
Ara menjadikan goa kecil itu sebagai kamarnya, selama dirinya tinggal di dalam goa itu.
...****...
Sehari Ara tinggal di tempat itu, namun yang dirasakan Ara seperti bertahun-tahun lamanya.
Tiba-tiba ada rasa kerinduan yang dalam dari dalam lubuk hatinya yang terdalam, putri siluman ular itu sangat merindukan laki-laki yang dua hari ini mereka saling berjumpa.
"Kenapa rasanya aku ingin sekali bertemu dengan kak langit ya?" tanya dalam hati Ara yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari goa.
"Aku harus bertemu dengan kak Langit, aku sangat rindu sekali padanya." ucap dalam hati Ara yang sudah tak bisa menahan dirinya lagi.
Putri siluman itu melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak di dalam hutan terlarang itu.
Tiba-tiba saja Ara mendengarkan suara tangisan bayi-bayi ular yang kehilangan orang tua mereka.
"Kenapa, kenapa mereka menangis?" masih tanya dalam hati Ara yang mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Ara menghampiri beberapa anak ular yang menangis teesedu-sedu.
"Ular kecil, kalau boleh tahu kenapa kalian menangis?" tanya Ara yang penasaran.
"Tolong kami, orang tua kami semuanya dibunuh oleh para manusia. Kami tak tahu akan kemana lagi!" jawab salah satu ular kecil itu pada Ara.
"Baiklah, Ara akan mencari siapa dalang dari pembunuhan para ular itu!" seru Ara yang kemudian meletakka ular kecil kecil itu ke atas tanah, dan kemudian dia terus melangkahkan kakinya meyusuri jalan setapak hutan tersebut.
Setelah berapa saat melangkah, Ara menemukan tepi dari hutan larangan yaitu perbatasan ke desa para manusia
Ara melihat di setiap pohon besar di tepi hutan larangan itu.
"Kenapa banyak sesaji di setiap pohon besar ini!" seru Ara yang menebarkan pandangannya ke setiap pohon yang ada di sekitarnya.
"Oh, rupanya mereka memuja penghuni pohon! Dasar manusia tak tahu diri! memuja itu pada Tuhan! pohon yang beberapa tahun lagi akan roboh!" gumam Ara yang menggelengkan kepalanya dengan pelan-pelan.
Karena lapar, Ara memakan satu persatu sesajen yang ada dibawah pohon.
"Huahaaahemmm...;⁴
Ara mulai menguap, karena rasa kantuk yang tiada tara telah dia rasakan.
__ADS_1
"Aku mengantuk sekali. lebih baik aku tidur sejenak di bawah pohon itu!" gumam Ara yang kemudian dia mencari tempat untuk dirinya beristirahat.
Ara tidur dibalik sebuah pohon yang rindang. Dan lama waktu sekejap saja dirinya sudah terlelap dalam tidurnya.
Di saat Ara tertidur pulas itu, tiba-tiba ada sepasang orang laki-laki dan perempuan yang datang ke pohon besar yang di mana Ara sedang tidur dengan pulasnya
"Tuan yang ada di pohon, bantulah kami dalam mencarikan jodoh pada putra kami untuk yang sudah ke sekian kalinya." ucap wanita yang membawa bersama laki-laki tua yang tak lain adalah suaminya itu, mereka mendatangi pohon besar itu untuk memuja dan melestarikan perjuangan nenek moyangnya.
"Iya tuan penghuni pohon besar, kasihanilah kami. Putra semata wayang kami yang cacat tak bisa menemukan jodohnya, saya inginkan yang terbaik untuk putra hamba itu!" ucap permintaan laki-laki tua itu.
Mereka berdua melakukan ritual penyembah pohon besar itu.
Tanpa sengaja laki-laki tua yang asyik memuja pohon tua itu, melihat Ara yang terbaring pulas di bawah pohon yang mereka puja.
Laki-laki tua itu mengira kalau Ara adalah gadis pilihan dari penghuni pohon itu.
"Bu....ibu...!" panggil laki-laki tua itu pada istrinya.
