
"Benar Bu, Ara tak tahu jalan kembali kemari. Ara mencari petunjuk kembali ke hutan larangan, dan menyusuri jalan dimana pernah kita lewati kemarin Bu." jelas Ara yang tentu saja tak mengatakan hal yang sebenarnya pada Bu Misnah dan juga Baron.
"Jadi seperti itu ceritanya, apakah kamu masih menerima permintaan kami?" tanya Bu misnah seraya menatap wajah Ara, gadis siluman ular yang ada disampingnya.
"Permintaan apa ya Bu?" ucap Ara yang balik bertanya pada Bu Misnah.
"Itu tentang pernikahan, apa kamu mau menikah dengan putrqku?" tanya Bu misnah yang menatap Ara dan kemudian menatap Baron secara bergantian.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tanya Ara dengan wajah tenangnya.
"Apa kamu tak kasihan sama kami?" ucap Bu misnah yang balik bertanya.
"Kalian memang baik padaku, tapi ternyata keluarga ini punya usaha yang tidak terpuji." jawab Ara yang menatap Bu misnah dan Baron secara bergantian.
"Usaha yang tidak terpuji? apa maksud kamu?" tanya Baron yang penasaran.
"Kak Baron, apa kak Baron tidak merasakan hukuman dari para ular yang telah kalian bunuh selama ini?" tanya Ara yang menatap Baron dengan tajam.
"Maksud kamu apa Nin?" tanya Baron yang masih belum paham.
"Sejak saya datang kemari, dan kalian menghidangkan menu daging ular. Itu sudah menunjukkan kalau kalian suka membunuh binatang, apalagi ular." jelas Ara yang mulai sedikit kesal pada Baron dan Bu Misnah.
"Karena itulah Anin mengira kalau kak Baron ini dikutuk oleh para ular tang tinggal di bebatuan." ucap Ara yang membuat Baron dan Bu Misnah yang saling pandang.
"Apa mungkin begitu ya Bu?" tanya Baron pada ibundanya.
"Ibu rasa juga begitu, selama ini yang kita makan memang semuanya dari para ular, karena yang bapak kamu kerjakan semuanya berhubungan dengan ular." jelas Bu Misnah yang kemudian menatap ke wajah Ara.
"Nah, karena itulah Ara minta ma'af kalau Ara tak mau menikah dengan kak Baron. Dan sebagai gantinya, bagaimana kalau aku akan menyembuhkan kak Baron dari pengaruh ular di tubuh kak Baron?" ucap Ara yang menawarkan dirinya.
"Menyembuhkan aku dari pengaruh ular?" tanya Baron yang penasaran.
"Iya karena kak Baron kan selama ini terkena kutukan dari ular penyihir!" jawab Ara dengan tegas.
"Kutukan ular penyihir?" tanya Bu Misnah yang terkejut.
__ADS_1
"Benar, kak Baron terkena kutukan dari ular penyihir. Karena kak Baron telah membakar sarang dari para ular di bebatuan yang berada di ladang waktu itu." jelas Ara yang menatap ke arah Baron.
"Lantas bagaimana cara membebaskannya?" tanya ibu Misnah yang penuh harap.
"Anin bisa membantunya, tapi dengan syarat kalau bebaskan Anin dari perjodohan Anin dengan kak Baron. Anin sudah mempunyai kekasih dan Anin menganggap kak Baron hanya seperti kakak Anin saja." jelas Ara yang dimana Bu Misnah dan Baron memperhatikan dengan seksama.
"Jadi boleh kan kalau kak Baron anggap Anin sebagai adik kak Baron saja?" lanjut tanya Ara yang menatap Baron dan Bu Misnah satu persatu.
"Baiklah kalau itu mau kamu, ibu menyetujuinya. Lagi pula sedari dulu ibu ingin mempunyai anak perempuan. Bagaimana dengan kamu Baron?" jawab Bu Misnah dan lanjut bertanya pada putranya uang berada di atas tempat tidur.
