
"Rasanya ayahanda dan ibunda menyuruhku untuk pulang ke istana, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mereka?" masih gumam dalam hati siluman ular emas itu yang nampak sekali kegelisahannya.
Tiba-tiba terpancar cahaya keemasan dari tubuh ular emas itu, dan perlahan-lahan tubuh ular itu berubah menjadi sesosok gadis cantik yang tak lain putri siluman ular yang bernama Ara.
"Ah, tubuh dan kekuatanku kembali!" seru Ara seraya melihat kedua tangan dan kakinya. Kemudian Ara menepuk-nepuk kedua pipinya, dan merasakan sakit.
"Plak...plak....plak...!"
"Auw, sakit! Aku jadi manusia lagi!" seru Ara dengan rona bahagianya.
Gadis siluman itu kemudian berdiri dan memutarkan tubuhnya, dan dia merasakan goyangan pada gaun yang menempel ditubuhnya.
"Brakk...!" Terdengar seperti benda yang jatuh.
"Apa itu!" seru Ara yang kemudian dia mengintip dari balik kamarnya ke arah ke sekitar goa.
Nampaklah sesosok laki-laki yang sangat dia rindukan saat ini, dan mereka terpisah beberapa hari yang lalui.
"Kak Langit!" panggil Ara yang kemudian mengulas senyumnya, dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menghampiri Laki-laki yang sedang membuat perapian itu. Laki-laki itu tak lain adalah Langit kekasih Ara.
Dan Langit pun itu menoleh karena merasa ada yang menyebut namanya.Dan saat dia tahu siapa yang memanggil namanya, laki-laki itu bangkit dari duduk berjongkoknya dan menghadap ke arah Ara dengan mengulas senyumnya.
"Kak langit!" panggil Ara yang mengulas senyumnya.Demikian pula dengan Langit yang juga mengulas senyumnya saat melihat ke arah Ara.
"Apa kabar kamu sayang!" sapa Langit dengan masih mengulas senyumnya.
"Baik kak!"Jawab Ara.
"Apakah kak Langit baru datang di goa ini?" lanjut tanya Ara yang penasaran.
"Sudah sejak tadi, kak Langit mencari kayu bakar lalu berburu dan mendapatkan ayam hutan itu. Setelah itu kak Langit membuat perapian dan memanggang ayam hutan yang kak Langit tangkap tadi." jawab Langit yang mengulas senyumnya.
"Ohya? kebetulan nih, Ara belum makan dari tadi!" seru Ara sembari melihat ke arah perapian dan seperti air liurnya mau menetes saja.
"Sepertinya ayamnya sudah matang!" seru Langit yang kemudian mengangkat ayam panggang yang baru saja dia angkat dari perapian.
"Iya, hmm....! baunya, sangat menggoda! He...he....!" seru Ara yang menikmati bau sedap dari ayam hutan panggang itu.
Kemudian keduanya makan ayam panggang itu bergantian dan kembali mereka saling bercanda seraya menikmati ayam hutan panggang itu.
"Ara buka mulutnya, kak Langit suapin ya!" seru Langit yang sudah bersiap menyuapi Ara. Dan Ara membuka mulutnya sesuai perintah dari Langit.
"A.....!" Ara yang membuka mulutnya.
__ADS_1
Langit hendak menyuapi Ara, tapi kemudian suapan itu dia belokkan ke mulutnya sendiri.
"Eh, kak Langit bercanda ya!" seru Ara yang geregetan.
"He..he...he...! maaf ya, habisnya ternyata daging ayam hutan panggang ini lebih menggoda selera!" seru Langit yang bercanda.
"Jadi menurut kak Langit itu aku ini apa?" tanya Ara yang sekigus menguji langit.
"Kamu, emmm....! kamu ya kamu, kamu tidak seperti apa pun. Kamu malaikat kecil yang menghuni relung
hatiku yang paling dalam." jawab Langit seraya menatap wajah Ara dengan lembut.
"Dasar ngegombal ya?" ucap Ara seraya melempar tulang yang kecil ke arah Langit.
"Eh, benar kok! kamu tak percaya?" jawab dan tanya Langit yang menatap Ara dalam-dalam dan Ara juga demikian.
