
Tiba saatnya Langit untuk berpamitan pada Ara. Ada rasa tak ingin berpisah, dan kedua mata keduanya mereka mulai berkaca-kaca.
"Kak Langit, jangan pergi ya!" racau Ara yang kemudian memeluk Langit dengan erat.
"Kak Langit juga tak ingin berpisah dengan-mu sayang! kak Langit sangat menyayangimu." ucap Langit yang juga sedang meracau, keduanya tenggelam dalam pelukan yang cukup lama.
Lanjut Langit menciumi wajah Ara dengan lembut dan Ara menikmatinya.
"Satu purnama lagi aku akan merasakan hal seperti ini!" gumam dalam hati Ara yang tak terasa air matanya menetes di pipinya.
Kedua bibir mereka saling bertaut, dan seolah tak ingin ada perpisahan diantara mereka.
Setelah melepas ciuman mereka, kembali mereka saling berpelukan dan Langit mengecup kening Ara kekasihnya dengan mesra.
"Kak Langit pergi ya!" bisik Langit yang mengulas senyumnya.
"Iya kak!" jawab Ara seraya menganggukkan kepalanya.
Perlahan pelukan terlepas, dan kemudian genggaman tangan mereka pun terlepas.
Langit melambaikan tangannya dan mengucap salam perpisahan.
"Sampai jumpa lagi Ara kekasihku!" seru Langit yang kemudian Ara membalas lambaian tangan Langit.
"Sampai ketemu lagi Kak Langit sayangku!"
Langit pun melangkahkan kaki meninggalkan Ara dan goa yang menjadi tempat asmara mereka.
Sementara itu Ara mengantarkan Langit sampai di mulut goa dan diabterus memandangi Langit sampai laki-laki itu menghilang dari hadapannya.
"Kak Langit, Ara akan merindukanmu!" gumam Ara yang kemudian dia kembali masuk ke goa.
Ara menjalani hari-harinya tinggal di goa itu, gadis Siluman itu merasakan kerinduan yang dalam dari dalam lubuk hatinya yang terdalam pada Langit.
Putri siluman ular itu duduk di depan perapian. Dia memandang api, tapi dalam pikirannya selalu ada bayangan laki-laki pujaan hatinya.
"Kenapa rasanya aku ingin sekali bertemu dengan kak langit ya?" tanya dalam hati Ara yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari goa.
"Aku harus bertemu dengan kak Langit, aku sangat rindu sekali padanya." ucap dalam hati Ara yang sudah tak bisa menahan dirinya lagi.
"Sebaiknya aku kembali ke keluarga Misnah sembari menunggu sampai bulan purnama. Lagi pula, aku masih ada perhitungan dengan keluarga itu!" seru dalam hati Ara, yang kemudian gadis siluman ular itu masuk kembali ke goa untuk mematokkan perapiannya.
Putri siluman itu melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak di dalam hutan terlarang itu.
__ADS_1
Selama dalam perjalanannya, Ara ingat jalan yang dia lewati adalah jalan dimana Ara mendengarkan suara tangisan bayi-bayi ular yang kehilangan orang tua mereka.
Dan saat ini Ara masih mendengar suara tangisan mereka.
"Kenapa mereka masih saja menangis?" masih tanya dalam hati Ara yang mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Ara mencari sumber suara tangisan dan kemudian menghampiri beberapa anak ular yang menangis tersedu-sedu.
"Ular kecil, kalau boleh tahu kenapa kalian menangis?" tanya Ara yang penasaran.
"Tolong kami, orang tua kami semuanya dibunuh oleh para manusia. Kami tak tahu akan kemana lagi!" jawab salah satu ular kecil itu pada Ara.
"Apa? masih saja ada yang memburu ular di hutan terlarang ini?" tanya dalam hati Ara.
"Baiklah, Ara akan mencari siapa dalang dari pembunuhan para ular itu!" seru Ara yang kemudian meletakkan ular kecil itu ke atas tanah, dan kemudian dia terus melangkahkan kakinya meyusuri jalan setapak untuk meninggalkan hutan Terlarang tersebut.