Baron belum menjawabnya, laki-laki itu terdiam dan menatap Ara dalam-dalam. Ada perasaan yang tak ingin memenuhi permintaan Ara, tapi dirinya juga butuh untuk bisa berjalan lagi.
Laki-laki itu menarik nafasnya panjang dan kemudian melepaskannya pelan-pelan.
"Walaupun dengan berat hati, baiklah saya menerima persyaratan dan permintaan kamu Anin." jawab Baron yang masih menatap Anin dalam-dalam.
"Terima kasih kak Baron, jadi mulai sekarang kita kakak adik ya! saya akan mulai ritual menyembuhkan kak Baron." ucap Ara seraya mengulas senyumnya.
"Jadi mulai sekarang ritualnya?" tanya Bu misnah yang meyakinkan pendengarannya.
"Iya Bu, mulai sekarang!" jawab Ara yang tetap mengulas senyumnya yang membuat Baron semakin gundah-gulana saat melihat senyum manis gadis di depannya.
"Tidak perlu, cuma Bu Misnah agak menjauh sebentar. Karena takutnya efek dari ritual ini berpengaruh pada Bu Misnah." jawab Ara.
"Oh, baiklah!" ucap Bu Misnah yang kemudian melangkahkan kakinya menepi sampai ke dinding kamar Baron.
Sementara itu Ara mengeluarkan Batu mutiara intan di telapak tangannya, dimana batu mutiara intan berwarna hitam itu di simpan sebelumnya oleh Ara.
Ara mulai berkomat-kamit merapalkan mantra, dan dalam sekejap muncullah seberkas cahaya yang keluar dari batu mutiara intan berwarna hitam itu.
Putri siluman ular itu mengarahkan baru mutiara intan yang berwarna hitam itu dari atas kepala Baron hingga ke ujung kaki laki-laki itu.
"Aaaarghh....!"
Baron mengerang dengan kerasnya, laki-laki itu merasakan rasa sakit yang amat sangat menderanya.
__ADS_1
Tiba-tiba seluruh tubuh Baron mengeluarkan cahaya kemilau yang cukup lama dan perlahan-lahan cahaya itu seperti disedot oleh batu mutiara berwarna hitam itu.
"Aaarghh...!"
Sekali lagi Baron mengerang kesakitan dan pada akhirnya laki-laki itu tak sadarkan diri.
Setelah menyelesaikan ritualnya, Ara menyimpan kembali batu mutiara berwarna hitam itu.
"A...apakah sudah selesai ritualnya nak Anin?" tanya Bu misnah yang penasaran.
"Sudah bu, ibu boleh mendekat kemari!" jawab Ara yang menoleh ke arah Bu Misnah.
Kemudian Bu Misnah melangkahkan kakinya menghampiri Ara dan juga Baron yang sedang tak sadarkan diri .
"Apa yang terjadi dengan putraku saat ini?" tanya Bu Misnah yang penasaran dan saat ini sudah berdiri disamping Ara.
"Bu Misnah tenang saja, kak Baron hanya pingsan karena pengaruh kekuatan besar yang menyelimutinya. Sebentar lagi dia akan sadar dan yang pastinya akan berjalan kembali." jelas Ara yang menatap wajah Bu Misnah yang masih terlihat kebingungan.
"Baiklah kalau begitu kita tunggu di sini saja sampai Baron siuman." ucap Bu Misnah yang kemudian duduk di tepi tempat tidur di samping putranya yang masih memejamkan kedua matanya.
Ara menepuk bahu Bu Misnah sebelah kiri dengan pelan-pelan, seolah memberi semangat pada Bu Misnah.
Wanita setengah baya itu menata wajah Ara dan menyunggingkan senyumnya, kemudian wanita itu memegang tangan sebelah kanan puteranya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Puteraku, cepatlah kamu sadar ya! Ibu sangat mengkhawatirkan kamu!'' ucap lirih Bu Misnah yang mengusap wajah putranya dengan lembut.
Ara yang melihat kejadian yang mengharukan itu, membuat gadis siluman ular itu tertegun. Tiba-tiba saja dirinya merindukan ibundanya yang berada di istana siluman ular, di dalam hutan Terlarang.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung-...