Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Ara Menghindari Langit


__ADS_3

"Anin baru mengikuti apa yang dikatakan ibu kak, ya sementara ini Anin sibuk menghafalkan model pakaian sampai gharga jual pakaian tersebut." jelas Ara yang kini gilirannya mengambil makanan dan diletakkan di atas piringnya.


"Oh, nanti lama-lama juga bisa berjualan." ucap Baron yang kemudian memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Lantas bagaimana dengan kamu Baron?" tanya Bu Misnah setelah menelan makanannya.


"Tadi sudah membersihkan dan mengecat gudang, dan menata perabotan yang masih bisa digunakan. Rencananya besok pagi aku dan Langit mau ke kota untuk membeli peralatan yang dibutuhkan." jawab Baron yang telah menyelesaikan makannya.


"Hm, jadi begitu ya. Bagaimana kalau besok kamu kenalkan Langit sama adik kamu Anin?" pinta ibu Misnah sembari mengulas senyumnya.


"Boleh, bagaimana dengan kamu Non?" tanya Baron yang menatap ke arah gadis yang sedang asyik menyelesaikan makannnya.


"Hukk...hukkk.....! eh apa ya?" tanya Ara yang pura-pura tidak tahu maksud dari Baron dan juga Bu Misnah.


"Kamu mau kan kak Baron kenalkan dengan teman kak Baron?":tanya Baron yang menatap Ara yang telah menyelesaikan makannya dan sedang minum minumannya.


"Tapi Anin masih malu, kapan-kapan saja ya kak? Anin tak terbiasa bertemu laki-laki lain selain kekasih Anin dan juga kak Baron." jawab Ara yang menghindar dari pertemuannya dengan Langit.


"Oh, begitu! ya sudah jangan dipaksakan. Kalau jodoh pastilah mereka akan bertemu." ucap Bu Misnah yang telah menyelesaikan makannnya.


Tak berapa lama mereka menyudahi acara makan malam bersama. Ketiganya pun pindah ke ruang keluarga untuk melanjutkan perbincangan mereka seraya melihat acara televisi.


Kebersamaan mereka berlangsung tak lama, dan mereka saling berpamitan untuk kembali ke kamar masing-masing. Demikian pula dengan Ara yang sudah tak bisa menahan rasa kantuknya karena seharian dia bekerja dan terus berwujud manusia.


"Rasanya capek sekali, aku ingin cepat-cepat sampai ke kamar. aku ingin merubah wujud asliku.Huah...! capek sekali!":gumam dalam hati Ara yang langkahnya berhenti tepat di depan tintu kamarnya.


Putri siluman ular itu kemudian membuka pintu kamarnya. Setelah itu dia melangkahkan kakinya masuk ke kemara dan menutup serta mengunci pintu kamarnya.


Kemudian Ara melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur itu. Dan dalam sekejap saja gadis cantik itu berubah menjadi seekor ular kuning keemasan yang melingkar dan kemudian memejamkan kedua matanya.


Malam pun berlalu dengan cepatnya, dan kini berganti menjadi pagi. Matahari masih malu-malu menampakkan wajahnya yang masih di peraduannya di sebelah timur.


Sementara itu Ara yqng sudah bangun dari tidurnya, merubah wujudnya menjadi gadis cantik seperti sebelumnya. Kemudian gadis siluman ular itu melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya serta mengganti pakaiannya.


Beberapa menit kemudian Ara keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaiannya yang bersih. Kemudian dia melangkahkan kaki menuju ke meja riasnya.


Setelah itu Ara melangkahkan kaki menuju ke pintu kamarnya. Putri siluman ular itu membuka kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar, setelah itu menutup dan mengunci pintu kamarnya.


Kemudian Ara melangkahkan kakinya menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan.

__ADS_1


Sesampainya di ruang makan, Ibu Misnah dan Baron sudah berada di ruang makan dan rupanya mereka sengaja menunggu Ara turun dari kamarnya untuk makan bersama.


"Kalian sudah berada di sini rupanya?" tanya Ara yang tak enak hati karena dirinya datang terlambat dan membuat yang lainnya menunggu kedatangannya.


"Anin putriku, ayo kita makan sama-sama! para pelayan sudah menyiapkan makanan untuk kita semuanya!" ajak ibu Misnah.