Setelah berapa saat melangkah, Ara menemukan tepi dari hutan larangan yaitu perbatasan ke desa para manusia
Ara melihat di setiap pohon besar di tepi hutan larangan itu.
"Hm...! masih sama waktu pertama kalinya bertemu dengan keluarga Misnah!" gumam dalam hati Ara yang menebarkan pandangannya ke seluruh pohon besar yang ada dihadapannya.
Gadis siluman ular itu menebarkan pandangannya dan mengingat jalan yang kemarin dilalui mobil Misnah.
Selama Ara berjalan,gadis siluman itu melihat rumah-rumah yang telah dia lewati kemarin.
Ara menebarkan pandangannya ke sekitar halaman dan teras rumah besar dan megah itu.
Kemudian dia mengetuk pintu rumah besar itu.
"Tokk... tokk... tokk...!"
"Siapa?" tanya seseorang dari dalam rumah yang tak lain pelayan rumah besar itu.
"Saya Anin!" jawab Anin dengan jujur.
Tak berapa lama ada pelayan rumah besar itu membukaan pintu.
"Klek....klek..... ceklek!"
"Selamat datang!" ucap pelayan yang membukakan pintu utama dan melihat ke arah Ara.
"Non Anin, darimana saja? Nyonya dan tuan muda mencari nona beberapa hari ini." tanya pelayan itu pada Ara.
__ADS_1
"Ma'af saya tersesat, saat kemarin jalan-jalan kesekitar wilayah ini." jawab Ara yang tak mengatakan hal yang sebenarnya.
"Oh, kasihan sekali. Apakah nona lapar?" tanya pelayan itu yang mencemaskan keadaan Ara.
"Be...belum." jawab Ara, karena memang saat ini dia belum makan siang.
"Kalau begitu mari ke ruang makan, kebetulan siang ini nyonya dan tuan muda sedang berada di makam. Dan sebentar lagi pulang.Jadi saya juga akan menyiapkan makan siang untuk nyonya dan tuan muda nanti" jelas pelayan keluarga Misnah.
"Baiklah, nanti Anin bantu ya!" ucap Ara yang mencoba menawarkan diri untuk membantu pelayan itu.
"Tidak usah nona, ini sudah kewajiban saya." ucap pelayan itu yang menolak secara halus.
"Ya sudah, nanti aku melihat saja, biar tahu pekerjaan rumah tangga! he...he...!" ucap Ara seraya mengulas senyumnya.
"Kalau begitu terserah nona deh!" ucap pelayan itu dengan membalas senyum pelayan itu.
Kemudian mereka berdua melangkahkan kaki masuk ke ruang tamu dan lanjut mereka menuju ke ruang makan.
Pelayan itu menyiapkan makanan buat Ara, dan Ara memperhatikan kinerja pelayan itu dengan seksama.
Dan makanan sudah tersaji dihadapan Ara, Ara kemudian memakannya dengan lahapnya.
"Pelayan ini baik hati, dia bukan targetku saat ini!" gumam dalam hati Ara yang menikmati makanannya seraya memperhatikan cara kerja pelayan keluarga Misnah itu.
"Tadi bibi bilang kalau nyonya Misnah dan tuan muda Baron pergi ke makam? memangnya ke makam siap Bi?" tanya Ara yang lupa dengan apa yang telah dia lakukan.
"Oiya, nona belum tahu ya kalau tuan Misnah sudah tiada!" seru pelayan itu seraya menuangkan minuman pada gelas di samping Ara.
"A...apa? tu...tuan Misnah sudah meninggal begitu maksud bibi?" tanya Ara yang pura-pura terkejut mendengar berita itu.
"Iya, beberapa hari yang lalu tuan Misnah dan para pekerja telah meninggal dengan cara tak wajar." jelas pelayan itu yang duduk di samping Ara.
"Meninggal dengan tak wajar?" tanya Ara yang masih pura-pura tak tahu kejadian itu.
"I...iya nona, tubuh mereka membiru!" jawab pelayan itu dengan wajah kengeriannya, menatap Ara.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...