Keduanya sama-sama mencari kejujuran diantara keduanya lewat bola mata masing-masing.
"Apa benar kak Langit bersungguh-sungguh mencintaiku?" tanya dalam hati Ara pada saat menatap kedua mata Langit.
"Ara, aku benar-benar menyukai dan menyayangimu. Adakah sinar cahaya mu untukku?" gumam dalam hati Langit yang mencari sesuatu dari mata Ara.
Cukup lama mereka saling menatap mata dan terlihat rona merah di wajah mereka masing-masing.
"Eh, Ara mau cuci tangan dulu!" seru Ara yang mengalihkan pandangan dan juga topik pembicaraannya.
Tak berapa lama Langit menyusul Ara, dia juga berniat mencuci tangannya karena sehabis makan ayam hutan panggang tadi.
"Airnya jernih ya!" seru Langit saat sampai disamping ara dan mencuci mukanya.
"Iya, kak Langit cuci muka ya. Ara bantuin! he...he...!" ucap Ara seraya memercikkan air ke arah wajah Langit dan Langit berusaha menghindar dan kemudian membalasnya.
Adegan mereka saling balas memercikkan air sangatlah dramatis, tak ada yang mau kalah diantara mereka.
Beberapa saat kemudian Ara bangkit dari posisinya duduk jongkok di tepi sungai kecil itu dan melangkahkan kaki menjauh dari Langit yang masih mencoba menyerangnya.
Kemudian Langit mengejar Ara, dan adegan berganti saling kejar-kejaran dan diiringi tawa kecil diantara mereka.
Cukup lama juga mereka saling kejar-kejaran, dan pada akhirnya Langit menangkap tubuh Ara dengan melingkarkan tangannya di perut Ara dan mengangkat tubuh Ara sambil berputar.
Terlihat rona kebahagiaan terpancar diantara keduanya.
Langit menyudahi adegan mengangkat tubuh Ara dan kemudian posisi mereka saling berhadapan dan bertatap mata antara keduanya.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali Ara." ucap Langit yang membelai rambut Ara dengan lembut, dan wajah Ara nampak memerah karena tersipu malu.
Ara kemudian mengulas senyumnya dengan malu-malu dan demikian juga dengan langit.
"Ara, maukah kamu menjadi kekasih hatiku?" tanya Langit seraya menatap wajah Ara yang masih merona itu.
Ara diam dan memperhatikan wajah Langit dengan seksama.
"Hmm....!"
Ara menganggukkan kepalanya dengan pelan dan tersenyum dengan lebarnya dan dia memeluk Ara dengan eratnya.
Demikian pula dengan Ara yang menerima pelukan itu juga dengan eratnya. Keduanya saling berpelukan dan Ara sempat mendengar detak jantung Langit yang berdecak tak beraturan.
"Ara, kamu mau kan nanti jadi ibu dari anak-anakku?" tanya Langit yang menatap Ara yang masih dalam pelukannya.
"Lho, memangnya kak Langit sudah punya anak ya?" tanya Ara yang penasaran.
"Belum, memangnya kenapa?" jawab Langit sekaligus balik bertanya.
"Lha itu tadi bilang ibu dari anak-anak kak Langit?" tanya Ara yang tambah penasaran.
"Eh, bukan itu maksud aku. Kalau kita menikah nantikan pasti punya anak, nah itulah yang kak Langit utarakan. Ibu dari anak-anak kita!" jelas Langit yang mengukas senyumnya.
"Oh, jadi maksudnya kita menikah lebih dulu ya?" tanya Ara yang juga menatap Langit dengan penasaran.
"Iya, tapi kita belum saling mempertemukan kedua orang tua kita masing-masing? Kamu kan harus mengenal orang tua aku terlebih dulu dan aku juga harus mengenal orang tua kamu terlebih dahulu." jawab Langit dan keduanya kembali saling berpelukan, mereka kemudian saling bercerita dan saling bercanda gurau.
Tak terasa matahari bergulir dengan cepatnya dan matahari mulai beranjak ke ufuk barat.
Langit dan Ara keluar dari goa, mereka mencari sesuatu yang bisa untuk mereka makan sore dan malam nanti.
"Krusek...krusek...krusek...!"
Ada yang bergerak di semak-semak, keduanya saling pandang.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...