"Baik Bu!" jawab Ara yang kemudian gadis siluman ular itu melangkahkan kaki dan kemudian menuju ke meja makan.


Ibu Misnah mengambilkan makanan untuk Baron dan juga dirinya, sementara Ara mengambil makanan


Setelah mengambilkan makanan untuk Baron, kemudian Ara mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Acara makan mereka diselingi cerita serta canda tawa diantara mereka.


Tak berapa lama tiba-tiba ada yang mengetuk pintu depan rumah keluarga Misnah.


Tokk... tokk... tokk...!"


Bu Misnah, Baron dan Ara saling pandang satu sama yang lainnya. Kemudian Bu Misnah pemanggil pelayannya.


"Bi, tolong lihat siapa yang datang pagi-pagi sekali ini!" seru Bu Misnah pada salah satu pelayannya.


Sementara itu di meja makan, Ara, Bu Misnah dan juga Baron telah menyelesaikan sarapannya.


Tak berapa lama pelayan yang tadi membukakan pintu untuk tamu mereka, datang menghampiri mereka yang sudah bangkit dari duduk mereka.


"Tuan Baron, di luar ada pemuda yang mencari tuan muda Baron. Dia pemuda yang kemarin tuan." ucap pelayan itu yang memberitahukan kepentingan tamu mereka.


"Apakah namanya Langit, bi?" tanya Baron yang membuat Ara yang semula tak memperhatikan menjadi memperhatikan pembicaraan mereka.


"I...iya tuan, dia menyebut namanya adalah Langit." jawab pelayan itu seraya menganggukkan kepalanya.


"Apa, kak Langit?" gumam dalam hati Ara yang mulai dihantui perasaan cemas.


Ibu, Baron mau temui Langit sebentar ya!" seru Baron dengan semangat.


"Iya, coba nanti jangan lupa kamu kenalkan adik kamu sama Langit. Biar Anin punya teman!" seru Bu Misnah sembari mengulas senyumnya.


"Oiya, ayo Anin ikut kak Baron. Kita temui Langit sekarang? Karena dia mau ke kota setelah bantu kak Baron belanja peralatan bengkel!" seru Baron seraya menatap ke Ara.

__ADS_1


"Tapi kak, nanti ibu kelamaan nunggunya. Jadi lain kali saja ya?" pinta Ara yang memohon.


"Nggak apa-apa Anin, sebentar saja kok!" seru Baron yang sedikit memaksa.


"Iya, lagi pula ibu nggak apa-apa kalau cuma menunggu kamu sebentar!" seru Bu Misnah sembari mengulas senyumnya.


"Iya deh!" ucap Ara yang kemudian menarik nafasnya panjang dan melepaskannya pelan-pelan.


Ara kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Baron, gadis siluman ular itu terus berpikir bagaimana cara menghindari pertemuannya dengan Langit.


"Bagaimana kah caranya Ara bisa menghindar dari bertemu dengan kak Langit?" tanya dalam hati Ara yang gelisah.


"Ah, itu saja!" seru dalam hati Ara yang tiba-tiba punya jawaban dari kegelisahannya.


"Kak Baron ke depan dulu ya, Anin lupa belum mematikan keran kamar mandi!" seru Ara yang menghentikan langkahnya pada saat mereka sampai di kamar tamu.


"Cepat sana matikan, habis itu ke teras ya!" seru Baron yang ikut cemas jika benar keran belum dimatikan, maka airnya pasti akan meluber memenuhi kamar mandi.


Kemudian Ara melangkahkan kakinya kembali ke arah kamarnya, sedangkan Baron melangkahkan kaki menemui Langit yang sedang duduk di teras depan rumah.


Keduanya sedang mengobrol dan mencatat tentang bahan dan peralatan yang akan mereka beli nantinya.


Sementara itu Ibu Misnah yang sudah mengambil tas dan dompetnya masuk ke mobil, dan dia duduk di belakang kemudi dengan sabar.


Sedangkan Ara mengutip kakak angkatnya yang sudah menemui Langit.


Kemudian dengan mengendap-endap gadis siluman ular itu melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.


Namun pada saat sampai di ruang makan, Ara yang menyamar menjadi Anin itu tak mendapati ibu angkatnya di ruang makan tersebut.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2