"Ada apa pak?" tanya wanita tua itu pada suaminya.
"Lihat itu!" jawab laki-laki tua itu seraya menunjuk pada Ara.
"Kamu kira gadis itu untuk bapak? itu buat putra kita, Baron Bu!" seru laki-laki tua itu yang menatap istrinya.
"Hah, istri buat Baron? ibu mengerti pak! Jadi dia pilihan penghuni pohon ini buat putra kita!" seru si wanita itu yang mengulas senyumnya dengan tipisnya.
"Benar!" balas laki-laki tua itu.
"Sebisa mungkin dia kita ajak ke rumah! kita kenalkan pada putra kita!" ucap laki-laki tua itu.
Kemudian sang istri itu menghampiri Ara, dan dia mengusap lembut kepala Ara.Demikian pula dengan sanga suami itu yang juga menghampiri Ara dan juga istrinya.
Sementara itu Ara merasakan ada yang mengusap kepala dan juga rambutnya itu, membuka kedua matanya dan segera memposisikan dirinya untuk duduk.
Gadis itu sangatlah terkejut, karena ada dua orang laki-laki dan wanita tua yang sekarang ini ada di sampingnya.
"Si...siapa kalian?" tanya Ara yang penasaran.
"Kami ini adalah pengikut dari penghuni pohon besar ini, dan selama ini kami meminta untuk mencarikan jodoh untuk anak kami!" jawab wanita tua itu.
__ADS_1
"Dan tiba-tiba ada kamu di sini. Jadi kami yakin kalau kamulah jodoh dari penghuni pohon ini untuk putri kami!" seru laki-laki tua yang menambahi.
"Ta..tapi kan aku cuma...!" ucap Ara yang kemudian dia ingat akan keinginannya mencari pembunuh saudaranya sesama ular di hutan larangan.
"Aku ingat, aku harus mencari tahu siapa pembunuh ular-ular di hutan larangan. Menurut cerita kalau yang membunuh itu sebangsa manusia, jadi sebaiknya aku berbaur dengan manusia untuk mengetahui siapa pelaku pembunuhan itu!" gumam dalam hati Ara.
Gadis siluman ular itu dengan terpaksa diam dan menerima ajakan kedua suami istri itu.
"Kami paham, kamu seorang gadis yang tak punya orang tua dan tak punya harta benda. Tenang saja, karena semuanya akan kami cukupi!" seru laki-laki tua itu pada Ara.
Ara hanya menganggukkan kepalanya seraya menatap kedua orang suami istri dihadapannya itu dengan tatapan sedikit rasa ingin tahu.
"Bagus, anak manis! Perkenalkan namaku Misnah, panggil saja pak Misnah. Dan ini istriku, panggil saja Ibu Misnah." jelas laki-laki tua itu yang memperkenalkan dirinya.
"Saya Ar...Anin!" ucap Ara yang memperkenalkan dirinya dengan tak menyebutkan nama aslinya.
"Anin, nama yang cantik secantik orangnya." ucap ibu Misnah sembari mengulas senyumnya yang menatap Ara dengan penuh harap.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, karena hari sudah menjelang sore." ajak Pak Misnah.
"Iya, ayo nak Anin. Kamu sekarang tinggal bersama kita, jadi anggaplah kami ini sebagai orang tua kamu!" seru Ibu Misnah yang kemudian bangkit dari duduknya.
Demikian pula dengan Ara yang kemudian bangkit dari duduknya, ketiganya kemudian melangkahkan kaki meninggalkan pohon besar, yang jadi tempat pemujaan keluarga Misnah itu.
Ketiganya berhenti di samping sebuah mobil mewah, dan Ibu Misnah mengajak Ara untuk masuk ke dalam mobil itu.
Dan ketiganya telah masuk mobil dengan posisi Pak Misnah di depan kemudi, ibu Misnah dan Ara di belakang.
Dengan kecepatan sedang, pak Misnah mengendarai mobilnya menyusuri jalanan perkampungan untuk menuju ke rumahnya.
...~¥~...
...Mohon untuk readers bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...