semuanya telah menyelesaikan sarapan mereka.


"Tokk... tokk... tokk...!"


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu depan rumah keluarga Misnah.


"Bi, tolong lihat siapa yang datang pagi-pagi sekali ini!" seru Bu Misnah pada salah satu pelayannya.


"I..iya nyonya." jawab pelayan itu yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu dan lanjut membukakan pintu utama dimana baru saja ada orang yang mengetuknya dari luar.


Sementara itu di meja makan, Ara, Bu Misnah dan juga Baron telah menyelesaikan sarapannya.


Tak berapa lama pelayan yang tadi membukakan pintu untuk tamu mereka, datang menghampiri mereka yang sudah bangkit dari duduk mereka.


"Tuan Baron, di luar ada pemuda yang mencari tuan muda Baron." ucap pelayan itu yang memberitahukan kepentingan tamu mereka.


"Apakah namanya Langit, bi?" tanya Baron yang membuat Ara yang semula tak memperhatikan menjadi memperhatikan pembicaraan mereka.


"I...iya tuan, dia menyebut namanya adalah Langit." jawab pelayan itu seraya menganggukkan kepalanya.


"Apa, Langit?" gumam dalam hati Ara yang semakin penasaran.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2